MEDSOS telah mengubah etika anak muda milenial. Tejo (36), anak muda dari Yogya, viral di medsos, karena memutihkan utang teman-temannya yang terkumpul sampai Rp16 juta lewat FB. Alasannya: ketimbang memutuskan persahabatan.
Utang sudah menjadi budaya orang Indonesia. Jangankan rakyatnya, pemerintah pun melakukan utang untuk membangun negara. Sejak Orde Baru budaya utang oleh rakyat makin berkembang sehubungan dengan adanya rumah cicilan (BTN-Perumnas), disusul oleh kartu kredit dan leasing kendaraan baik mobil maupun motor.
Tapi utang sejenis itu banyak persyaratannya, karena jangka panjang. Paling praktis dan mudah adalah utang-piutang antar pertemanan dengan garansi kepercayaan saja. Ini utang jangka pendek dan dadakan, kalau orang Jawa mengistilahkannya: nyebrak.
Jika orangnya jujur, akan dikembalikan dengan cepat. Tapi jika ada niat untuk menipu bisa berlama-lama sampai lupa. Ada juga utang saking lamanya, pakai perjanjian kurs emas. Boleh kembalikan kapan saja, tapi saat mengembalikan jumlah uang itu harus bisa untuk beli emas sebanyak ketika kesepakatan itu dibuat.
Ada lho, yang pinjamnya tahun 1995, baru dikembalikan tahun 2017 dengan jumlah tetap Rp5 juta seperti saat utangnya dulu. Alasannya, “Ditambah Rp1,- pun sampeyan sudah makan riba.” Maklum, pengingkar kesepakatan itu sekarang sudah pakai jenggot dan celana cingkrang. Mungkin dia sudah konsultasi sama ahli dari kelompoknya.
Adalah Tejo, anak muda milenial dari Yogya. Namanya sempat viral di medsos karena dia memutihkan utang teman-temannya yang dibuat sejak tahun 2012 hingga 2018. Jumlahnya tak banyak sih, hanya Rp16 juta. Yang menarik, Tejo ini sudah bertindak seperti Bank BTN saja, ketika para pencincil rumah itu nunggak cicilan langsung diumumkan di koran.
Para pengutang sebanyak 10 orang itu disebut satu persatu. Si A utang Rp 1,5 juta untuk bayar kuliah anaknya tahun 2014. Tapi sampai anaknya sudah sarjana, tapi tak dikembalikan juga. Ada juga si B pinjam Rp10 juta untuk bayar kontrakan (2017), tapi sampai sekarang tak ada kabarnya. Dan bla bla bla…..masih banyak yang lain.
Para pengutang ini juga aktif di WA, sehingga Tejo menagihnya lewat japri, tapi nggak ada respon. Ketimbang memutuskan persahabatan, akhirnya utang-utang tersebut diputihkan alias dihapuskan. Tejo mengumumkan lewat FB dengan alasan, sama sekali tak bermaksud mempermalukan, karena hanya nama tanpa alamat.
Begitulah orang kita, banyang yang rajin utang tapi ditagih mbeler. Sebab orang-orang ini merasa, saat dapat pinjaman seperti putus lotre, tapi begitu ditagih rasanya seperti dirampok. (gunarso ts)