JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Berita soal gempa awal Maret yang muncul dari prediksi seismolog asal Belanda, Frank Hoogerbeets ramai dibahas di media sosial.
Akibat prediksi gempa awal Maret yang menyebut juga akan terjadi di Indonesia itu, muncul kepanikan dari sejumlah pihak. Termasuk warga Yordania, yang turut terpengaruh atas prediksi Frank Hoogerbeets.
Sebelumnya Frank Hoogerbeets menyatakan jika dunia mungkin bakal menghadapi gempa besar dalam awal-awal Maret 2023 ini, mulai dari Semenanjung Kamchatka dan Kepulauan Kuril di Timur Rusia, hingga Filipina dan Indonesia.
Terkait hal ini, netizen di Indonesia pun ramai-ramai memberikan komentarnya. Ada yang mengaku ikut panik, sebagian lagi tak percaya dengan prediksi gempa awal Maret seperti yang disampaikan Hoogerbeets.
"Hanya Allah yang tahu, bukan paranormal atau dukun," komentar akun Thommy Tato dalam postingan Poskota.co.id, Jumat (3/3/2023).
"Terima kasih info keilmuannya, semua akan berlaku apa yang Allah inginkan dan apa yang Allah tetapkan. Hakikatnya demikian, kita tetap beraktivitas sebagaimana biasanya saja," kata akun Farizal.
"Semuanya punya rahasia Allah, jangan melebihi rahasia Allah," timpal akun Mardi Lestari.
Meskipun ada sejumlah pihak yang bijak, ada pula banyak netizen yang menanggapinya dengan kelucuan. Ada yang berpendapat jika Frank Hoogerbeets hanya mencari sensasi saja.
"Jangan digabung-gabungkan dengan alam. Kalau mau viral main sinetron saja," kata akun Wonklihan-Wonklihan.
"Kalau gempa sudah tahu tanggal, itu bukan bencana," kata akun Tangkunei Alvina.
"Kalau udah penampakan om brewok gw waspada ajalah," kata akun Tensor Galagapos.
"Gempa di ranjang," timpal akun Sueng Prabowo.
"Ini sudah awal Maret, kok enggak ada. Palsu," kata akun Heri Heriyanto.
Jangan Percaya Prediksi Gempa Awal Maret Frank Hoogerbeets
Sementara itu berita palsu atau menyesatkan tentang prediksi gempa ini juga telah memicu kepanikan di kalangan masyarakat Yordania.
Kepala Observatorium Seismologi Yordania, Ghassan Sweidan, telah menegaskan bahwa tidak ada ramalan atau peringatan gempa bumi yang dapat dipercayai. Ada daerah-daerah tertentu yang rawan terhadap aktivitas seismik, namun orang tidak boleh mempercayai peringatan gempa palsu.
Senada disampaikan seorang ahli geofisika dari Universitas Yordania, Najib Abu Karaki, dia juga menegaskan bahwa tidak mungkin ada peringatan yang bisa menyebut besarnya gempa apalagi tempat gempa bumi terjadi.
"Risiko seismik dapat dievaluasi melalui kerja sama aktif antara para profesional, pakar, dan insinyur dalam evaluasi kinerja seismik," katanya disitat Jordan Times.
Ahli geofisika dengan tegas menyangkal prediksi Hoogerbeets dan memperingatkan publik untuk tidak mempercayai ramalan semacam itu. Menurutnya, publik harus memperoleh informasi yang sahih dan menghindari berita palsu yang dapat memicu kekhawatiran dan kepanikan yang tidak perlu.
Pada saat yang sama, dia menekankan pentingnya pemerintah dan lembaga ilmiah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko gempa dan memberikan panduan yang tepat tentang tindakan yang harus diambil dalam situasi darurat.
Di Yordania, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (NCDD) telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kesiapan bencana dan meningkatkan kapasitas reaksi darurat. NCDD memiliki rencana darurat dan mengadakan pelatihan untuk tim tanggap darurat di seluruh provinsi.
Masyarakat juga diingatkan untuk membuat perencanaan keluarga dan mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana, termasuk gempa bumi. Mereka harus memiliki peralatan darurat seperti senter, baterai cadangan, radio, dan pakaian hangat. Mereka juga harus menyiapkan persediaan air dan makanan yang cukup untuk bertahan beberapa hari jika terjadi bencana.