JAKARTA – Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu kalimat yang tepat diberikan kepada para perantau yang saat ini terjebak di ibukota.
Pasalnya, warga pendatang ini hanya bisa menjadi penonton, saat warga DKI menerima bantuan dari pemerintah ditengah pandemi Covid 19 yang membuat warga tersiksa.
Inilah yang dialami Emong Kusnandar (43), pria asal Kuningan, Jawa Barat, yang saat ini mengontrak di wilayah Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.
Pria yang tak memiliki KTP DKI ini, sama sekali tak mendapat bantuan ditengah pandemi Covid 19. "Ya karena bukan warga sini nggak bakalan dapat lah, soalnya yang KTP asli sini saja ada yang gak kebagian," tuturnya.
Dikatakan Emong, disaat tetangganya sibuk mengangkut paket sembako yang didapat dari pemprov DKI, ia hanya menjadi penonton setia. Meski berharap bantuan itu juga dirasakan, namun ia hanya bisa menelan ludah.
"Iri juga melihatnya, cuma mau gimana lagi. Namanya nggak terdaftar sebagai penerima, masa kita harus memaksa," ujarnya.
Karena bantuan yang diberikan selama ini mengacu pada KTP warga, Emong memang agak sedikit kecewa. Karena bila memang kondisi hidup yang selama ini menjadi tolak ukur sebagai penerima bantuan, ia pun mengaku masuk kategori.
"Tinggal disini kan mengontrak rumah petak, agar bisa untuk istirahat saja. Soalnya rumah yang ditempati juga hanya berukuran 3x5 meter, cuma buat tidur malam saja," tuturnya.
Atas kondisi yang dirasakan itu, Emong menilai lengkaplah penderitaan yang dialaminya. Pasalnya, pria yang sehari-hari berjualan di warung kelontong ini juga mengaku pemasukannya cukup berkurang. "Yang beli sepi, pemasukan nggak ada. Mau pulang kampung nggak bisa, ya udah begini-begini saja," imbuhnya.
Ditengah pandemi Covid 19, Emong mengaku hanya fokus untuk berjualan dengan harapan dagangannya laku keras. Hal itu agar keuntungan yang didapat bisa mengirim uang untuk anak dan istri di kampung halaman.
"Sekarang juga sudah nggak mikirin pulang kampung. Yang penting dagangan laku, dapat uang kirim ke kampung biar anak istri tenang," ungkapnya.
Selama pandemi Covid 19 ini juga, Emong mengaku pemasukannya terus turun drastis. Dimana dari hasil penjualan rokok, minuman dan mie, dalam satu hari ia hanya mengantongi uang Rp75 ribu. "Kalau waktu belum Corona mah sehari duit Rp200 ribu masih ketemu. Sekarang yang beli aja sepi karena sudah nggak ada yang keluar rumah," pungkasnya. (ifand/tri)