PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Para pelaku usaha di Kabupaten Pandeglang, merasa keberatan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Salah satunya, pelaku usaha olahan kelapa atau kopera di Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, yang merasa berat dan menjerit dengan kondisi harga BBM naik sekarang ini.
Lantaran, naiknya harga BBM membuat biaya operasional juga membengkak. Sementara, harga jual hasil olahan buah kelapa ini tidak ada kenaikan.
"Otomatis biaya transportasi kami membengkak. Karena harga solar subsidi kan naik, biaya kebutuhan BBM juga besar," ungkap Engkos, salah seorang pelaku usaha olahan buah kelapa, Jum'at 9 September 2022.
Engkos mengaku, saat ini pihaknya harus mengurangi jadwal pengiriman hasil olahan buah kelapa tersebut kepada pembeli untuk mengurangi beban biaya pengiriman.
"Biasanya seminggu dua kali pengiriman, tapi sekarang harus mengurangi menjadi dua minggu sekali. Sehingga hasil produksi kopera juga harus ditumpuk dulu," katanya.
Atas kondisi ini harap Engkos, harga jual kopera atau hasil olahan buah kelapa bisa ditingkatkan untuk menambal biaya operasional yang membengkak.
"Harapan kami harga pembelian juga bisa naik sekitar 20 persen. Soalnya biaya kirim membengkak," harapnya.
Biasanya tambah dia, hasil olahan buah kelapa itu dijual ke PT Barko Jakarta dan pabrik minyak di Surabaya. PT Barko Jakarta menerima seharga Rp8 ribu/kg dan di pabrik minyak Surabaya sebesar Rp8.900/kg.
"Memang kalau harga jual kopera ini mengikuti harga minyak dunia. Tapi karena harga BBM naik maka harapan besarnya harga kopera juga bisa naik, supaya kami tidak kewalahan," tuturnya.
Jika tidak ada kenaikan harga jual kopera, maka perusahaan olahan buah kelapa yang dijalankannya bisa gulung tikar karena tidak ada keseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan.
"Ya omzet juga menurun, makanya harapan kami ada kenaikan harga kopera ini supaya usaha kami tetap bisa berjalan," tandasnya. (samsul fatoni)