JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Workshop Sastra Saraswati Sewana bertema Sastra Bali Klasik, yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud sukses menjadi sorotan.
Penyelengaraan workshop itu merupakan rangkaian kegiatan penulisan kreasi sastra, Sastra Saraswati Sewana, Pemarisuddha Gering Agung.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana mengaku lihat tekad peserta dan narasumber workshop yang dilakukan selama 3 hari yang sudah diselenggarakan.
Hal itu ia ungkapkan melalui Instagramnya, di Instagram @dwipayanaari, pada Minggu (6/6/2021)
"Dari tiga hari workshop #sastrasaraswatisewana yang diselenggarakan oleh Yayasan @purikauhanubud, saya melihat semangat yg luar biasa dari para peserta maupun narasumber untuk mengembangan dan memajukan bahasa dan aksara Bali," tulis @dwipayanaari.
Dalam keterangannya, Ari Dwipayana juga menceritakan agenda acara yang dilakukan selama tiga hari itu.
"Workshop hari pertama dengan tema sastra Bali modern, pesertanya mencapai 300 orang. Narasumbernya dua anak muda yg hebat dan gokil: @sup.art.ika dan @dharmaputra432. Mereka anak muda kekinian yg sdh menggurat prestasi I Gde Agus Darma Putra adalah peraih anugerah sastra Rancage 2018. Sedangkan Supartika mengembangkan media @suarasakingbali," cuitnya.
Sebelum mereka berdua tampil, peserta mendapatkan motivasi dari I Ketut Sumarta, seorang sastrawan Bali yg pernah memimpin redaksi Majalah Gumi Bali SARAD. Karya2nya juga cukup banyak. Ketut Sumarta mengatakan menulis satra Bali itu tidak sulit.
"Hari kedua workshop masuk ke sastra Bali klasik. Temanya ngawi geguritan dan ngawi kidung. Narasumbernya juga luar biasa: I Dewa Gede Windhu Sancaya dan I Wayan Suteja. Keduanya adalah dosen senior di Fakultas Budaya UNUD. Mereka bukan hanya pengajar tapi juga pegiat sastra. Pak Windhu menjadi pengasuh rembug purnama Bhadrawada di Pura Jagadnata, Denpasar. Sedangkan dalam workshop ini, Pak Wayan Suteja menyampaikan materi tentang Ngawi Kidung. Tema ngawi kidung memiliki tantangan sendiri karena sejak lama karya Kidung blm pernah terlahirkan. Sebagian besar adalah penikmat dan penyanyi kidung," sambungnya.
Di hari ketiga, workshop mengambil tema Ngawi Satua dan Ngawi Kekawin, workhshop di hari ke tiga itu dipandu sangat menarik oleh oleh AA Sagung Mas Ruscita Dewi
"Hari ketiga workshop mengambil tema Ngawi Satua dan Ngawi Kekawin. Ngawi Satua untuk anak2 dibawakan sangat menarik oleh AA Sagung Mas Ruscita Dewi. Bu Mas juga seorang penggerak sastra Bali. Karyanya juga sudah cukup banyak. Setelah itu, workshop dilanjut dengan tema ngawi Kekawin. Ini tema yg berat. Tapi tema berat ini dibawakan dg enteng oleh talenta muda hebat, Putu Eka Guna Yasa @guna.yasa," tulis keterangannya. (cr09)