“TUMBEN, lo banyak diam, nggak banyak ngomong, lagi ada yang dipikirin ya,” tanya Yudi kepada rekannya, Heri, di sebuah pos ronda.
“Lagi puasa,” jawab Heri singkat.
“Lah.. bukannya lo sudah buka. Sudah tarawih segala tadi masjid. Puasa apaan malam-malam begini?,” tanya Yudi.
“Puasa lisan nggak kenal siang dan malam. Nggak kenal buka juga. Puasa lisan
harus tetap dijaga, nggak boleh batal,” jawab Heri. ”Paham nggak?”
Rupanya yang dimaksud Heri dengan puasa lisan adalah menjaga lisan (ucapan).
Menjaga ucapan yang baik, harus dilakukan kapan saja, di mana saja.Tak kenal siang dan malam.Tidak pula mengenal tempat.
Ya, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga sejak Subuh hingga Magrib.
Puasa juga menjaga lisannya agar tidak bertutur kata buruk yang dapat menyinggung dan menyakiti orang lain. Itulah yang disebut puasa panca indera.
Ada yang mengatakan, lidah (ucapan) bagaikan binatang buas. jika tidak mampu mengendalikannya akan memangsa banyak orang.
Gunakan lidah dengan lembut untuk berbicara yang baik-baik. Untuk kebaikan orang lain, bukan kebaikan diri sendiri.
Ingat! Perkataan yang baik, mungkin cepat dilupakan, tetapi perkataan yang buruk, apalagi sampai menyakiti hati orang, akan selalu dikenang.
“Saya setuju bro, lidah memang tak bertulang, maka tak terbatas kata..,” ujar
seseorang yang akrab dipanggil si bro.
Lihat juga video “Ada-ada Saja! Curi Tong Sampah, Para Pelaku Kabur Menggunakan Angkot”. (youtube/poskota tv)
“Tapi jangan lantas diam begitu. Di pos ronda ini kita bisa silaturahmi membahas masalah lingkungan. Sambil keliling cek keamanan, di bulan puasa ini, bisa ikut bangunkan orang sahur.” tambah si bro.
“Saya jadi pendengar yang baik. Kata orang bijak, orang-orang yang sukses, lebih banyak mendengar ketimbang banyak bicara,” kata Heri.
Iya tapi mendengar suara rakyat. (jokles)