Pengantar: Siap menang dan siap kalah hendaknya dikedepankan dalam
kontestasi, termasuk Pilkada. Namun, tak jarang kontestan hanya siap menang,
tetapi tidak siap kalah. Bagaimana pula setelah menang? Dua hal itulah yang
kami sajikan pada Senin dan Kamis pekan ini. (Azisoko).
“Tanpa landasan budaya sportif, legowo menerima keputusan menang dan kalah, maka proses demokrasi akan mengarah pada sikap “menang-menangan” yang dapat menumbuhkan embrio kekacauan dan anarki..”
-Harmoko-
Dalam sistem demokrasi yang kita anut, menang kalah adalah hal biasa, sebagaimana kompetisi pada umumnya. Demokrasi kita demokrasi menang dan kalah, bukan demokrasi ‘menang-menangan’ atau “asal menang”. Konsekuensinya para peserta harus siap menang dan siap kalah.
Bahwa setiap peserta ingin menang,itu pasti. Bahwa pada akhirnya hanya satu peserta yang dinyatakan sebagai pemenang dengan suara terbanyak, itu tidak dapat dipungkiri.
Itulah demokrasi kita, demokrasi saling menghargai sesama peserta kontestasi karena sejatinya yang didapat adalah kemenangan bersama untuk rakyat Indonesia di masing-masing daerah pilkada.
Rakyat sudah memilih, memberikan suara, maka hormatilah! Itulah makna kedaulatan rakyat.
Para petugas pengirim kotak suara, petugas KPPS di semua wilayah, apalagi di pelosok negeri, bekerja sangat keras, bahkan ada yang meninggal. Tercatat 8 orang meninggal dunia dan 115 mengalami sakit dan kecelakaan ketika menjalankan tugasnya.
Untuk itu, kita patut memberi apresiasi kepada mereka, utamanya yang terlibat langsung dalam pilkada, lebih-lebih para kontestan. Bukan harus mendatangi korban memberi santunan kepada keluarganya, tetapi yang lebih utama adalah menghargai hasil kerja mereka.
Era keterbukaan telah tercipta yang sangat membuka peluang pengaduan, jika dirasa ada yang tidak klop, belum klir atau dinilai menyimpang dalam penyelenggaraan.
Semua masukan dan pengaduan dari masyarakat wajib direspons dengan tanpa melihat dari siapa, oleh siapa dan dari kubu mana. Terbuka juga dalam menyampaikan informasi terkait penyelesaian pengaduan.
Sikap terbuka, jujur dan adil perlu lebih dikedepankan pada saat ini. Tak kalah pentingnya independensi KPU, karena memang KPU dibentuk sebagai lembaga independen yang diawasi berbagai pihak. Begitu juga dengan badan pengawas dan lembaga penyelesaian sengketa pemilu.
Dengan sikap ini, kita berharap semua pihak menaruh kepercayaan kepada kinerja penyelenggara dan pengawas pilkada.
Bagi peserta pilkada perlu mengedepankan perilaku berpolitik sportif, merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya politik kooperatif dan sistem demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan di atas perbedaan.
Politik sportif menjunjung tinggi keterbukaan, kejujuran dan keadilan. Menolak kecenderungan praktik politik curang, saling menjatuhkan, saling jegal, saling membenci dan memusuhi serta saling menyalahkan.
Tanpa landasan budaya sportif yaitu legowo menerima keputusan menang dan kalah, maka proses demokrasi akan mengarah pada sikap “menang-menangan” yang dapat menumbuhkan embrio kekacauan dan anarki, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Menarik untuk menyimak pernyataan inspiratif : lawan dalam olahraga adalah teman dalam bermain. Di arena pertandingan, para atlet bertarung saling mengalahkan dan menjatuhkan, namun di luar arena mereka berteman.
Bahkan, seusai menerima keputusan juri, saling berpelukan, bermaaf-maafan dan bertukar kostum sebagai bentuk penyatuan dua kekuatan yang sebelumnya berseberangan.
Demikian pula hendaknya dalam pilkada serentak 2024.Lebih-lebih lawan politik di tanah air adalah saudara sebangsa yang sama-sama ingin membangun daerahnya masing-masing.
Bagi elite politik yang sedang mendapat dukungan massa besar, memenangi pilkada, sudah seharusnya memberikan contoh langsung berpolitik sportif dan santun kepada para kader dan simpatisannya dengan tidak mengolok-olok lawan. Sifat kooperatif perlu dibangun dengan tidak melihat siapa kawan dan lawan.
Sementara bagi peserta yang belum menang hendaknya bersikap bijak dan legowo menerima hasil yang didapat – nrimo ing pandum – menerima apa yang didapatkan dengan tulus dan ikhlas. Tidak terpancing provokasi yang dapat mengundang konflik berkepanjangan. Tidak pula “metani alaning liyan” mencari-cari kesalahan orang lain.
Banyak adagium menyikapi kekalahan sebagai awal kemenangan yang lebih besar lagi. Boleh jadi mundur selangkah, tetapi sebagai ancang-ancang meraih kemenangan yang lebih besar, menyalip pemenang-pemenang sebelumnya.
Legowo menerima kekalahan sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik lagi, itulah kemenangan yang sejati.
Mari, yang belum menang bersikap legowo, yang menang merangkul yang belum menang. Itulah politik sportif pilkada. (Azisoko).
Dapatkan update berita terbaru dan breaking news setiap hari dari Poskota. Ikuti saluran WhatsApp Poskota serta Google News Poskota.