"Mencontoh hal baik dan membuang jauh hal buruk dari masa lalu, bagian dari sikap mikul dhuwur, mendhem jero" - Harmoko
Negara kita yang merdeka dan berdaulat seperti sekarang ini tak lepas dari jerih payah para pejuang bangsa.
Tidak bisa dipungkiri, tanpa pahlawan negeri, Indonesia tidak akan seperti sekarang ini.
Begitupun sebuah fakta bahwa sosok kita bisa seperti sekarang ini karena orangtua, kakek nenek kita.
Dalam pepatah Jawa dikenal “Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira”, artinya terjadinya dirimu karena diciptakannya ibu bapakmu sehingga kedua orangtua harus dimuliakan.
Saya meyakini kakek nenek moyang kita adalah pejuang, sekecil apapun yang telah dilakukan di eranya, setidaknya untuk keluarganya, lingkungan sekitarnya.
Mereka adalah pahlawan negeri, dalam lingkup terkecil pahlawan bagi keluarganya.
Karenanya dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional kali ini, menjadi momentum bagi setiap anak negeri untuk senantiasa mengingat pengorbanan orangtua, kakek, nenek, leluhur dan para pahlawan.
Mereka telah berkorban demi nusa dan bangsa. Begitu banyak yang mereka korbankan, tak hanya harta benda, tenaga, tetesan darah dan air mata, juga nyawa taruhannya.
Mengingat jasa para pejuang bukan sebatas mengenang masa lalu, bernostalgia dengan peristiwa heroik.
Bukan pula membukukan dalam catatan sejarah penuh makna, yang kadang abai dibaca oleh generasi berikutnya.
Sering dikatakan, sejarah adalah masa lalu, sudah terlewati. Yang terpenting adalah masa sekarang dan mendatang.
Tetapi hendaknya patut diingat, masa sekarang adalah rangkaian dari masa lalu.
Masa lalu sebagai cermin, masa sekarang sebagai batu pijakan masa depan, mau dikemanakan perjalanan negeri ini.
Para pendiri negeri sering berpesan untuk tidak serta merta melupakan sejarah.
Sang founding fathers, Bung Karno, mengatakan, “Janganlah melihat masa depan dengan mata buta! Masa lampau adalah berguna sebagai kaca benggala dari pada masa yang akan datang”.
Kaca benggala adalah cermin tebal dan besar yang bisa memantulkan cahayanya untuk merenung dan introspeksi diri.
Untuk membantu telaah, menambal kekurangan, bagian mana yang bagus untuk dikembangkan dengan era kekinian.
Dengan kaca benggala, ketimbang spion atau cermin hias, kita dapat merefleksikan situasi dan kondisi lebih riil, lebih luas dan lebih jauh lagi, sehingga memantulkan kreasi dan inspirasi untuk melakukan perbaikan di era sekarang dan di masa mendatang.
Lantas siapa yang akan bercermin di kaca benggala untuk melihat kelebihan dan kekurangan? Jawabannya kita semua yang merasa sebagai anak negeri.
Dalam filosofi Jawa dikenal: Mikul dhuwur, mendhem jero. Mikul = membawa di atas bahu, dhuwur = tinggi. Mendhem = menanam, jero = dalam. Sesuatu yang harus dijunjung tinggi, dan ditanam dalam–dalam.
Ini anjuran bagi seorang anak untuk dapat menjunjung tinggi kehormatan dan memuliakan orang tuanya.
Sementara sebisa mungkin menyembunyikan segala aib dan kesalahan orangtuanya.
Mengangkat kehormatan dan kelebihan orang tuanya agar semerbak keharumannya. Jika terdapat kekurangan harus ditutupi, bukan diungkit, diobral dan diviralkan.
Lebih–lebih kepada orang yang telah tiada, meninggal dunia, agama apapun mengajarkan untuk mengenang kebaikannya, tetapi tidak menjelek- jelekan keburukannya selama di dunia.
Pitutur luhur ini, bukan sebatas sikap anak kepada orang tuanya. Tetapi, seperti dikatakan pak Harmoko, lewat sejumlah ulasan di antaranya pada kolom “Kopi pagi” nya, bisa diartikan dalam lebih luas lagi.
Bisa kepada orang yang dituakan, tokoh masyarakat, orang yang memiliki kredensial sosial di masyarakat. Tak terkecuali orang yang telah berjasa kepada negeri ini, serta para pemimpin negeri.
Siapapun dia, yang telah menjadi pemimpin negeri ini pasti punya peran memajukan bangsa, sekecil apapun itu.
Kalau masih terdapat banyak kekurangan, selain karena keterbatasan situasi dan kondisi, upaya mewujudkan cita- cita negeri, masih berproses hingga saat ini. Dan, harus terus berproses.
Kalaupun ada kekurangan atau ada yang tidak sesuai, mari kita kawal secara kritis dengan kritik yang membangun bukan menjatuhkan.
Mengambil yang baik di masa lalu kemudian dikembangkan di era kekinian, serta membuang jauh yang buruk, itu bagian dari sikap “mikul dhuwur, mendhem jero”.
Jangan sebaliknya perilaku buruk seperti korupsi, manipulasi, kolusi yang pernah dilakukan ‘orang tuanya’, koleganya, kerabatnya, ikut diteruskan, malah ada yang berjamaah.
Perilaku semacam ini tak sejalan dengan pitutur luhur “mikul dhuwur, mendhem jero”.
Tak juga selaras dengan manusia Indonesia yang berjiwa Pancasilais. (Azisoko *)