POSKOTA.CO.ID - Kia mulai menata ulang strategi bisnisnya di Indonesia setelah kembali berada di bawah kendali langsung prinsipal. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah memanfaatkan fasilitas produksi milik Hyundai di Greenland International Industrial Center (GIIC), Cikarang, Jawa Barat.
Langkah ini dipandang sebagai upaya percepatan penetrasi pasar sekaligus strategi jangka menengah untuk memperkuat posisi Kia di industri otomotif nasional melalui lokalisasi produksi.
Chief Executive Operation Kia Sales Indonesia, Jong Sung Park mengungkapkan bahwa pabrik Hyundai akan memegang peranan penting dalam mendukung rencana Kia ke depan, khususnya untuk pengembangan produk berjenis MPV.
“Ya, kami akan menggunakan pabrik Hyundai. Fasilitas tersebut sangat berguna bagi kami,” ujar Park.
Menurut Park, terdapat dua model MPV yang masuk dalam rencana produksi. Model pertama adalah MPV listrik murni (battery electric vehicle/BEV) yang ditargetkan mulai diproduksi pada akhir 2026 dan dipasarkan pada awal 2027. Sementara model kedua adalah MPV 7-penumpang bermesin konvensional (ICE).
“Sejauh ini, kami memiliki dua model MPV yang akan diproduksi di pabrik Hyundai. Pertama MPV EV, kemudian MPV 7-seater dengan mesin konvensional,” kata Park.
Sinergi dengan Hyundai Motor Group

Pemanfaatan fasilitas Hyundai bukan tanpa alasan. Kia dan Hyundai berada dalam satu payung industri global, Hyundai Motor Group yang memungkinkan kolaborasi dalam penggunaan teknologi, platform, hingga infrastruktur manufaktur.
Skema serupa sebelumnya telah diterapkan di sejumlah negara seperti Thailand dan Malaysia, di mana Kia tetap beroperasi sebagai merek independen, namun memanfaatkan fasilitas produksi milik Hyundai untuk efisiensi dan percepatan pasar.
Managing Director Kia Sales Indonesia, Bayu Riyanto menambahkan bahwa salah satu model MPV yang akan dirakit di dalam negeri memang dirancang dengan mempertimbangkan karakter konsumen Indonesia.
Pasar Tanah Air dinilai masih memiliki minat tinggi terhadap kendaraan keluarga berkapasitas tujuh penumpang, sehingga segmen MPV tetap menjadi fokus utama.
“Kami masih mengkalkulasi dan melihat perkembangan pasar. Untuk sekarang masih bersifat rahasia. Yang pasti MPV elektrik lebih dulu, lalu disusul MPV konvensional,” ujar Bayu.
Selain untuk pasar domestik, Bayu membuka peluang bahwa model hasil perakitan lokal tersebut nantinya juga dapat diekspor ke negara lain, bergantung pada perkembangan pasar dan kesiapan produksi.
Langkah ini sekaligus menandai fase baru perjalanan Kia di Indonesia, tidak hanya dari sisi manajemen, tetapi juga kesiapan produk dan manufaktur untuk bersaing di tengah dinamika pasar otomotif nasional.