Kopi Pagi: Komitmen Kebangsaan (1). (Poskota)

Kopi Pagi

Kopi Pagi: Komitmen Kebangsaan (1)

Senin 11 Nov 2024, 08:28 WIB

Pengantar: Komitmen kebangsaan tak sebatas di atas kertas. Tak cukup slogan dan ucapan penuh retorika tanpa aksi nyata.Tema ini kami angkat terkait dengan peringatan Hari Pahlawan tahun ini. Artikel disajikan dalam dua seri di kolom ini. (Azisoko).

”Mari kita bangun Indonesia baru, Indonesia maju dalam bentukan berbagai suku, agama, ras, dan golongan yang memiliki hak sama untuk hidup makmur dan sejahtera di Indonesia..”

-Harmoko- 

Patut kiranya merenung diri jika sesekali mencuat pertanyaan dari sejumlah kalangan tentang  “sejauh mana komitmen kebangsaan kita?”. Diyakini, pertanyaan itu bukan merujuk karena adanya keraguan,tetapi lebih kepada upaya merawat komitmen kebangsaan kita agar tidak luntur tergerus perkembangan zaman.

Tidak pula komitmen kebangsaan tersisihkan karena berbagai  kepentingan, baik individu maupun kelompok. 

Tidak juga tererosi akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dalam sekejap dapat menyatukan bangsa-bangsa di dunia.

Merenung diri sebagai bentuk kontemplasi, sudahkah komitmen kebangsaan kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini menjadi penting mengingat komitmen itu tak sebatas di atas kertas, tak cukup dengan slogan dan ucapan penuh retorika, tetapi yang dibutuhkan era sekarang adalah aksi nyata dalam konteks membangun bangsa.

Bicara komitmen kebangsaan tentu tak lepas dari komitmen setiap individu maupun kelompok dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan yang meliputi persatuan, kesatuan dan kebhinekaan.

Persatuan dan kesatuan yang terbangun di atas keberagaman dan perbedaan. Berbeda, tetapi tetap satu.

Patut diingat, sejak mula negeri ini dbangun dengan perbedaan. Tokoh-tokoh pendiri bangsa tersebar dari Aceh hingga Papua, berbeda agama, suku, ras dan golongan. 

Namun perbedaan itu bukanlah halangan, melainkan menjadi kekuatan besar menjaga kebersamaan  dengan panji Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai  penaungnya.

Tidaklah berlebihan kiranya negeri kita dikagumi dunia karena persatuan di atas kebhinekaan.

Tak sedikit negara di dunia terpecah akibat pemisahan seperti Uni Soviet, Yugoslavia dan Cekoslovakia-  lantas menjadi beberapa negara yang memiliki kedaulatannya sendiri.

Tetapi, Nusantara kita, sungguh amat luas dan panjangnya, penuh keberagaman. Semua bersatu dalam perbedaan. Dalam kebhinekaan. Sebagai berkah Ilahi.

Meski negeri kita telah teruji dari berbagai konflik yang berpotensi memecah belah bangsa ini, namun setiap potensi konflik hendaklah dicegah sedini mungkin. 

Karena, bila konflik pecah, maka kita akan menghabiskan waktu, biaya sosial dan politik, selain ekonomi, untuk pemulihannya.

Di sisi lain, kokohnya persatuan dan kesatuan dalam format kolaborasi seluruh elemen bangsa, saat ini sangat dibutuhkan untuk membangun negeri. 

Di luar kerentanan ekonomi dari pengaruh situasi ekonomi global dan geopolitik internasional.

Ancaman nyata kepada negeri kita, sejatinya bukan hanya dari luar, yang melancarkan peran proxy, melainkan dari dalam negeri sendiri ketika elemen-elemen bangsa mengedepankan egonya untuk berkuasa, menonjolkan golongan - kelompoknya, dengan mengabaikan kebhinekaan yang sudah berpuluh tahun terjaga.

Adakalanya paham kebersamaan dan kebhinekaan seolah disisihkan dengan ideologi yang menguasai dan menundukkan. 

Acap pula mengolah paham konservatisme dengan mempertahankan kemapanan dan kenyamanan, di tengah zaman yang terus berubah, owah gingsir.

Meski dunia telah ‘menyatu’,  seolah tanpa sekat dan batas negara, tetapi kita tentu menolak penjajahan imperialisme baru, penjajahan budaya dari negara maju. 

Kita menerima kehadiran mereka untuk diolah dan dibentuk sebagai budaya sendiri. Sebagai Indonesia baru, Indonesia maju menuju Indonesia Emas.

Indonesia yang tangguh, kuat dan bermartabat. Indonesia yang berjati diri, berkarakter dan berbudaya ala negeri sendiri.

Kita memiliki kebaya yang berbeda dengan baju kurung Malaysia. None Jakarta sangat terpengaruh oleh budaya China, tapi bukan China.

Begitu juga dengan baju batik dan masih banyak lagi identitas Indonesia yang  wajib kita gunakan sebagai sisi lain memperkokoh komitmen kebangsaan.

Mari kita bangun Indonesia baru, Indonesia maju dalam bentukan berbagai suku, agama, ras, dan golongan yang memiliki hak sama untuk hidup makmur dan sejahtera di Indonesia, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Menuju ke sana perlu perumusan bersama yang melibatkan semua elemen bangsa, tak terkecuali para elite politik dalam menelorkan kebijakan yang pro rakyat.

Yang perlu menjadi renungan adalah jangan sampai karena perbedaan penafsiran atas sebuah kebijakan, lantas menjadi perenggang persatuan.

Malah, dengan adanya perbedaan, kita bisa saling melengkapi satu sama lain.

Bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain. Saling melengkapi akan terasa lebih indah daripada hanya bisa mengerti dan memahami, tanpa berusaha melengkapi kekurangan yang terjadi. (Azisoko).

Dapatkan berita serta informasi menarik lainnya hanya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp Poskota agar tak ketinggalan update berita setiap hari.

Tags:
komitmen kebangsaanHari PahlawanKopi Pagi

Administrator

Reporter

Ade Mamad

Editor