POSKOTA.CO.ID - Kemajuan teknologi finansial membawa berbagai inovasi, salah satunya fitur Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih akrab disebut paylater.
Dalam beberapa tahun terakhir, layanan ini menjadi tren di kalangan Generasi Z karena kemudahan akses dan proses pengajuan yang praktis. Integrasinya dengan berbagai platform e-commerce juga membuat transaksi menjadi cepat dan tanpa hambatan.
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat sisi lain yang perlu dicermati. Paylater sering disebut sebagai “pisau bermata dua”, karena bisa membantu pengguna mengatur cash flow, namun sekaligus berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam jeratan utang konsumtif.
Hal ini menunjukkan bahwa edukasi literasi finansial menjadi faktor penting di tengah meningkatnya popularitas paylater.
Baca Juga: Tabel KUR BRI 2026: Simulasi Pinjaman Rp10 Juta Tenor 60 Bulan, Ini Syarat Pencairan Terbarunya
Risiko Tersembunyi Dari Bunga Majemuk hingga Skor Kredit SLIK
BNPL menawarkan persyaratan ringan dan proses verifikasi yang cepat. Fitur ini menjadi favorit kaum muda yang ingin membeli barang tanpa harus menunggu gajian. Namun, banyak yang tidak menyadari risiko finansial yang menyertainya.
1. Bunga Majemuk dan Denda Keterlambatan
Sebagian layanan paylater menerapkan bunga efektif yang jika tidak teliti, dapat menyebabkan akumulasi yang signifikan. Belum lagi denda keterlambatan yang kerap membuat tagihan membengkak.
Dalam wawancara edukasi publik, salah satu pejabat OJK menyatakan, “Pengguna harus memahami total biaya yang timbul, bukan hanya nominal cicilan per bulan.”
2. Dampak pada Skor Kredit SLIK OJK
Keterlambatan pembayaran paylater akan tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Catatan buruk ini berpotensi menghambat pengguna saat mengajukan fasilitas kredit lain, termasuk KPR, KKB, atau pinjaman modal.
3. Konsumsi Impulsif karena FOMO
Generasi Z dikenal sebagai digital native yang rentan terhadap fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Banyak dari mereka menggunakan paylater untuk mengikuti tren gaya hidup, diskon musiman, dan perilaku konsumsi spontan.
Baca Juga: Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Plafon Rp10–50 Juta, Ini Hitungan Cicilan hingga Tenor 5 Tahun
Strategi Mengatur Paylater secara Bijak
Agar tidak terjebak dalam risiko yang merugikan, berikut strategi keuangan sehat yang dapat diterapkan oleh anak muda:
1. Menentukan Prioritas dan Kapasitas Finansial
Sebelum memutuskan menggunakan paylater, penting untuk menilai apakah barang yang dibeli benar-benar merupakan kebutuhan. Prinsip finansial yang umum digunakan adalah batas maksimal cicilan 30 persen dari pendapatan bulanan.
Seorang konsultan keuangan menjelaskan, “Jangan mengambil cicilan baru ketika rasio total cicilan sudah mendekati 30 persen. Itu akan mengganggu arus kas dan memicu stres finansial.”
2. Mencermati Syarat dan Ketentuan
Banyak pengguna terjebak karena tidak membaca detail mengenai bunga, biaya administrasi, dan denda. Transparansi terhadap biaya tambahan adalah kunci untuk mencegah tagihan menjadi tidak terkendali.
Rekomendasinya adalah membaca seluruh syarat dan ketentuan sebelum mengaktifkan limit paylater, serta memahami simulasi total pembayaran.
3. Menggunakan Paylater untuk Kebutuhan Produktif
Paylater sebaiknya digunakan untuk pembelian yang memberikan nilai tambah, seperti perangkat kerja, kebutuhan pendidikan, atau kondisi darurat.
4. Evaluasi Keuangan Secara Rutin
Mencatat transaksi dan memantau total cicilan adalah langkah penting. Dengan melakukan evaluasi mingguan atau bulanan, pengguna dapat mengetahui apakah penggunaan paylater masih aman atau sudah membebani arus kas.
Jika beban cicilan mulai mendominasi pengeluaran, hentikan penggunaan paylater dan lakukan penyesuaian budget.
Paylater telah menjadi bagian dari gaya hidup digital Gen Z karena kemudahan dan kepraktisannya. Namun, tanpa kontrol dan pemahaman finansial yang baik, fitur ini dapat menimbulkan risiko jangka panjang, termasuk jeratan utang dan penurunan skor kredit di SLIK OJK.
Dengan menentukan prioritas, memahami syarat layanan, menggunakan paylater secara produktif, serta rutin mengevaluasi kondisi finansial, Generasi Z dapat memanfaatkan paylater secara bijak dan bertanggung jawab.