Logo Tepi Pluit

Opini

Suro dan Muharam

Minggu 08 Agu 2021, 06:00 WIB

Selasa 10 Agustus 2021 nanti adalah awal pergantian tahun kalender Jawa yaitu 1 Suro 1955 Jawa.

Sedangkan menurut kalender Hijriah ( Islam ), tanggal tersebut bersamaan dengan tahun baru Islam 1 Muharam 1443 Hijriah.

Maka dari usia kalender perhitungan tahun Jawa lebih dahulu ada dibanding dengan tahun Hijriah.

 

 

Ini berarti kebudayaan Jawa lebih dahulu ada sebelum agama Islam masuk ke Jawa. Dan kita tidak boleh mempertentangkan hasil karya budaya dengan ajaran agama.

Justru kehadiran Islam menyempurnakan budaya Jawa yang sudah ada, yaitu dengan meluruskan doa dan permohonan kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Budaya dan agama seyogyanya bisa saling melengkapi. Apalagi dengan melihat sejarah pesatnya perkembangan agama Islam di Jawa sewaktu jaman Wali Songo.

Saat itu Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga menjadikan budaya sebagai media dakwah; mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk memeluk agama Islam.

Disamping itu para wali juga meluruskan jika terdapat hal yang bertentangan dengan akidah. Begitu juga dengan tradisi Suro yang justru saling melengkapi serta menyempurnakan.

Bulan Suro bagi sebagian masyarakat Jawa masih dianggap wingit. Sepanjang bulan pembuka tahun kalender Jawa tersebut, lazimnya diisi dengan tradisi yg lebih berorientasi spiritual. Masyarakat Jawa banyak mengisi dengan laku prihatin.

Ada yang melakukan tirakat, puasa, serta ritual yang lain, misalnya ruwatan yang bertujuan untuk membersihkan diri serta memperbaiki kehidupan spiritual.

Termasuk membersihkan benda pusaka, atau juga melarung benda yang dianggap berenergi tidak baik untuk kehidupan mereka.

Adapun tujuan dari pelaksanaan upacara Suro yang berkembang di masyarakat yaitu ada tiga hal.

Pertama, sebagai ungkapan rasa syukur kepada yang Maha Pencipta.

Kedua, sebagai pembersihan yang bertujuan untuk membersihkan dari hal yang dianggap kotor, dengan harapan agar hal yang kotor tersebut hilang dan akan tercipta kebaikan.

Ketiga, upacara bersifat untuk membangun keharmonisan. Bertujuan agar terjadi sinergi antara elemen elemen kehidupan.

Peran agama masuk dalam tiga tujuan upacara tersebut dengan meluruskan doa dan permohonan kepada Tuhan YME.

Dengan terbangunnya harmonisasi, kita berharap kehidupan bisa selaras dan seimbang dan tujuan di tahun yang baru nanti dapat tercapai dengan lebih baik lagi.

Dan sudah sepatutnya kita terus melestarikan budaya Jawa dan juga budaya lokal lainnya sebagai jati diri bangsa ditengah gempuran globalisasi dan budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia.

Tags:
tepi-pluitOpinisuro dan muharambudaya jawabudaya lokalupacara suroacara muharam

Administrator

Reporter

Administrator

Editor