POSKOTA.CO.ID - Puasa Ramadhan kerap dipahami sebatas menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Padahal, makna puasa jauh melampaui rasa lapar dan haus semata.
Ketika puasa hanya menghasilkan tubuh lemas tanpa perubahan sikap dan perilaku, bisa jadi esensi ibadah ini belum sepenuhnya terwujud.
Dalam ajaran Islam, puasa merupakan sarana pembinaan jiwa. Oleh karena itu, memahami tujuan puasa Ramadhan menjadi penting agar ibadah ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan tanpa makna mendalam.
Dilansir dari laman resmi rumahzakat pada Jumat, 6 Februari 2026. Berikut makna dan tujuan puasa ramadhan.
Baca Juga: Dalil Lengkap Kewajiban Puasa Ramadan Menurut Al-Qur’an dan Sunnah
Tujuan Puasa Ramadhan Menurut Al-Qur’an

Allah SWT secara tegas menyampaikan tujuan puasa dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa sasaran utama puasa Ramadhan adalah membentuk ketakwaan.
Takwa berarti kesadaran penuh untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik saat Ramadhan maupun setelahnya.
Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Ramadhan Lengkap Latin dan Arab
Puasa sebagai Sarana Pengendalian Hawa Nafsu
Puasa juga berfungsi sebagai latihan menahan diri. Selama berpuasa, seseorang belajar menahan keinginan terhadap hal-hal yang sebenarnya halal, seperti makan dan minum.
Jika perkara yang halal saja mampu dikendalikan, maka menjauhi perbuatan haram seharusnya menjadi lebih mudah. Inilah proses pendidikan spiritual yang terkandung dalam ibadah puasa.
Menanamkan Kejujuran dan Integritas Diri
Salah satu nilai penting dari puasa Ramadhan adalah kejujuran. Tidak ada pengawasan manusia yang memastikan seseorang benar-benar berpuasa, selain dirinya sendiri dan Allah SWT.
Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi membentuk integritas pribadi, menjadikan seorang Muslim tetap jujur dan berakhlak baik, baik di hadapan orang lain maupun saat sendirian.
Baca Juga: Baca Surat Yasin 3 Kali Saat Malam Nisfu Syaban untuk Apa Saja? Cek Jadwal dan Keutamaannya
Membentuk Kepedulian Sosial
Rasa lapar yang dialami saat berpuasa menjadi pengingat nyata tentang penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Dari sinilah tumbuh empati dan kepedulian sosial.
Tak heran jika Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Puasa yang dijalankan dengan benar seharusnya mendorong kepedulian terhadap sesama, bukan justru perilaku konsumtif berlebihan saat berbuka.
Membersihkan Hati dan Memperbaiki Akhlak
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa tidak bernilai jika tidak disertai perbaikan akhlak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bertujuan membersihkan hati, menjaga lisan, mengendalikan emosi, serta memperbaiki perilaku sehari-hari.
Baca Juga: Kapan Libur Awal Puasa 2026? Ini Prediksi Tanggal yang Sudah Beredar
Agar Puasa Ramadhan Tidak Menjadi Sia-sia
Agar puasa benar-benar mencapai tujuannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Menata niat dengan ikhlas sejak awal Ramadhan
- Menjaga lisan dan perbuatan dari maksiat
- Memperbanyak ibadah serta amal kebaikan
- Menjadikan puasa sebagai momen evaluasi dan introspeksi diri
Dengan cara ini, puasa tidak berhenti sebagai ritual fisik, tetapi menjadi proses pembentukan karakter yang berkelanjutan.
Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ibadah ini memiliki misi besar dalam membentuk ketakwaan, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Jika tujuan ini benar-benar dipahami, Ramadhan akan menjadi titik balik perubahan diri, bukan hanya rutinitas tahunan semata.
Mari jadikan puasa sebagai jalan menuju pribadi yang lebih baik, tidak hanya selama Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan setelahnya.