Lambang Polisi Rastra Sewakottama. (foto: ilustrasi/polri.go.id)

Opini

Hedonisme Merusak Polri

Jumat 11 Nov 2022, 07:46 WIB

Oleh : Ilham T, Wartawan Poskota

"Kalau tak mampu membersihkan ekor, maka kepalanya akan saya potong". Ucapan itu disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo persis setahun lalu. Artinya, kalau pimpinanya bermasalah, maka bawahannya akan juga bermasalah.

Ucapan itu seolah-olah menjadi sumpah Irjen Listyo menghadapi ujian beruntun yang dihadapi Polri, mulai pembunuhan berencana Ferdy Sambo, cs, tragedi Kanjuruhan menewaskan ratusan Aremania, kemudian kasus narkoba Teddy Minahasa.

Ujian ini masih berlanjut dengan munculnya testimoni mantan anggota Sat Intel Polres Samarinda Ismail Bolang. Apakah testimoni ini akan menambah deretan Jenderal diberhentikan dengan tidak hormat (PTDH) ? Publik masih menunggu gebrakan Kapolri.

Ismail Bolang dalam testismoninya menyebut uang kordinasi pengamanan miliar rupiah dibagi per bulan kepada anggota Polri. Uang itu dari penambang batu bara ilegal yang ada di wilayah Santan Hulu, Kec. Marangkayu, Kab. Kutai Kartanegara, Kaltim.

Testimoni itu sama dengan surat hasil penyelidikan Divisi Propam Polri yang tersebar di Sosial media dan Whatshapp. Disitu tertulis ditemukan cukup bukti dugaan pelanggaran penambangan batu bara ilegal dibekingi secara terstruktur oknum Polri.

Disebutkan dalam mengkoordinir tambang batu bara ilegal kemudian memberikan upeti setiap bulan dalam bentuk dolar Amerika dan Singapura diduga kepada Bareskrim Polri, Polda Kaltim, Polres, dan Polsek.

Meski jadi sorotan, Polri justru bungkam. Lewat Kompolnas kasus ini baru akan dirapatkan usai KTT G20 di Bali bersama Irwasum dan Kadiv Propam. Padahal kasus suap ini sudah lama dan hasil penyelidikan ditemukan cukup bukti dugaan pelanggaran.

Kini babak demi babak perilaku menyimpang oknum anggota Polri dari yang paling bawah sampai dengan pati mulai terkuak. Peristiwa ini lalu dikaitkan dengan persaingan di internal Polri atau perang bintang, pasca kasus Ferdy Sambo, cs.

Namun pokok dari persoalan ini adalah akibat banyaknya perilaku anggota Polri yang hidup mewah (hedonisme). Jika diekuivalen dengan penghasilan yang mereka dapat tidak sesuai dengan gaya hidupnya yang berlebihan.

Mereka mempertintonkan mobil, sepeda motor, pakaian, sepatu, jam tangan dan asesoris yang harganya selangit. Jelas menjadi sorotan masyarakat ditengah keterbatasan dan kesulitan ekonomi yang dihadapi. Anehnya Pati seperti ini masih diberi jabatan empuk.

Kasus ini sudah menjadi sorotan publik, Kapolri harus segera bertindak cepat menuntaskannya. Kapolri tidak boleh ragu dalam melakukan perbaikan secara terukur di tubuh Polri meski harus memotong kepalanya jika ekornya sudah kotor dan busuk. **

Tags:
OpiniPolrihedonisme

Administrator

Reporter

Administrator

Editor