Sekretaris DKI, Marullah Matali. 

Opini

Makna Sabar

Rabu 05 Mei 2021, 08:00 WIB

Oleh : Sekretaris DKI Marullah Matali 

BILA kita melihat fi lm, kerap kali terkesan bahwa orang sabar adalah figur yang tertindas, lugu, mudah ditipu, dan bisanya hanya menangis sendirian. Orang semacam ini menjadi pemenang hanya di episode terakhir saja sedangkan sebelumnya selalu kalah dan me ngalah.

Sedikit banyak tontonan semacam ini masuk ke alam bawah sadar penonton yang membentuk pemahaman bahwa orang sabar adalah orang lemah. Bila kita lihat secara objektif, yang seperti itu sejatinya bukanlah sabar, tapi justru lemah.

Lemah itu secara umum tidak baik. Mukmin yang lebih disukai Allah bukanlah yang lemah tapi yang kuat, seperti diterangkan oleh Nabi dalam hadits berikut: Al mu’minul qowiyyu khoirun wa ahabbu ilal loohi minal mu’minidh dho’iifi , wafi i kullin khoirun. (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan masingmasing adalah baik. HR Muslim).

Lalu sabar itu apa? Makna asli kata ashshabru adalah tahan sehingga ada istilah shobbarol jits-tsah yang secara literal berarti “menyabarkan” bangkai. Maksudnya adalah membuat bangkai menjadi tahan lama tak mudah membusuk.

Sehingga kata sabar maksudnya justru kuat tahan banting dan tak mudah hancur. Dengan makna ini kita bisa memaknai ayat berikut dengan tepat: Qoolal ladziina yadzhunnuuna annahum mulaaqul looh.

Kamm min fiatin qolilatin gholabat fiatan katsiirotan bi idznil laah. Walloohu ma’ash shoobiriin. (Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Betapa banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’ Dan Allah bersama orangorang yang sabar. QS Al-Baqarah: 249).

Ayat tersebut bercerita tentang para prajurit yang tahan banting sehingga meskipun jumlahnya sedikit tetapi mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak.

Merekalah yang disertai oleh Allah dengan kemenangan. Di ayat lain malah lebih jelas bahwa sabar artinya adalah kuat. Allah berfirman: Waka-ayyim min nabiyyin qootala ma’ahuu ribbiyyuuna katsiir. Famaa wahanuu limaa a-shoobahum fii sabiilillaah.

Wamaa dho’ufuu wamas takaanuu. Walloohu yuhibbush shoobiriin. (Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).

Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. QS Ali ‘Imran: 146). Ayat terakhir ini menjelaskan kriteria orang sabar adalah dia yang tidak lemah, tidak mudah patah semangat atau menyerah.

Ini semua adalah kriteria Muslim yang kuat sebagaimana disinggung Rasulullah. Jadi, sabar bukanlah sifat bagi mereka yang lemah yang selalu kalah. Justru sebaliknya, ia adalah sifat bagi para pemenang yang selalu unggul baik ketika jumlahnya sedikit dan tertindas hingga jumlahnya besar dan mayoritas.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa Rasulullah dan para sahabat selalu sabar dalam setiap kondisi. Ketika mereka minoritas dan ditindas di Makkah, tak ada yang berpaling, menyerah atau kompromi soal aqidah Islam. Semua tetap tegas dan kuat meskipun dalam siksaan kaum Quraisy.

Demikian pula ketika di masa pasca Hijrah di Madinah, mereka tetap sabar dan tahan banting dengan pasukan yang jumlahnya lebih sedikit. Ketika menahan diri mereka bersabar, ketika perang terbuka pun mereka sabar. Dengan modal kesabaran ini, maka umat Islam awal tersebut meraih kemenangan gemilang.

“Jadi sabar itu kuat, tahan banting, tidak mudah hancur, tidak lemah, tidak mudah patah semangat atau menyerah”. Kita terkadang memaknai sabar dengan lemah, sebagai contoh:

1.Mengajar Al-Qur’an ada kesalahan dibiarkan saja, karena tidak enak menyinggung perasaan, apalagi yang mengaji orang tua. Padahal harus diperbaiki bacaannya.

2.Melihat kemaksiatan di sekitar kita, tidak berani menegur dan mencari jalan agar bisa menasehatinya, tapi membiarkannya dengan alasan tidak berani, dengan alasan hak asasi, dengan alasan tidak punya wewenang memberhentikannya.

3.Tidak berani berdebat dalam rangka mencari yang lebih unggul dan lebih akurat, lebih benar, dengan alasan tidak baik berselisih, tapi malah menikam dari belakang, merongrong dari luar, menggembosi karena tidak sependapat. Semoga kita menjadi orang yang sabar yang berdasarkan Al-Qur’an. (*)

Tags:
Cahaya RamadanSabarMarullah Matali

Administrator

Reporter

Guruh Nara Persada

Editor