DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Lonjakan harga daging sapi di pasaran hinga Rp150 ribu per kilogram membuat para pedagang di Jabodetabek melakukan mogok berjualan. Sementara itu di Depok, sejumlah rumah pemotongan hewan (RPH) ikut menutup aktivitasnya.
Berdasarkan pantauan Poskota di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang ada di Curug, Bojongsari (RPH Curug Berkah), termasuk RPH Jagal CV Puput Bersaudara di daerah Pancoran Mas, tidak ada tanda-tanda kegiatan produksi yang dilakukan.
Tak hanya RPH yang ikut tutup, para pedagang di Pasar Reni Jaya Lama yang masih berjualan mengaku hanya menghabiskan stok daging sapi yang tersisa.
Baca Juga: Polisi Pastikan Situasi Demo Sopir Angkot Berjalan Kondusif dan Lalu Lintas Lancar
Pedagang Daging Sapi di Depok Habiskan Stok Tersisa di Freezer
Salah satu pedagang daging sapi, Uus, 30 tahun menyebut bahwa aksi mogok berjualan dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan para pedagang karena lonjakan harga.
"Sebagai bentuk solidaritas keprihatinan para pedagang tinggi harga daging saat ini mencapai Rp 150 ribu. Untuk kami tetap berjualan menghabiskan sisa-sisa dari dalam frezer saja," ujar Uus, Kamis, 22 Januari 2026.
Uus menyebut kenaikan harga daging yang kini mencapai Rp150 ribu per kilogram jelang bulan Ramadan, membuatnya harus mengurangi stok dari tempat jagal hingga 50 persen.
"Biasa jual daging Rp 110 ribu sd Rp 120 ribu per kilonya. Kini sudah tembus mencapai Rp 150 ribuan. Otomatif jika kami mau mengambil daging di tempat Jagal RPH yang biasa 50 Kilo, kini dikurangani hanya mampu beli mencapai 25 Kilogram saja," ungkapnya.
Baca Juga: Kapolda Jabar Sebut 11 Penambang Ilegal Tewas di Area Tambang PT Antam
Selain itu, menurutnya kenaikan harga tersebut juga berdampak langsung kepada penjualan, dimana minat para pembeli jadi berkurang.
"Kenaikan harta daging sapi ini justru tidak hanya memberatkan beban para pedagang saja, tapi juga minat untuk membeli dari konsumen otomatis malah turun drastis," kata dia.
Uus menilai lonjakan harga daging yang terjadi juga ikut dipengaruhi kurs rupiah terhadap dolar. Hal ini karena daging yang biasa dijual berasal dari sapi impor asal Australia.
"Kenaikan kurs mata uang dolar sangat mempengaruhi harga jual skala nasional. Karena rata-rata daging sapi yang dijual di pasar-pasar khususnya para pedagang daging sapi di Pasar Reni Jaya Lama, mempergunakan daging sapi import dari Australia. Jika penggunaan sapi lokasi masih kurang baik," ujarnya.
“Kalau tidak berjualan sayang, ini tinggal menghabiskan stok sisa daging dari frezer saja yang dijual setelah itu kami akan istirahat," tuturnya.
Akibat Lonjakan Harga, Pembeli Cari Alternatif Daging
Kenaikan harga daging sapi membuat minat pembeli berkurang. Salah satu pembeli di Pasar Reni Jaya Lama, Nita, mengaku karena daging sapi mahal, jadi beralih ke jenis daging lain.
"Kaget saat belanja daging sapi abang-abangnya bilang per kilo Rp150 ribu, liar sekali harganya tidak kira sampai setinggi ini," ujar Nita saat sedang membeli daging.
Nita juga mengungkapkan, lonjakan harga ini membuatnya harus menambah uang belanjaan jika tetap ingin membeli daging sapi.
"Yang biasa setiap belanja Rp 100 ribu sudah cukup dapat makan daging, ini paling tidak naikkan menjadi Rp 200 Ribu baru dapat kebeli makan daging," ucapnya.
Menurutnya kenaikan harga daging sapi ini memberatkan pembeli dan berharap pemerintah bisa berupaya untuk menstabilkannya kembali.
"Paling tidak ada upaya dari pemerintah dalam menstabilkan harga bahan kebutuhan pokok seperti daging Sapi tetap stabil. Mungkin dari pemerintahan dapat melakukan operasi pasar," katanya.
Lebih lanjut, Poskota mencoba mengonfirmasi langsung Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota (DKP3), Dadan Rustandi terkait langkah penanganan lonjakan harga daging sapi ini. Namun ketika coba dihubungi, tidak ada jawaban baik itu melalui telpon maupun pesan singkat WhatsApp. (ang)