Kopi Pagi: Liga Korupsi

Senin 03 Mar 2025, 08:48 WIB
Kopi Pagi: Liga Korupsi (Sumber: Poskota)

Kopi Pagi: Liga Korupsi (Sumber: Poskota)

Di sisi lain, kian terungkapnya kasus korupsi di perusahaan pelat merah, kian menguatkan stigma BUM menjadi ‘bancakan’, stigma yang sudah lama melekat dalam benak masyarakat Indonesia.

Stigma itu terbangun bukan tanpa alasan. Pertama banyak yang merugi, ditambah lagi munculnya sejumlah kasus korupsi yang terjadi perusahaan pelat merah ini.

Terdapat 159 BUMN yang tersandung kasus korupsi dengan 53 pejabatnya sebagai tersangka seperti pernah dikatakan Menteri BUMN, Erick Thohir dalam beberapa kesempatan.

Di sisi lain, terkuaknya kasus PT Timah, kemudian Pertamina, mencuat penilaian adanya upaya bersih-bersih BUMN, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Bersih dari mafia, bersih pula dari beragam kepentingan di dalamnya.

Kalaupun ada kepentingan politik, adalah politik rakyat demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat, bukan orang per orang, karier politik masa depan, melanggengkan kekuasaan. Maknanya, bersih-bersih BUMN ini dengan satu tujuan membangun BUMN yang benar-benar bersih dan transparan serta hanya berpijak kepada kepentingan rakyat, sebagaimana telah lama dinantikan masyarakat Indonesia.

Saatnya menghilangkan stigma BUMN sebagai ‘bancakan’ menjadi BUMN sebagai ‘sumber kemakmuran rakyat’. Bersih-bersih BUMN harus terus berlanjut disertai penegakan hukum secara adil , tanpa kepentingan politis, tanpa keberpihakan, tanpa pula tumpul ke atas.

Penempatan pimpinan BUMN hendaknya bukan sebatas profesionalitas di atas kertas, tetapi yang lebih kepada loyalitas kepada bangsa dan negara. Memiliki rasa nasionalisme dan integritas moral yang tinggi.

Di momen bulan Ramadan ini, hendaknya kita, lebih-lebih para pejabat, elite politik, lebih “memperkaya hati”, bukan memperkaya harta benda melalui jalan pintas, korupsi. Bersifat kaya hati mencitrakan seseorang yang berhati mulia, yang selalu mensyukuri apa yang didapat, apalagi sebagai pejabat BUMN, apa yang didapat sudah lebih dari mencukupi.

Mestinya dijawab dengan bekerja lebih berkualitas sehingga BUMN semakin dapat memenuhi kewajiban sosialnya meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Dan, ingat pula, kemewahan tak ada yang abadi, sebagaimana hidup di dunia ini yang diibaratkan "mung mampir ngombe"-cukup singkat- hanya sebentar. Sekadar "numpang minum" belaka. Mari memperkaya hati, bukan memiskinkan hati, lebih-lebih memiskinkan rakyat melalui korupsi. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Menelisik Kritik

Kamis 20 Feb 2025, 08:02 WIB

News Update