Pandji Pragiwaksono saat tampil Mens Rea yang menuai sorotan setelah menyinggung kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tompi menilai kondisi tersebut merupakan ptosis, bukan sekadar tampilan “ngantuk”. (Sumber: Instagram)

HIBURAN

Tompi Bela Gibran dari Candaan Pandji 'Mata Ngantuk': Ptosis Bukan Bahan Lelucon

Selasa 06 Jan 2026, 13:11 WIB

POSKOTA.CO.ID - Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, dr. Teuku Adifitrian atau Tompi, angkat suara merespons materi stand-up comedy Mens Rea milik komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang terlihat sayu atau “ngantuk” bukanlah persoalan estetika semata, melainkan dapat berkaitan dengan kondisi medis bernama ptosis.

Pernyataan Tompi ini muncul setelah cuplikan materi Pandji beredar luas di media sosial. Dalam pertunjukan stand-up yang ditayangkan di Netflix tersebut, Pandji menyampaikan kritik sosial tentang kecenderungan pemilih menilai pemimpin berdasarkan penampilan fisik.

Salah satu bagian materi itu menyebut mata Gibran yang tampak “ngantuk”, disampaikan dengan gaya khas komedi observasional.

Meski disampaikan dalam konteks humor, Tompi menilai bahwa candaan yang menyasar kondisi fisik berpotensi mengaburkan batas antara kritik dan olok-olok. Melalui akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, ia menyampaikan penjelasan medis sekaligus pesan etis.

“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, Senin, 4 Januari 2026.

Baca Juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 6 Januari 2026 Naik Rp27.000 per Gram di Jakarta

Kritik Tanpa Menafikan Apresiasi

Menariknya, Tompi tidak sepenuhnya menolak karya Pandji. Ia mengaku telah menonton keseluruhan special show Mens Rea dan menilai banyak materi yang relevan serta bernilai kritik sosial. Sikap ini menunjukkan upaya Tompi memisahkan antara apresiasi terhadap kebebasan berekspresi dan kepedulian terhadap isu kesehatan.

“Btw, saya nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benarnya,” ujar Tompi.

Pernyataan tersebut memberi pesan bahwa kritik tetap dapat disampaikan tanpa harus menyinggung kondisi fisik seseorang, terlebih jika berkaitan dengan aspek medis yang tidak berada dalam kendali individu.

Disorot Warganet, Tompi Disebut “Ternak Mulyono”

Respons Tompi justru memantik reaksi lanjutan dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial menudingnya sebagai “Termul” atau Ternak Mulyono, istilah bernada sinis yang kerap dialamatkan kepada pihak yang dianggap membela keluarga Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

"Sepanjang itu durasinya, yg lu bahas cuma bagian "ngantuk" nya? .. Damn" ujar @rai***

"Menurut keyakinan saya bentar lg jd stafsus perkulitan nih" ujar @riz***

"Aku ngerti maksud panji "ngantuk" tuh karena terlihat jelas "KOSONG" dan plenga plongo" ujar @r_ha***

Alih-alih menanggapi serius tudingan tersebut, Tompi memilih merespons dengan humor. Beberapa hari kemudian, ia mengunggah foto kebersamaannya dengan Gibran Rakabuming Raka, Melaney Ricardo, dan Iko Uwais. Dalam caption unggahan itu, Tompi menyelipkan candaan ringan.

“Komisaris atau Dirut Pertamina ya? Coba cocoknya apa @melaney_ricardo,” tulisnya.

Unggahan tersebut dinilai sebagai cara Tompi meredam ketegangan dengan pendekatan santai, sekaligus menegaskan bahwa sikapnya berangkat dari sudut pandang profesional, bukan kepentingan politik.

Baca Juga: 1.060 Personel Dikerahkan Kawal Aksi Demo Buruh di Monas Hari Ini

Apa Itu Ptosis? Penjelasan Medis

Secara medis, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas terkulai, baik ringan maupun berat hingga menutupi sebagian pupil. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada otot levator, yaitu otot yang berfungsi mengangkat kelopak mata.

Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), ptosis dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa dan bersifat kongenital (bawaan) atau didapat.

Pada anak-anak, ptosis kongenital biasanya disebabkan oleh kelainan perkembangan otot levator. Gejalanya antara lain kelopak mata tidak sejajar dan kebiasaan mendongakkan kepala atau mengangkat alis untuk memperbaiki penglihatan.

Sementara pada orang dewasa, ptosis involusional kerap terjadi akibat penuaan, cedera mata, atau efek samping prosedur medis tertentu. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi penglihatan dan kepercayaan diri penderitanya.

Bisakah Ptosis Diobati?

Mengutip Cleveland Clinic, penanganan ptosis bergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Jika tidak mengganggu penglihatan atau penampilan, perawatan khusus mungkin tidak diperlukan. Namun, bila menimbulkan gangguan, tersedia beberapa opsi medis.

Operasi ptosis umumnya dilakukan dengan anestesi lokal dan bertujuan mengembalikan fungsi serta estetika kelopak mata.

Tags:
mata ngantukptosisMens ReaPandji PragiwaksonoGibran Rakabuming Raka Tompi

Yusuf Sidiq Khoiruman

Reporter

Yusuf Sidiq Khoiruman

Editor