"Sifat cepat puas diri menjadikan kita terlena, padahal keberhasilan yang sesungguhnya ada di ujung perjalanan panjang. Bukan sekarang. Tapi nanti. Mari kita lewati dengan penuh kesadaran diri.."
-Harmoko-
Kita boleh bangga atas hasil pemilu 2024, tetapi jangan cepat berpuas diri lantas terlena hingga lupa diri. Kita juga boleh kecewa atas hasil pemilu 2024, tetap jangan kemudian berkepanjangan, lalu terpuruk hanya menyisakan penyesalan.
Hasil pemilu adalah pijakan dasar untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara, setidaknya lima tahun ke depan.
Dapat diibaratkan sebagai langkah awal sebelum melangkah ke ujung jalan yang penuh liku. Boleh jadi tidak hanya terhampar banyaknya kerikil tajam yang harus dilalui, tetapi tersembunyi ranjau di sana sini.
Maknanya, sebagai peserta pemilu, baik yang memenangkan maupun yang belum memenangkan, sama sama memiliki tanggung jawab atas masa depan bangsa dan negara. Mengapa?
Jawabnya bukan saja karena sebagai tokoh bangsa, tetapi ketiga pasangan capres cawapres, telah pula diberi mandat oleh masyarakat yang telah memilihnya untuk memajukan negeri ini.
Soal kalah menang, beda lagi, itu menyangkut legalitas sebagaimana diatur oleh undang undang yang harus dipatuhi dan dihormati. Tetapi bahwa ada masyarakat yang memilihnya, berapa pun jumlahnya, adalah fakta yang tidak boleh dipungkiri. Itulah aspirasi yang hendaknya wajib diapresiasi. Tentu, dalam konteks memajukan bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi.
Itulah perlunya tetap sadar diri untuk tidak terlenakan oleh keadaan karena kemenangan. Sadar diri tidak terlena keadaan menjadi terpuruk karena belum bisa memenangkan kontestasi.
Jalan panjang di depan masih terbentang. Terdapat banyak pilihan untuk melangkah hingga ke ujung jalan demi mencapai tujuan
Ada pitutur yang disebut Cakra manggilingan yang dapat diartikan bahwa kehidupan itu dinamis bagaikan roda yang terus berputar, tidak tinggi ketika dipuji, tidak pula jatuh ketika dimaki.Tetaplah berbuat baik, benar serta selalu mengingat Tuhan.
Dengan bahasa lain, teruslah melangkah maju tidak terhenti karena kegagalan, tidak pula menjadi tinggi karena kesuksesan.Tetaplah menebar kebaikan untuk kemaslahatan umat.
Makna lain yang dapat kita petik adalah jangan berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Bersikaplah sewajarnya, konsekuen dalam keputusan dan tindakan.
Jangan cepat berpuas diri karena keberhasilan dan kemenangan, jangan pula menjadi lemah, jatuh terperosok karena kegagalan dan kekalahan.
Dengan begitu setidaknya kita dapat lebih mencerna, tidak grusa grusu terhadap hasil yang telah kita perbuat. Mengingat seperti telah disebutkan bentangan jalan masih panjang dan penuh liku yang harus dilalui.
Berbagai problema kehidupan berbangsa dan bernegara masih menghadang.
Bukan saja soal angka kemiskinan yang masih di atas 25 juta jiwa, belum lagi yang setengah miskin dan rentan menjadi miskin yang jumlahnya cukup besar. Masih tingginya angka pengangguran 7,86 juta orang, belum yang setengah pengangguran atau pengangguran terselubung.
Masih terkendalanya pemerataan hasil hasil pembangunan, kesenjangan sosial, masalah stunting dan masih banyak lagi.
Ini persoalan mendasar yang memerlukan energi besar untuk mengatasinya.Tidak cukup dengan satu kekuatan atau sekelompok kekuatan besar, tetapi perlu menyatukan semua kekuatan ekonomi, sosial dan politik.
Bicara soal kekuatan ekonomi berarti soal aset negara, kekayaan sumber daya alam. Bagaimana mengelolanya dan siapa yang mengolah dan mengelolanya untuk kesejahteraan rakyat.
Kekuatan sosial menyangkut kualitas SDM, juga modal sosial berupa etika, norma, keunggulan jati diri, nilai nilai luhur, termasuk adat dan budaya yang tidak dimiliki bangsa lain. Kekuatan politik, jelas menyangkut dukungan parpol beserta para kadernya yang ada di parlemen.
Semua kekuatan itu harus dikolaborasikan, disinergikan, dan diselaraskan dengan satu tujuan, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Bukan demi pejabat, konglomerat, kerabat dan demi kelompok yang lain.
Yang diperlukan, penyatuan kekuatan besar ini jangan kemudian menciptakan zona nyaman dan cepat berpuas diri. Dengan cepat berpuas diri, sama artinya menghilangkan sisa potensi yang dimiliki.
Dengan cepat berpuas diri membuat kita malas untuk berbuat lebih baik lagi, sementara kemampuan untuk merengkuh peluang dimiliki, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom Kopi Pagi di media ini.
Sifat cepat puas diri menjadikan kita terlena, padahal keberhasilan yang sesungguhnya ada di ujung perjalanan panjang. Bukan sekarang. Tapi nanti. Mari kita lewati dengan penuh kesadaran diri. (Azisoko)