Oleh: Irdawati, Wartawan POSKOTA
PAHLAWANKU Inspirasiku. Itulah tema peringatan Hari Pahlawan 2021. Logo peringatan Hari Pahlawan tahun ini menggambarkan bambu runcing, kepalan tangan, buku dan kibaran bendera Merah Putih.
Logo tersebut mengandung makna sosok pahlawan yang pemberani, penolong, tidak mementingkan diri sendiri, inspiratif, serta teguh memperjuangkan kemerdekaan. Mereka adalah panutan bangsa, yang namanya tertoreh indah dalam sejarah.
Hari Pahlawan adalah momentum bangsa Indonesia untuk selalu mengingat peristiwa bersejarah 10 November 1945. Merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini penuh cucuran keringat, darah dan air mata.
Kemarin, 10 November 2021, Presiden Joko Widodo memimpin upacara Hari Pahlawan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang. Di pundak generasi penerus bangsa, kemerdekaan harus diisi dengan mewujudkan kesejahteraan rakyat penuh keadilan.
Kini, 76 tahun setelah kemerdekaan, bukan berarti tak ada tantangan dalam mewujudkan cita-cita luhur para pahlawan. Tantangan berat bukan dari luar semata, melainkan dari dalam.
Bung Karno ketika berpidato dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 1962 mengingatkan, perjuangan mengisi kemerdekaan tidak kalah beratnya dibanding perjuangan merebut kemerdekaan.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Itulah petikan pidato Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pada 10 November 1962 ketika peringatan Hari Pahlawan.
Ucapan presiden pertama RI itu menyiratkan, musuh bangsa ini di masa kemerdekaan justru lebih berat karena ada di dalam.
Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, degradasi moral, korupsi merajalela, itulah musuh kita saat ini. Celakanya, ‘musuh’ itu justru datang dari kalangan yang seharusnya bisa jadi ‘pahlawan’ di bidangnya hingga menjadi panutan masyarakat.
Tengok saja, siapa pelaku korupsi ? Mulai dari elit politik, eksekutif, legislatif hingga yudikatif. Bahkan di kala rakyat sedang ditimpa kesulitan akibat pandemi Covid-19, dana bantuan sosial (bansos) juga dikeplang.
Ironisnya, menteri pun tetlibat. Teranyar, tes PCR (Polymerase Chain Reaction) Covid-19 diduga kuat juga dibisniskan. Telunjuk mengarah ke dua menteri yang dituding menikmati keuntungan bisnis PCR lewat perusahaan mereka. Aroma tak sedap ini pun membuat kegaduhan baru.
Di masa pandemi ini, di saat kondisi sosial ekonomi sedang gonjang-ganjing, rakyat membutuhkan tokoh panutan. Merindukan figur-figur pahlawan.
Bukan sebaliknya disuguhi dengan tingkah polah yang melukai hati rakyat. Negara ini sedang sakit, jangan dibuat makin kronis. Jadilah tokoh panutan, tokoh yang mampu menjadi inspirasi rakyat. **