BIAR jauh lebih tua, janda calon istri Dayoh (27) memang sangat cantik bak artis Wulan Guritno. Maka dari Jakarta langsung ke rumah Pratiwi (43), di Gunung Kidul (DIY) untuk ngelamar pada calmer. Tapi sial, malam harinya si berondong malah “masuk angin”, saat dibangunkan doi sudah wasalam!
Jodoh, rejeki dan kematian itu misteri Illahi, manusia tak bisa memprediksi dan menentukan. Meski sudah pacaran lama, jika memang bukan jodohnya ya takkan finish di ranjang pengantin.
Sebaliknya, bila itu memang pasangannya di muka bumi, meski pacaran baru seminggu, karena berani masuk ruang tamu si gadis, tahu-tahu dituntut nikah dan jadilah dia “mbelah duren”.
Nasib Dayoh, putra Minahasa yang lahir di Tuban (Jatim) dan merantau di Jakarta, sungguh tak dinyana bahwa suratan takdirnya hanya sampai di situ. Dia mati pada usia muda seperti sastrawan Chairil Anwar, yang minta usia seribu tahun, oleh Allah Swt hanya diberi 28.
Tapi Chairil Anwar lumayan, dia selalu dikenang para pelajar SMP dan SMA ketika belajar Sastra Indonesia. Setiap guru Bahasa Indonesia selalu mewajibkan muridnya hapal puisi “Aku” atau “Persetujuan dengan Bung Karno.”
Lha Dayoh ini apa? Apa sudah bikin puisi atau novel? Dia jauh dari dunia sastra, tapi dekat dengan janda cantik Pratiwi, yang usianya terpaut 16 tahun lebih tua darinya. Dia teman sekerjanya di sebuah perusahaan di Jakarta.
Banyak yang naksir janda mirip Wulan Guritno itu, tapi yang ketiban pulung justru Dayoh yang masih nampak lholak-lolhok (culun).
Sebetulnya keluarga judah sudah mengingatkan, apa tak ada wanita muda yang lain. Yang janda-janda biarlah terakomodir oleh kader-kader PKS yang diserukan oleh elitnya untuk poligami dengan janda.
Tapi ternyata ada saja jawaban Dayoh. “Kan seruan PKS sudah diralat lagi, Mak.” Kata Dayoh pada emaknya.
Ya sudahlah kalau maunya begitu, orang tua bisanya hanya memberi restu. Maka
seperti yang terjadi minggu lalu, setelah melengkapi test PCR Dayoh berangkat ke Nglipar Gunung Kidul pakai KA, ke tempat tinggal orangtua Pratiwi di DIY.
Kebetulan si doi juga sudah ada di sana, siap menyambut kedatangan sang arjuna mencari cinta.
Dia tiba di Nglipar sudah pukul 20:00 malam. Orang tua Pratiwi juga kaget lihat penampilan Dayoh calon mantunya yang masih bocih banget bila dibanding dengan usia putrinya.
Tapi karena sudah menjadi pilihan Pratiwi, ya sudah......orang tua tinggal mendoakan saja. Ini sama persis opininya dengan calon besan di Tuban sana.
Karena sudah malam dan capek tentunya, tak etislah kalau Dayoh langsung mengajukan lamaran. Besok pagi saja juga nggak papa, wong tinggal formalitas belaka.
Semua sudah setuju, bahkan sudah disipkan tanggal perkawinannya segala. Maka malam itu Dayoh langsung tidur di kamar sendirian. Lha Pratiwi nggak menemani? Nggak boleh dong, nanti setelah sah jadi suami istri mau nungsang njempalik berdua di kamar ya silakan saja.
Pagi harinya jam 06:00 Pratiwi membangunkan si doi, “Mas, Mas, sudah siang.
Mandi-mandi dulu.....!” Tapi Dayoh tak merespons.
Satu jam kemudian juga tetap seperti itu. Pratiwi jadi curiga, dan ketika dibangunkan ternyata sudah dingin dan tak bergerak. Ternyata Dayoh sudah meninggal. Dokter dan polisi pun didatangkan.
Tonton juga video "Diiming-imingi jadi PNS, Puluhan Warga Lebak Tertipu Puluhan Juta Rupiah". (youtube/poskota tv)
Hasil pemeriksaan, tak ada tanda-tanda kekerasan. Diduga almarhum punya
penyakit asma.
Akhirnya keluarga Tuban yang datang menjemput jenazah Dayoh untuk dimakamkan di sana.
Keluarga Pratiwi asal ditanya Dayoh meninggal sakit apa, gampangnya jawab saja, “Mansuk angin!”
Angin duduk ngkali, ini penyakit berbahaya bagi orang pendek, karena anginnya kalau bangkit langsung nyondol jantung. (gts)