PISIKNYA gagah berisi, tapi ternyata karakter Jayanto, 30, macam Prabu Puntadewa wayang kulit. Betapa tidak? Kemesraan suami istri hanya dinikmati selama 2 bulan, setelah itu acuh saja, ranjang tak lagi bergoyang. Buat mancing, sang istri Wiwik, 26, sengaja pacaran lagi, eh Jayanto sama sekali tidak cemburu.
Teliti sebelum membeli, begitu pesan YLKI. Dalam hal mencari pasangan hidup, pesan itu juga perlu diperhatikan. Memilih suami atau istri jangan hanya lihat tongkrongan, tapi juga kepribadiannya. Jangan setelah menikah lalu kecewa akan tabiat suami atau istri. Kalau barang bisa ditukar tambah atau tombokan, lha kalau pasangan hidup? Paling-paling disesaikan lewat perceraian. Paling kasihan jika perceraian itu terjadi setelah ada anak, si bocah jadi korban karenanya.
Nasib perkawinan Wiwik warga Surabaya itu nyaris seperti itu. Untungnya belum sampai punya anak, baru nikah 4 bulan langsung daftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Ketika ditanya majelis hakim Wiwik pun terus terang, suami sepertinya punya kelainan. Keluarga bahagia hanya dinikmati 2 bulan, setelah itu Wiwik tak pernah disentuh. Bahkan ketika Wiwik nekad pacaran lagi, suami tak cemburu. “Saya pilih cerai saja Pak, suamiku macam Prabu Puntadewa wayang.....” aku Wiwik jujur.
Sebelum resmi disahkan KUA, sebetulnya Wiwik-Jayanto juga sudah pacaran untuk adaptasi dan saling menyesuaikan. Semua baik-baik saja, ibarat guru menilai raport murid, semua bernilai rata-rata delapan, sehingga layak naik kelas. Tapi ternyata ada yang lolos dari penilaian Wiwik, dan ini berakibat fatal dan kemudian mengancam keberlangsungan rumahtangganya.
Waktu masih pengantin baru, Jayanto normal-normal saja. “Serangan umum” non 1 Maret 1949 bisa diselesaikan dengan memuaskan. Pokoknya selama 2 bulan pernikahan, ranjang selalu bergoyang. Anehnya setelah itu, ranjang “dilockdown” tanpa alasan. Sebagai istri Wiwik merasa malu ambil inisiatip dengan kata-kata, sedangkan dengan gerak-gerik erotis pun Jayanto sama sekali tak merespon. Ibarat sinyal HP, satu digit saja nggak ada, sepertinya ada gangguan di BTS.
Untuk memancing reaksi Jayanto, si Wiwik kemudian sengaja pacaran lagi dengan cowok lain dan. Tapi ternyata suami sama sekali tak cemburu. Padahal Wiwik berharap, suami marah-marah. Lha kok ini diam saja. Jangan-jangan Jayanto memang berkarakter seperti Prabu Puntadewa wayang, istri diminta raja lain negeri main kasih saja.
Wiwik baru sadar, dia salah menilai Jayanto saat pacaran dulu. Dan karena saampai 4 bulan pernikahan mestruasi normal-normal saja, berarti belum berisi, dia memutuskan untuk berpisah saja. Celakanya, ketika tawaran cerai itu disampaikan pada suami, jawabnya seperti mau diajak rekreasi ke Pantai Kenjeran, “Ya ayo......!”
Maka Wiwik semakin yakin bahwa perkawinan dengan Jayanto memang harus diakhiri, karena dia ternyata lelaki tidak normal. Ini lebih parah dari Prabu Puntadewa. Sebab raja Amarta ini dalam perkawinannya dengan Drupadi, masih punya satu anak Pancawala. Lha kalau sama Jayanto, bisa-bisa aset dianggurkan selamanya.
Salah-salah malah dilelang! (GTS)