POSKOTA.CO.ID - Hari Raya Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan bagi umat Muslim, namun rupanya hari besar ini juga disebut dengan kata Lebaran oleh warga Indonesia.
Bukan tanpa arti, rupanya kata Lebaran memiliki makna mendalam yang mungkin hingga saat ini tak banyak orang tahu.
Padahal kata Lebaran identik dengan warga Muslim di Tanah Air dengan tradisi dan keunikannya yang masih dipertahankan sampai saat ini.
Baca Juga: Jumlah Penumpang di Terminal Jakarta Bertambah 57 Persen jelang Lebaran
Dikutip dari YouTube Kirasave Agung, berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai asal-usul kata Lebaran dan maknanya yang mendalam.
Asal-Usul Kata Lebaran
Setiap kali tiba Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia sering kali menyebutnya dengan istilah "Hari Raya Lebaran".
Konon, kata "Lebaran" ini dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu wali dari Wali Songo yang terkenal di Pulau Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah ini bersama dengan ketupat, yang dianggap sebagai simbol penting dalam perayaan Lebaran.
Baca Juga: 4 Tips Hemat Belanja Online Jelang Lebaran Tanpa Takut Saldo Rekening Jebol
1. Makna Ketupat Lebaran
Ketupat adalah singkatan dari kata "laku papat." Kata "laku" berarti payu (terbeli atau terbilang), sedangkan "papat" berarti empat. Oleh karena itu, ketupat Lebaran mengandung makna empat bilangan atau empat sila Lebaran, yang merujuk pada empat hal penting dalam perayaan Idulfitri: Lebaran huburan, modern, dan laboran.
2. Makna Lebaran sebagai Bubaran
Kata "Lebaran" berasal dari kata "bubaran," yang artinya setelah bubar atau selesainya bulan puasa Ramadhan. Pada hari Raya Idulfitri, umat Muslim diwajibkan untuk berbuka puasa, yaitu makan dan minum setelah berpuasa sepanjang bulan Ramadhan.
3. Lebaran sebagai Proses Pelebur Dosa dan Kasta
Lebaran juga berasal dari kata "lebur," yang berarti peleburannya dosa-dosa selama menjalani puasa. Dalam makna lain, lebaran diartikan sebagai pelebur kasta-kasta atau tingkatan sosial.
Semua lapisan masyarakat, baik yang besar maupun kecil, melebur dalam semangat saling memaafkan di antara keluarga, tetangga, saudara, teman, dan sesama manusia.
4. Lebaran sebagai Kelebihan Rezeki
Lebaran juga dapat berasal dari kata "luber," yang berarti tumpah, meluap, atau kelebihan. Hal ini mengandung makna bahwa rezeki yang kita miliki pada hari Raya Idulfitri sebaiknya dibagikan kepada orang lain.
Zakat dan sedekah menjadi kewajiban bagi yang mampu, sebagai bentuk berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan.
5. Taburan sebagai Simbol Kembali ke Kesucian
Istilah "taburan" dalam konteks Lebaran berasal dari bahasa Jawa, yang berarti melabur atau mengecat. Pada zaman dahulu, masyarakat Jawa sering melabur atau mengecat tembok rumah dengan kapur putih menjelang Idulfitri.
Maknanya adalah kembali ke kesucian, baik dalam hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun dengan sesama manusia. Hati yang kembali suci tercermin dalam tindakan memaafkan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
6. Simbolisme Ketupat
Ketupat, yang berbentuk segi empat, menjadi simbol dari laku papat yang berarti empat hal yang harus dijalani selama Idulfitri. Ketupat ini sering kali disajikan bersama dengan opor ayam, sebagai simbol perayaan yang penuh makna.
Ajaran dan literatur tentang Sunan Kalijaga dan asal-usul Lebaran memang cukup langka, sehingga sulit ditemukan referensinya.
Namun, kebenaran informasi mengenai asal-usul Lebaran ini dapat bervariasi, tergantung pada versi dan pemahaman masing-masing.
Dengan demikian, istilah "Lebaran" memiliki beragam makna yang sangat dalam, mengajarkan kita untuk saling memaafkan, berbagi, dan kembali ke kesucian hati.