TANJUNG PRIOK, POSKOTA.CO.ID - Misteri kematian satu keluarga yang ditemukan tewas di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat, 2 Januari 2025 masih belum terungkap.
Sampai saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik (labfor) untuk memastikan penyebab kematian para korban.
“Untuk sementara kita masih menunggu hasil dari labfor. Soal berapa lama kematiannya juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratoris,” ujar Kasat Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar saat dikonfirmasi Poskota pada Senin, 5 Januari 2026.
Menurut Onkoseno, proses penyelidikan masih terus berjalan dengan memperdalam keterangan para saksi. Penyidik telah memeriksa sedikitnya 10 orang saksi, termasuk anak pertama korban yang pertama kali menemukan kondisi keluarganya.
Baca Juga: Kematian Sekeluarga di Warakas Tanjung Priok Masih Misterius
Namun anak pertama korban tersebut tidak setiap hari tinggal bersama para korban
“Sudah 10 orang saksi yang kita periksa, termasuk anak pertama yang menemukan,” ungkap Onkoseno.
Polisi Dalami Penyebab dan Menanti Hasil Labfor

Pihak kepolisian terus menyelidiki kasus ini, hingga menaruh perhatian terhadap sisa makanan yang ada di tempat kejadian perkara (TKP).
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan keracunan sebagai salah satu penyebab kematian.
Baca Juga: Usai Diautopsi, Tiga Jenazah Satu Keluarga di Warakas Dimakamkan
“Kita mendalami sisa makanan dan minuman yang ada di TKP,” ucap Onkoseno.
Selain itu Onkoseno juga memastikan bahwa uji toksikologi juga dilakukan terhadap barang-barang yang ditemukan di tempat kejadian perkara.
Namun memang hingga saat ini, penyidik masih menunggu seluruh hasil pemeriksaan forensik guna mendapatkan titik terang atas penyebab tewasnya satu keluarga tersebut.
"Penyidikan akan terus dikembangkan seiring dengan keluarnya hasil laboratorium dan pendalaman keterangan saksi-saksi," kata Onkoseno.
Sebagai tambahan informasi, kejadian ini pertama kali diketahui oleh anak pertama yang tidak setiap hari tinggal bersama korban.
Anak pertama tersebut kerap berada di tempat kerjanya, sementara keluarganya baru sekitar lima bulan menempati rumah kontrakan.
Onkoseno menjelaskan alasan korban kembali ke rumah hingga menemukan keluarganya sudah tewas, karena sudah sesuai jadwal pulang.
“Memang jadwal pulang ke rumah. Dari yang kita dengar, komunikasinya baik-baik saja,” tutur Onkoseno.
Meski demikian, kata Ongkoseno pihaknya belum bisa memastikan apakah terdapat kecurigaan tertentu dari anak korban terkait kematian keluarganya. Hal tersebut masih dalam pendalaman penyidik.
“Belum bisa kita pastikan, masih kita dalami,” kata Ongkoseno.