POSKOTA.CO.ID - Presenter Irfan Hakim, tengah menjadi perbincangan publik setelah cuplikan debatnya dengan pengacara kondang Hotman Paris viral di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, Irfan dinilai sebagian netizen membela sahabatnya, Denada yang terseret kasus dugaan penelantaran anak.
Kasus itu sendiri bermula dari pengakuan pria bernama Ressa Rizky Rossano yang mengklaim sebagai anak kandung Denada.
Selama 24 tahun, Denada diduga menyembunyikan identitas Ressa sebagai darah dagingnya.
Atas dugaan tersebut, Ressa resmi menggugat Denada ke pengadilan dalam kasus dugaan penelantaran anak. Nilai gugatan yang diajukan pun tidak main-main, yakni sebesar Rp7 miliar.
Di tengah ramainya pemberitaan itu, Irfan Hakim muncul dalam dialog dengan Hotman Paris di program FYP Trans 7 yang kemudian menjadi sorotan.
Lantas, benarkan Irfan Hakim membela Denada soal kasus penelantaran anak? Berikut awal mula debat Irfan Hakim dengan Hotman Paris.
Irfan Hakim Bela Denada?
Dalam perdebatan tersebut, Irfan Hakim menyoroti usia Ressa yang kini telah menginjak 24 tahun.
Menurut Irfan, usia tersebut sudah masuk kategori dewasa, sehingga ia mempertanyakan mengapa gugatan baru dilayangkan sekarang, bukan saat Ressa masih berstatus anak-anak.
"Anaknya kan sudah 24 tahun, kan hitungannya sudah bukan anak-anak lagi, sudah dewasa. Nah ketika anak-anak kenapa tidak diungkapnya dulu? kenapa baru sekarang?" tanya Irfan Hakim kepada Hotman dalam tayangan FYP Trans 7.
Menanggapi pertanyaan Irfan, Hotman Paris menjelaskan bahwa ada kemungkinan Ressa baru memiliki keberanian untuk bersuara setelah menginjak usia dewasa.
Faktor ekonomi, keterbatasan pengetahuan hukum, hingga tidak adanya pendampingan disebut bisa menjadi alasan mengapa kasus ini baru mencuat belakangan.
"Ya mungkin dia baru ada keberanian. Dia kan bukan ahli hukum. Saya dengar dia cuma kerja di warung kopi gaji Rp3 juta sebulan di Banyuwangi, ya mungkin dia baru ada yang menyarankan, itu boleh-boleh aja, tidak ada kadaluarsa istilahnya, belum," ujar Irfan.
Hotman juga menegaskan bahwa secara hukum, gugatan seperti ini masih memungkinkan untuk ditempuh, baik melalui jalur perdata maupun pidana.
"Dugaan bahwa seorang anak menggugat ibu kandungnya karena tidak kasih nafkah. Sebenarnya dia bisa menempuh dua jalur, perdata tapi bisa juga secara pidana loh," kata Hotman.
Diskusi kemudian berlanjut pada persoalan tanggung jawab orang tua. Irfan Hakim mempertanyakan mengapa gugatan hanya diarahkan kepada Denada, sementara sosok ayah biologis Ressa tidak banyak disorot dalam perkara ini.
"Mengenai Denada itu, banyak yang ngomong kok nuntutnya ke ibunya, kan yang tanggung jawab atas kehidupan anak tuh sebenarnya bapak," jelasnya.
Klarifikasi Irfan Hakim
Seiring berkembangnya asumsi liar di media sosial, Irfan Hakim akhirnya angkat bicara.
Lewat unggahan di Instagram, ia mengakui adanya kekecewaan publik terhadap dirinya akibat anggapan bahwa ia membela Denada.
Padahal, menurut Irfan, dirinya justru menjadi korban framing yang memotong konteks pernyataannya.
Ia menegaskan, publik mencampuradukkan beberapa momen berbeda sehingga memunculkan kesalahpahaman.
"Gue tahu lu semua kecewa, kesannya gue menormalisasikan tentang hubungan anak ibu yang tidak jelas, kemudian gue mendukung hal itu. Itu kenapa bisa muncul karena ada framing antara podcast di Densu dengan tugas gue di acara FYP Trans 7 wawancara Hotman Paris, itu tidak sesuai kenyataan," ungkap dia melalui akun Instagram pribadinya @irfanhakim75 yang dikutip pada Jumat, 30 Januari 2026.
Dalam klarifikasinya, Irfan Hakim juga membeberkan kronologi waktu dirinya pertama kali mengomentari kasus Denada.
Dia menyebut, peristiwa tersebut terjadi pada 20 Januari 2026, saat informasi dari kedua belah pihak belum sepenuhnya terbuka ke publik.
"Itu terjadi tanggal 20 Januari, saat itu gue harus wawancara bang Hotman Paris live, tapi karena macet gue wawancara lewat zoom meeting dari jalan. Saat itu di tanggal 20 Januari belum ada statement jelas dari kedua belah pihak. Ada dari pihak Ressa tapi belum sepanjang di podcast Denny Sumargo," ujar Irfan.
Lebih lanjut, kata Irfan, kondisi itulah yang membuat pernyataannya kala itu belum bisa mencerminkan keseluruhan fakta yang kemudian berkembang.
Kemudian, Irfan Hakim menegaskan bahwa dirinya tidak berpihak kepada Denada maupun Ressa.
Pihaknya mengaku, hanya berada pada posisi mendengarkan kedua belah pihak dan menghormati hak masing-masing untuk bersuara.
"Katanya gue merangkul Denada, melindungi. Hampir sebagian besar orang hanya mendengarkan hanya dari satu pihak saja. Mungkin gue diberikan kesempatan mendengarkan dari dua belah pihak. Gue melihat pengakuan dari podcast itu, gue juga mendengarkan cerita dari pihak Denada, yang belum bisa disebarluaskan. Saya tidak berpihak ke pihak manapun. Karena menurut saya apa yang disampaikan Denada apa yang disampaikan Ressa itu hak mereka untuk bersuara," ujar Irfan.