JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tim gabungan dari Polres Metro Depok bersama Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, menggerebek pesta bikini dan minuman keras (miras) yang digelar oleh para muda-mudi di sebuah kawasan perumahan elit di bilangan Sukmajaya, Kota Depok pada Minggu (5/6/2022) dini hari tadi.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat Kepolisian berhasil menggelandang sejumlah muda-mudi ke Polda Metro Jaya, menyita sejumlah botol minuman keras, serta menemukan 10 kotak alat kontrasepsi di lokasi.
Namun dikala dilakukan tes urine untuk mengetahui adanya indikasi penyalahgunaan narkotika, Kepolisian sama sekali tidak menemukan adanya indikasi atau pun barang bukti dari penyalahgunaan barang haram tersebut.
Adanya gelaran pesta bikini, miras, dan temuan alat kontrasepsi di lokasi penggerebekan pun menyita perhatian seorang Sosiolog dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, yakni Hubertus Ubur.
Menurut dia, apa yang dilakukan oleh para muda-mudi tersebut dapat terjadi karena pada dasarnya, seseorang di usia muda pasti akan mengalami masa yang penuh gejolak akan hal-hal yang baru, tak peduli meski itu harus melanggar norma sekali pun.
"Usia muda itu usia penuh gejolak. Norma yang kuat dihidupi adalah yang bersifat hedonistik. Norma kedua adalah solidaritas, tidak harus dalam arti positif atau produktif. Maka, tidak jarang norma kehidupan sosial dan agama cenderung tidak disukai, bahkan dilanggar," kata Hubertus saat dihubungi, Minggu (5/6/2022).
Dalam hal ini pula, dia berujar, bahwa tidak jarang muncul rasa bangga pada seseorang tatkala dirinya melakukan suatu ketidakpatuhan atau pelanggaran.
Sebab menurutnya, saat ini para muda-mudi yang memperlihatkan kepatuhan, hal itu biasanya dilakukan tanpa adanya rasa tulus dari hati.
"Kalau toh, mereka memperlihatkan kepatuhan, hal itu dilakukan dengan terpaksa atau ada rasa takut kepada orang tua atau pihak berwewenang, entah itu pemerintah atau tokoh agama," ujar dia.
Hubertus menuturkan, perilaku muda-mudi yang saat ini cenderung menyimpang dari norma, sebetulnya bisa dikembalikan kepada jalan yang sesuai dengan cara-cara kecil yang sebetulnya tidak banyak disadari.
"Apa solusinya? Pertama, penyadaran melalui berbagai sarana pendidikan seperti sekolah, agama, kelompok kepemudaan seperti karang taruna, remaja mesjid, atau yang lainnya," tutur Hubertus.
"Cara yang kedua, ciptakan kegiatan-kegiatan yang menarik buat kaum muda, seperti lomba nyanyi, turnamen olahraga, atau yang lainnya," papar dia.
Namun ungkapnya, dari kedua hal tersebut, ada satu hal yang sangat penting dan merupakan panasea yang paling baik untuk dilakukan, yakni kepedulian dan teladan sikap dari orang tua, tokoh masyarakat atau agama, hingga pemerintah sendiri.
"Meski kita tahu belakangan ini kelakuan orang tua dan para tokoh tertentu justru malah kontraproduktif, atau dalam artian memberi teladan negatif. Namun, peran mereka dalam mempengaruhi kaum muda itu sangat besar dampaknya. Jadi, cukup beri contoh yang baik, positif, namun tetap dalam koridor yang mereka mau, itu pasti berhasil," terang dia.
Sebab, jelas Hubertus, generasi muda adalah kelompok yang belajar dari para pihak yang lebih tua, entah itu hal-hal yang baik secara normatif maupun hal-hal buruk.
"Mungkin hal negatif dalam kasus ini, yakni pesta miras yang terjadi bisa saja itu terinspirasi oleh pabrik bir yang menjadi sponsor event nasional atau internasional. Namun, sudah watak dasar manusia sejak zaman Adam dan Hawa adalah senang dan bangga dengan pelanggaran," tutup dia. (Adam).