Harga emas antam terbaru hari ini. (Sumber: Antam)

EKONOMI

Tren Investasi 2025: Membeli Emas lewat Pinjol, Strategi Cerdas atau Jalan Pintas Berbahaya?

Sabtu 30 Agu 2025, 09:30 WIB

POSKOTA.CO.ID - Emas, sejak dulu, dikenal sebagai simbol kekayaan dan perlindungan nilai. Dalam konteks ekonomi modern, emas Antam menempati posisi penting sebagai instrumen investasi jangka panjang yang relatif aman dari inflasi.

Tidak heran jika semakin banyak masyarakat, mulai dari pekerja kantoran hingga pelaku UMKM, melirik emas Antam sebagai sarana menabung sekaligus berinvestasi.

Namun, di balik tren positif ini, muncul gejala baru yang cukup mengkhawatirkan: banyak orang membeli emas menggunakan pinjaman online (pinjol) atau layanan paylater.

Sekilas tampak cerdas karena bisa “mengunci harga” emas sebelum naik lebih tinggi, tetapi apakah benar keputusan tersebut sehat dari sisi finansial?

Baca Juga: Berapa Harga Emas Antam pada Sabtu, 30 Agustus 2025?

Mengapa Investasi Emas Antam dengan Pinjaman Online Jadi Tren?

1. Akses Mudah dan Cepat

Layanan pinjol dan paylater kini sudah terintegrasi dengan berbagai platform e-commerce. Pembelian emas Antam pun dapat dilakukan dengan cicilan tanpa kartu kredit, bahkan hanya melalui aplikasi ponsel. Akses yang mudah ini membuat siapa saja bisa memiliki emas, meski belum memiliki dana tunai cukup.

2. Harga Emas yang Terus Merangkak Naik

Kekhawatiran harga emas yang terus meningkat mendorong masyarakat bertindak cepat. “Lebih baik cicil sekarang daripada menyesal nanti,” begitu narasi yang banyak berkembang. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) ini membuat orang terdorong membeli emas dengan skema cicilan meski tanpa pertimbangan matang.

3. Rendahnya Literasi Keuangan

Banyak investor pemula belum memahami prinsip dasar investasi. Padahal, aturan umum keuangan menyebutkan bahwa investasi seharusnya menggunakan surplus penghasilan, bukan utang. Sayangnya, keterbatasan literasi membuat sebagian orang nekat mengambil pinjaman demi membeli emas, tanpa memikirkan risiko jangka panjang.

Risiko Membeli Emas dengan Pinjaman Online

1. Bunga dan Biaya Tambahan

Sekilas, cicilan nol persen terdengar menguntungkan. Namun, tidak semua promo berlaku selamanya, dan sering kali terdapat biaya administrasi tambahan. Akibatnya, harga emas yang dibeli justru lebih mahal daripada nilai pasar aslinya.

2. Fluktuasi Harga Emas

Meskipun emas dikenal stabil dalam jangka panjang, tetap ada periode ketika harga turun. Jika seseorang masih mencicil saat harga turun, kerugian bisa berlipat karena nilai aset berkurang sementara cicilan tetap harus dibayar penuh.

3. Beban Finansial Bulanan

Tambahan cicilan bulanan dapat mengganggu arus kas rumah tangga. Misalnya, pekerja yang gajinya pas-pasan akan merasa terbebani, apalagi jika terjadi kebutuhan mendadak seperti biaya kesehatan atau pendidikan anak.

4. Risiko Gagal Bayar dan BI Checking

Gagal membayar cicilan pinjaman dapat berdampak serius: nama tercatat di sistem BI Checking atau SLIK OJK. Dampaknya, seseorang akan kesulitan mengajukan kredit rumah, kendaraan, atau bahkan produk perbankan di masa depan.

Tekanan Sosial dan FOMO

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari faktor psikologis dan sosial. Banyak orang membeli emas bukan semata-mata karena kebutuhan investasi, tetapi karena dorongan untuk tidak kalah dengan teman atau lingkungan. Media sosial juga memperparah kondisi ini, menampilkan kisah sukses orang lain sehingga menimbulkan rasa takut tertinggal.

Sebagai manusia, wajar jika ingin cepat memiliki aset dan merasa aman secara finansial. Namun, keputusan yang diambil karena emosi dan tekanan sosial sering kali berakhir pada penyesalan. Perspektif ini penting investasi bukan sekadar tentang angka, tetapi juga tentang kestabilan mental dan keberlanjutan hidup.

Alternatif Bijak: Investasi Emas Tanpa Utang

Gunakan Penghasilan Pribadi

Investasi paling sehat adalah yang bersumber dari kelebihan pendapatan, bukan dari utang. Jika gaji bulanan terbatas, strategi terbaik adalah menabung secara rutin dalam jumlah kecil hingga cukup untuk membeli emas.

Manfaatkan Earned Wage Access (EWA)

Salah satu solusi modern yang kini tersedia adalah Earned Wage Access (EWA) atau akses gaji fleksibel. Melalui layanan seperti GajiGesa, pekerja bisa menarik sebagian gaji yang sudah mereka hasilkan sebelum tanggal gajian.

Keuntungan EWA antara lain:

Dengan cara ini, pembelian emas tetap bisa dilakukan tanpa menambah tekanan finansial.

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini Sabtu 30 Agustus 2025: Semua Merk Melambung Tinggi

Investasi Emas Antam yang Sehat: Prinsip Utama

  1. Bangun dana darurat terlebih dahulu. Sebelum membeli emas, pastikan sudah ada tabungan untuk kebutuhan tak terduga.
  2. Gunakan uang dingin. Investasi sebaiknya berasal dari dana yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
  3. Beli bertahap. Tidak perlu langsung membeli dalam jumlah besar. Strategi dollar-cost averaging bisa diterapkan dengan membeli emas sedikit demi sedikit secara rutin.
  4. Pilih sumber resmi. Selalu beli emas Antam di butik resmi atau mitra terpercaya untuk memastikan keaslian dan mendapatkan sertifikat.
  5. Jangan terjebak tren sesaat. Ingat bahwa tujuan investasi adalah jangka panjang, bukan sekadar ikut-ikutan.

Investasi emas Antam memang merupakan pilihan cerdas untuk melindungi nilai kekayaan dalam jangka panjang. Namun, cara yang ditempuh sama pentingnya dengan tujuan.

Membeli emas dengan pinjaman online mungkin terlihat praktis, tetapi risiko yang tersembunyi sering kali lebih besar daripada keuntungannya.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan penghasilan pribadi dan layanan inovatif seperti Earned Wage Access, masyarakat bisa tetap berinvestasi emas tanpa menambah beban utang.

Pesan pentingnya: jangan biarkan kilau emas membutakan mata hingga lupa pada logika finansial. Investasi terbaik bukan hanya yang menguntungkan secara angka, tetapi juga yang menenangkan pikiran dan menjaga keberlanjutan hidup.

Tags:
alternatif investasi tanpa utanginvestasi emas bijakrisiko beli emas cicilanpinjaman online untuk emasinvestasi emas Antam

Yusuf Sidiq Khoiruman

Reporter

Yusuf Sidiq Khoiruman

Editor