PNS memang dilarang poligami, padahal hasrat Warsito, 51, tinggi sekali. Karenanya, dia harus pandai-pandai berstrategi.
Wiwik, 51, WIL yang merupakan bekas pembantu orangtuanya, secara periodik mengunjungi rumah kedua Warsito di Paliyan. Tapi sial, saat “jemput bola” eh meninggal gara-gara mangsuk angin.
Gaji PNS itu hanya cukup untuk hidup sederhana, karenanya mereka dilarang punya WIL. Sebab PNS berani punya WIL akan mengakibatkan pikirannya macem-macem agar dapat uang banyak.
Cara paling gampang, jika punya jabatan ya korupsilah! Jika tak sampai korupsi, tentu dia tak bisa fokus akan pekerjaannya sebagai abdi negara. Sebab pikirannya muter terus bagaimana dia punya WIL tetap aman, sementara istri di rumah tak sampai menyimpan kecurigaan.
Oknum PNS cerdik pandai itu adalah Warsito, warga Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul yang dinas sebagai guru Kesenian di SMP Saptosari. Karena punya WIL itu harus juga punya seni, maka cocoklah dia sebagai guru Kesenian.
Lalu bagaimana seninya guru Kesenian punya WIL? Ya dia harus punya dua rumah. Satu rumah pribadi di Sleman yang ditinggali istri dan anak-anaknya, dan satu lagi rumah pribadi di tempat berjauhan, yang secara periodik bisa dijadikan ajang kelonan bersama WIL.
WIL guru Warsito bukanlah orang asing dalam keluarganya. Sebab Wiwik ini dulu pernah menjadi pembantu pada orangtuanya. Dalam usia 40 tahunan kala itu, Warsito sudah nginceng Wiwik yang baru saja menjanda, padahal dia sudah punya istri dan anak.
Demi keselamatan keluarha Warsito, pembantu Wiwik langsung dikeluarkan dan pulanglah dia ke kampung asalnya di Paliyan.
Ee, ndilalah kersaning Allah, tugas mengajar Warsito dipindahkan dari Sleman ke Kecamatan Saptosari. Jelas Saptosari-Sleman jauh sekali, sehingga dia beli rumah di Paliyan yang memang dekat tempatnya mengajar.
Sayangnya, anak istrinya juga tak mau ikut pindah karena pertimbangan sekolah anak-anaknya juga.
Ini jusrtu sangat menguntungkan bagi Warsito, sebab rumahtinggal Wiwik eks pembantu orantuanya juga berdekatan dengan rumah baru Pak Guru Kesenian tersebut.
Ini kan sama saja kucing mendekati dendeng, yang sama sekali di luar perhitungan keluarga Warsito di Sleman.
Dan memang itulah yang terjadi. Dendeng atas nama Wiwik ini sering mendatangi kucing Warsito di rumah Paliyan. Mereka bisa dengan bebas menuntaskan hasrat dan syahwatnya.
Jika Warsito tak pulang menemui keluarganya di Sleman, dia punya “leman” sudah terpuaskan bersama Wiwik yang sangat mengasyikkan di kala diajak wik-wik. Bayangkan, serumah hanya berdua, sehingga “minakjingga” (miring penak njengking mangga) bukanlah hil yang mustahal.
Lama-lama warga mencium gelahat Pak Guru yang tiap minggu berbuat saru tersebut. Mereka sudah berusaha untuk menggerebeknya, tapi pasangan mesum Wiwik-Warsito memang bak belut berkubang olie, licin sekali!
Selalu ketinggalan moment, tak bisa menangkap pasah ketika Wiwik melakukan gerakan “jemput bola” dalam arti ya bolanya Warsito yang jauh dari standar PSSI.
Tapi kan Gusti Allah ora sare, gampang saja jika ingin mempermalukan umatnya yang berbuat melampui batas sebagai kholifah di muka bumi. Ketika Wiwik datang malam hari, mendadak dia masuk angin padahal MU – AC Milan belum dimulai.
Warsito pun berusaha ngeroki sebisanya pakai minyak angin. Tapi meski sudah diwes hewes berulangkali, tidak bablas angine, melainkan bablas nyawane Wiwik.
Gegerlah warga desa itu. Mayat Wiwik diantarkan Warsito ke rumah keluarganya. Tapi masalahnya tak sampai di situ saja. Ketika polisi turun tangan, justru yang terungkap skandal “dua-W” selama ini.
Tak jelas bagaimana sikap istri Warsito di Sleman, jarang pulang ke rumah ternyata suami kembali ke bekas pembantu orangtuanya. Undang-undang saja bisa kembali ke UUD-1945, apa lagi hanya kembali ke WIL lama. (GTS)