JAKARTA - Banjir yang merendam kawasan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, membuat pasangan suami istri (pasutri) terjebak di lantai dua rumahnya. Satu orang tewas akibat kedinginan dan kekurangan makanan setelah mereka tak bisa menyelamatkan diri akibat genangan setinggi 4 meter.
Nawa (76), yang nyawanya tak bisa diselamatkan, sementara suaminya Muhammad Ali, 82, kritis. Keduanya terlambat menyelamatkan diri saat air kiriman dari Bogor yang melintas di aliran kali Sunter menggenangi rumahnya. Pasangan renta itu pun diketahui hanya bisa terdiam diri di lantai dua rumahnya saat petugas melakukan evakuasi.
Nur Hasanah, 46, anak korban yang hanya bisa pasrah melihat kedua orangtuanya mengalami nasib seperti itu. Terlebih, petugas baru bisa menolong keduanya sekitar pukul 16.00 saat air mulai perlahan surut. "Saya awalnya dapat kabar keduanya terjebak didalam rumah, dan sampai siang belum bisa diselamatkan," katanya, Rabu (1/1/2020).
Menurut Nur, sebenarnya ia tinggal satu rumah dengan Ali dan Nawa di rumah yang terletak di RT 004/04 Cipinang Melayu. Namun sejak kemarin Nur bersama keluarga pergi untuk merayakan tahun baru ke Bandung. "Biasanya kalau banjir memang keduanya naik ke lantai dua rumah, tapi kali ini banjirnya lebih parah," ujarnya.
Sementara itu, Ketua RW 04 Cipinang Melayu Irwan Kurniadi mengatakan, sekitar pukul 16.00 pasutri tersebut akhirnya berhasil dievakuasi. Nahas saat dievakuasi petugas gabungan Nawa sudah meregang nyawa, sementara Ali dalam kondisi kritis.
"Istrinya meninggal, untuk suaminya dalam kondisi kritis. Istrinya meninggal karena terjebak di rumahnya saat banjir, jadi kelelep di air," ujarnya.
Keduanya, kata Irwan, tak sempat menyelamatkan diri bersama warga RW 04 lainnya, saat debit air luapan Kali Sunter meluap sekira pukul 02.00. Terlebih, air yang menggenangi kawasan itu mencapai empat meter.
"Suaminya tadi mungkin dibawa ke RS Budhi Asih, karena yang jaraknya dekat. Kondisinya tadi kritis, tapi saya enggak tahu kondisi pastinya," ujarnya.
Irwan menuturkan, evakuasi terhambat karena derasnya arus sehingga perahu karet petugas gabungan sulit menjangkau lokasi. Sejak pukul 06.00, petugas gabungan dari TNI-Polri, Basarnas, dan Damkar sudah berupaya mengevakuasi warga RW 04. "Nggak ada yang bisa masuk, arusnya deras sekali, makanya menunggu agar sedikit pelan," ujarnya.
Irwan mengaku, di lingkungannya, sebanyak 690 kepala keluarga (KK) yang terdampak banjir. Hal itu juga membuat proses evakuasi tak sepenuhnya mulus. "Sekarang sudah semua warga dievakuasi. Untuk yang tadi meninggal dan jasadnya dievakuasi pukul 10.00 WIB bukan warga RW 04," tuturnya.
Irwan menambahkan, ratusan warganya sudah mengungsi di masjid Universitas Borobudur karena air belum juga surut. Untuk jumlah pastinya, Irwan mengaku masih terus melakukan pendataan. "Masih pendataan, karena masih sibuk urus warga yang perlu di evakuasi dulu," pungkasnya. (Ifand/win)