JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sekarang ini di Jakarta ada dua JIS, satu di Jakarta Selatan, yang kedua JIS di Jakarta Utara.
JIS di Jakarta Utara boleh dibilang mahakarya Gubernur Anies Baswedan, yang kini wujudnya sudah selesai, sudah soft launching, dan akan grand launching Juni nanti. Begitu informasinya.
Sedangkan JIS di Jakarta Selatan adalah Jakarta Intercultural School, dulu lebih akrab disebut Jakarta International School.
Ini merupakan sekolah bagi warna negara asing dari berbagai bangsa ( Intercultural School), lokasinya Jalan Narogong Raya, Cilandak, dekat dengan perumahan mewah Pondok Indah.
Ternyata, informasi yang ada, di JIS itu bukan saja sekolah bagi warga negara asing, ada sebagian anak-anak warga negara Indonesia, ini karena menganut interkultural tersebut.
Di JIS itu boleh dibilang fasilitasnya super memadai, fasilitas lebih bagus dibanding sekolah di Jakarta umumnya. Fasilitas olah raganya juga sangat bagus. Semua kondisinya sangat bersih.
Yang sering diperhatikan oleh orang Indonesia kalau berkunjung ke sana, siswa minum di air kran langsung. Mungkin terlihat aneh, tapi memang air kran di sekolah di JIS itu, kualitasnya layak minum, sehat.
Jakarta Intercultural School (JIS) adalah sebuah sekolah internasional swasta di Jakartai. Sekolah ini didirikan tahun 1951 untuk anak-anak ekspatriat yang tinggal di Jakarta dan merupakan sekolah dasar dan menengah internasional terbesar di Indonesia.
JIS memiliki 2.400 siswa berusia 3 sampai 18 tahun yang berasal dari 60 negara.
Sekolah ini mengikuri model kurikulum Amerika Utara dari prasekolah sampai kelas 12.
Sekolah ini diakreditasi oleh Western Association of Schools and Colleges dan Council of International Schools.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melaporkan bahwa kurikulum Jakarta International School memiliki fokus internasional yang kuat dan menganggapnya sebagai salah satu sekolah terbaik di luar negeri untuk mempersiapkan siswa masuk universitas di Amerika Serikat.
JIS memiliki tiga kampus, dua untuk SD di Pattimura dan Pondok Indah dan satu kampus utama untuk SMP dan SMA di Cilandak, Jakarta Selatan.
Sekolah JIS menerapkan disiplin tinggi. Salah satunya dalam pendidikan olah raga. Pernah terjadi, pertandingan persahabatan SMA JIS den tim voli FSUI (kini FIB UI).
Saat mau tanding, Tim JIS kostum lengkap, dengan nomor punggung yang sudah ditetapkan. Nah, saat itu Tim FSUI tidak menggunakan kostum seragam, pun tanpa nomor punggung, dipikirnya hanya laga persahabatan, maka pakai kostum bebas.
Ternyata wasit yang hendak memimpin pertandingan menolak memulai pertandingan gegara para pemain FSUI tanpa kostum seragam apalagi nomor punggung.
Maka, oleh tuan rumah,, TIM FSUI diberikan kain seragam yang ada nomor punggungnya, mirio celemek untuk memasak, dan diikatkan di masing-masing pemain FSUI. Maka, laga pun bisa dimulai.
Di sini bisa dilihat betapa di sekolah JIS punya disiplin tinggi, di sisi lain tim tamu kurang disiplin.
Stadion JIS
Sedangkan JIS di Jakarta Utara lain dengan JIS di Jaksel tersebut. JIS di Jakarta Utara adalam bangunan stadion bertaraf Internasional, berkelas FIFA, megah, hebat luar biasa.
Stadion itu dirampungkan pada era Gubernur Anies Baswedan. Kalau tidak salah, pembangunannya dicanangkan sejak era Gubernur Fauzi Bowo, lanjut ke era Gubernur Joko Widodo.
Saat Gubernur Jokowi sempat ada aksi, tapi tak ada kelanjutan berarti. Dilanjut era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), saat itu tidak ada perkembangan. Barulah saat Gubernur Djarot Saiful Hidayat, ada aksi, namun tidak terlalu berarti.
Barulah setelah era Gubernur Anies Baswedan, aksi pembangunan stadion di kawasan Papanggo Jakarta Utara itu digiatkan. Gubernur Anies berhasil mewujudkan berdirinya stadion megah, bertaraf Internasional, standar FIFA, bahkan dengan atap bisa buka tutup.
Bangunan ini banyak mendapatkan pujian, bahkan dari dunia internasional. Bahkan, klub raksasa Barcelona dan Atletico Madrid dari tim juniornya sudah menjajal stadion ini. Mereka terkesan.
Terakhir, stadion ini disambut warga dalam perayaan Idul Fitri yang gegap gempita. Dihadiri Gubernur Anies, belasan ribu jamaah melakukan salat Idul Fitri di JIS itu.
Peluncuran awal sudah dilakukan. Dan nantinya peluncuran yang sebenarnya akan digelar pada bulan Juni, beriringan dengan ulang tahun Kota Jakarta.
Stadion hebar nan megah ini diberi nama Jakarta International Stadium. Setidaknya nama itu sudah sering disebutkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, meski belum ada papan nama resmi untuk nama stadion itu.
Menolak Jakarta International Stadium
Lantas apa yang perlu ditolak dari Jakarta International Stadium itu? Ya memang ada alasan untuk menerima JIS di Selatan dan menolak JIS di Utara karya Gubernur Anies Baswedan.
Sebenarnya satu hal saja, yakni nama Jakarta International Stadium adalah bahasa asing, yakni Bahasa Inggris.
Ya memang rasanya tidak adil kalau begitu, karena sama-sama di Jakarta, Indonesia. Toh, JIS di Selatan juga menggunakan Bahasa Inggris, yakni Jakarta Intercultural School, dulu lebih akrab disebut Jakarta International School.
Namun, alasannya, karena Gubernur Anies pernah menyatakan, nama-nama resmi di Jakarta menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sedangkan Jakarta International Stadium jelas-jelas Bahasa Inggris. Ini yang menjadi hal terasa mengganjal. Tetapi, ini hanya protes kecil, dan untuk menagih komitmen Gubernur Anies soal kecintaan dan penghormatanya terhadap Bahasa Indonesia.
Adapun Jakarta Intercultural School milik bangsa asing, untuk sekolah anak-anak ekspatriat (orang asing), bahasa pengantar mereka juga bahasa asing (Inggris). Dengan begitu keberadaanya berbeda sama sekali dengan Jakarta International Stadium yang merupakan bangunan milik pemerintah.
Pemerintah di Indonesia, punya kewajiban untuk menjaga dan mengembangkan Bahasa Indonesia. Dari sisi inilah menolak JIS di Jakarta Utara itu menjadi relevan. (win)