POSKOTA.CO.ID - Nama Pandji Pragiwaksono bukan sosok asing di industri hiburan Tanah Air. Mengawali karier sebagai penyiar radio pada awal 2000-an, Pandji kemudian menjelma menjadi salah satu komika paling berpengaruh di Indonesia.
Tak hanya dikenal lewat penampilannya di atas panggung, Pandji juga memiliki peran penting dalam perkembangan stand up comedy Indonesia.
Ia menjadi salah satu tokoh yang turut merintis komunitas Stand Up Indo bersama sejumlah nama besar seperti Ernest Prakasa, Raditya Dika, Isman HS, dan Ryan Adriandhy.
Kontribusinya tersebut menjadikan Pandji sebagai figur sentral dalam perjalanan stand up comedy modern di Tanah Air. Namun, publik dibuat terkejut ketika Pandji Pragiwaksono memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Amerika Serikat bersama keluarganya sejak 2021.
Baca Juga: Mens Rea Jadi Pemantik, Pandji Pragiwaksono vs Raditya Dika Picu Perang Opini Netizen
Keputusan besar ini pun memicu rasa penasaran, terutama mengenai alasan di balik langkah Pandji memilih melanjutkan hidup dan kariernya di luar negeri.
Alasan Pandji Pragiwaksono Pindah ke Amerika Serikat
Pandji Pragiwaksono mengungkapkan bahwa kepindahannya ke Amerika Serikat bukan tanpa tujuan. Ia ingin menantang dirinya sendiri dengan merintis karier sebagai komika di New York, kota yang kerap disebut sebagai pusat stand up comedy dunia.
Pandji mengibaratkan, komika yang ingin berkarier di New York sama seperti pesepak bola yang bercita-cita bermain di Liga Inggris. Menurutnya, New York adalah tempat terbaik untuk menguji kualitas seorang komika karena tingkat persaingan yang sangat tinggi.
Selain itu, Pandji juga memiliki ambisi menjadi komika pertama asal Indonesia yang bisa menembus panggung stand up comedy di kota tersebut. Ia berharap langkah yang diambilnya bisa membuka jalan bagi komika Indonesia lain untuk berani tampil di level internasional.
Harus Mengulang Karier dari Nol di New York
Meski namanya sudah besar di Indonesia, Pandji menyadari status tersebut tidak banyak berarti ketika ia berada di New York. Di sana, ia harus memulai segalanya dari awal, tampil dari satu kafe ke kafe lain, hingga naik ke panggung kecil di bar-bar lokal.
Proses tersebut menuntut banyak penyesuaian, mulai dari penggunaan bahasa Inggris hingga perbedaan budaya yang memengaruhi materi komedi.
Pandji mengakui bahwa meski ia cukup fasih berbahasa Inggris, tetap ada tantangan tersendiri dalam menyusun dan menyampaikan lelucon agar bisa diterima penonton.
Perbedaan selera humor menjadi salah satu tantangan terberat. Jika penonton Indonesia cenderung menikmati cerita panjang sebelum punch line, penonton New York lebih menyukai joke yang singkat dan langsung mengena. Hal itu memaksa Pandji untuk menyesuaikan gaya komedinya agar tetap relevan.
Baca Juga: Ratusan Demonstran Desak Polda Metro Jaya Usut Pandji Pragiwaksono Soal Dugaan Penghinaan Agama
Sempat Merasa Tidak Betah Tinggal di Amerika
Di balik ambisi kariernya, Pandji Pragiwaksono juga sempat mengaku tidak betah tinggal di Amerika Serikat. Ia secara terbuka menyampaikan bahwa lingkungan di New York meninggalkan kesan kurang nyaman bagi dirinya dan keluarga.
Pandji menyoroti kondisi kota yang menurutnya kumuh dan semrawut, termasuk banyaknya gelandangan serta orang dengan gangguan jiwa yang berkeliaran bebas. Situasi tersebut membuatnya merasa kurang aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia bahkan sempat membandingkan kondisi tersebut dengan fasilitas publik di Indonesia melalui unggahan di media sosialnya. Rasa tidak nyaman itu ternyata juga dirasakan oleh keluarganya, terutama kedua anaknya yang mengaku tidak betah bersekolah dan tinggal di Amerika.
Baca Juga: Mengenal Rizki Abdul Rahman Wahid, Aktivis PMII Pelapor Pandji yang Kini Tempuh Jalur Damai
Tetap Mendapat Pengalaman Berharga
Meski sempat merasa tidak betah, Pandji menegaskan pengalamannya di Amerika Serikat tidak sepenuhnya buruk. Selama berada di New York, ia justru mendapatkan kesempatan tampil stand up comedy lebih sering, sesuatu yang sangat berharga untuk perkembangan kariernya.
Selain itu, Pandji juga mengakui ada beberapa hal positif dari kota tersebut, seperti pemandangan langit yang lebih terbuka serta sistem transportasi publik yang terintegrasi, meski menurutnya belum sepenuhnya ideal.
Keputusan Pandji Pragiwaksono pindah ke Amerika Serikat pun menjadi bukti bahwa tantangan dan ketidaknyamanan bisa menjadi bagian dari proses mengejar mimpi yang lebih besar, terutama bagi mereka yang ingin menembus panggung internasional.