Obrolan Warteg: Elektabilitas Belum Jaminan. (Poskota/ Yudhi Himawan)

Sental-Sentil

Obrolan Warteg: Elektabilitas Belum Jaminan

Senin 09 Sep 2024, 07:02 WIB

Elektabilitas menjadi jaminan seorang kandidat memenangkan kontestasi pada pilkada mendatang. Tak sedikit yang menurut hasil survei, seorang kandidat menempati urutan teratas, tetapi hasil pencoblosan menempati peringkat paling bawah alias kalah.

“Kalau begitu yang salah surveinya atau persepsi publiknya?,” tanya Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan Yudi.

“Nggak ada yang salah. Survei benar, persepsi publik juga benar.,” kata Yudi.

“Tapi dalam banyak kasus, elektabilitas selaras dengan hasil yang dicapai. Contohnya saat pilpres lalu, hasil survei elektabilitas Prabowo teratas, hasilnya sepadan, bahkan menang satu putaran,” kata Heri.

“Tapi untuk pilkada Jakarta beda, elektabilitas tinggi belum menjamin kemenangan. Yang elektabilitasnya rendah, malah menang,” kata mas Bro.

“Kok bisa begitu ya,” kata Heri.

“Saya nggak tahu mengapa, tetapi faktanya begitu. Tahun 2012 elektabilitas Foke tinggi, tetapi kalah oleh Jokowi. Begitu juga pada pilkada tahun 2017, elektabilitas Ahok itu tinggi, tetapi kalah oleh Anies yang elektabilitasnya berada di bawah Ahok” kata mas Bro.

 “Jakarta memang beda, namanya juga daerah khusus, pemilihnya lebih cerdas dan realistis,” kata Yudi.

“Boleh jadi saat disurvei, bilang mendukung kandidat A, tetapi saat pilkada yang dicoblos B. Mungkin nggak, ya,” kata Heri.

“Nggak boleh menduga – duga. Kita lihat fakta  yang sudah terjadi saja. Soal kenapanya, biarlah menjadi urusan ahlinya,” kata Yudi.

“Dalam sepakbola ada istilah mengecoh lawan main. Memperlihatkan kita tak berdaya, lemah tanpa tenaga, tetapi sejatinya sedang mengumpulkan kekuatan. Di saat lawan lengah, kita bergerak cepat menjebol gawang lawan,” kata Heri.

“Strategi itu bisa juga diterapkan dalam dunia politik. Biarlah lawan terpesona karena popularitas dan elektabilitas selalu di atas, tetapi diam – diam kita bergerilya menjaring massa tanpa kentara,” urai mas Bro.

“Segala strategi bisa dilakukan untuk meraih kemenangan asal dilakukan secara etika dan beradab. Bukan menjegal lawan dengan menghalalkan segala cara,” kata Heri.

“ Kalau mengelabuhi lawan, boleh – boleh saja. Yang dilarang bermain curang,” kata Yudi.

“Tidak kalah pentingnya jangan anggap remeh lawan karena elektabilitasnya rendah. Ingat yang rendah bisa memang,” urai mas Bro. (Joko Lestari)

Tags:
ElektabilitaskandidatKontestasiPilkadahasil-surveijaminan

Ade Mamad

Reporter

Ade Mamad

Editor