POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memetakan langkah penanganan secara bertahap dengan merencanakan pembangunan flyover Daan Mogot.
Jalan Daan Mogot selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling sibuk di wilayah Jabodetabek.
Ruas jalan ini menjadi penghubung utama antara Jakarta Barat dan Kota Tangerang, sekaligus menopang mobilitas harian ribuan kendaraan, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga transportasi logistik.
Kepadatan lalu lintas di Jalan Daan Mogot hampir tak terelakkan, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
Kemacetan panjang kerap terjadi dan berdampak pada terganggunya aktivitas warga.
Kondisi tersebut membuat wacana pembangunan flyover Daan Mogot kembali menjadi perhatian publik.
Lantas, kapan flyover Daan Mogot akan dibangun dan wilayah mana saja yang akan ditembus oleh jalur layang tersebut.
Baca Juga: Cek Titik Lokasi Operasi Keselamatan Lodaya 2026 Kota Bandung, Ini Daftar Pelanggaran yang Disasar
Flyover Daan Mogot Kapan Dibangun?
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Pramono memerintahkan jajarannya untuk memasang tiga pompa stasioner di kawasan rawan banjir tersebut.
Kebijakan ini diambil untuk mengatasi keterbatasan kapasitas pompa yang selama ini dinilai tidak memadai.
Sebelumnya, wilayah Daan Mogot KM 13 hanya dilengkapi pompa dengan kapasitas sekitar 1.000 liter per detik.
Kapasitas tersebut dianggap tidak cukup efektif ketika debit air meningkat dengan cepat.
Dengan pemasangan tiga pompa tambahan, kapasitas penanganan air meningkat signifikan hingga sekitar 7.000 liter per detik.
"Maka untuk itu, yang akan dilakukan penanganan jangka pendek adalah kami akan memasang pompa stasioner 3 di sini sekaligus. Yaitu di KM 13, 13A, dan 13B," ucapnya.
"Kami berharap dengan penanganan itu secara jangka pendek akan teratasi persoalan banjir yang ada di daan mogot KM 13 ini," sambungnya.
Pihaknya juga menyebut, sedang mempertimbangkan pembangunan flyover di kawasan Daan Mogot KM 13.
Flyover tersebut direncanakan memiliki panjang lebih dari dua kilometer dan diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengurangi dampak luapan Sungai Mookervart ke badan jalan.
Ia pun meminta, Dinas Bina Marga untuk menghitung ulang kebutuhan teknis serta desain flyover agar pembangunan benar-benar menjawab persoalan banjir dan kemacetan sekaligus.
"Untuk jangka menengah saya sedang memikirkan apakah memang diperlukan untuk membuat flyover di tempat ini. Yang panjangnya mungkin lebih dari 2 kilometer," tuturnya.
"Saya akan minta segera Dinas Binamarga untuk menghitung kembali flyover di tempat ini. Karena memang ada yang selalu saya sebut penyelesaian jangka pendek. Harus ada penyelesaian jangka menengah panjang. Kalau mau menengah panjang mau dibuat flyover,” sambungnya.
Selain flyover, Pramono juga menyinggung proyek pembangunan polder di kawasan Daan Mogot KM 13 yang belum rampung sejak dimulai pada 2022.
Proyek tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah besar yang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pramono menegaskan, penyelesaian proyek mangkrak menjadi salah satu fokus kerjanya.
Ia menargetkan, seluruh pekerjaan di kawasan tersebut, termasuk penataan wilayah, dapat diselesaikan secara bertahap hingga tuntas pada 2027.
"Sekaligus yang selalu di-tag ke saya adalah pembangunan yang tidak terselesaikan. Yang dimulai dari tahun 2022. Segera akan kami selesaikan, sekaligus menyelesaikan menata tempat di KM 13 ini," tandasnya.
Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN
Flyover Daan Mogot Tembus ke Mana?
Pembangunan flyover Daan Mogot dirancang sebagai solusi untuk mengurai kemacetan kronis yang selama bertahun-tahun membebani jalur utama tersebut.
Jalur layang ini diharapkan dapat memperlancar arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Tangerang maupun sebaliknya.
Secara fungsi, flyover akan mengurangi hambatan lalu lintas di titik-titik rawan macet, seperti pertemuan jalur arteri, persimpangan bersinyal, akses kawasan industri, serta area dengan intensitas keluar-masuk kendaraan yang tinggi.
Dengan adanya jalur layang, kendaraan jarak jauh tidak lagi harus terjebak di persimpangan sebidang yang selama ini menjadi sumber perlambatan.
Berdasarkan rencana yang beredar, flyover Daan Mogot diproyeksikan menghubungkan sejumlah wilayah strategis.
Jalurnya dirancang membentang dari kawasan Jakarta Barat, melewati sejumlah titik dengan aktivitas padat, hingga menembus wilayah perbatasan Kota Tangerang.
Salah satu kawasan yang akan terdampak langsung adalah area Daan Mogot Jakarta Barat.
Wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai simpul kemacetan karena berfungsi sebagai jalur utama transportasi logistik, kendaraan pribadi, serta angkutan umum lintas wilayah.
Keberadaan flyover diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dan meningkatkan efisiensi mobilitas warga.
Selain kemacetan, kawasan Daan Mogot juga kerap dilanda banjir.
Pramono mengungkapkan, penyebab utama banjir di Daan Mogot KM 13 adalah posisi permukaan jalan yang lebih rendah dibandingkan Sungai Mookervart.
Menurut Pramono, kondisi topografi tersebut membuat kawasan ini sangat rentan terendam air, bahkan saat hujan dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi.
"Jadi diapakan saja kalau kemudian hujan, curah hujan nggak perlu sampai dengan 200, 100 saja tempat ini pasti sudah banjir," jelasnya.