SEJARAH mencatat, enam gadis berdarah Minangkabau yang berasal dari Ranah Minang, menjadi pencetus lahirnya Polwan (Polisi Wanita). Lahir 1 September 1948 di Bukittinggi, Sumatera Barat, kini sudah melahirkan puluhan ribu Polwan yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Seiring waktu berjalan, Polwan kini menempatkan diri dalam berbagai aspek penting. Salah satunya AKP Silfia Sukma Rosa Tanjung. Perwira menengah ini, kini menjabat Kapolsek Babakan Madang. Tugas ini dia emban dengan penuh tanggung jawab. Tindakan tegas kerap dia ambil. Tak ada ampun bagi pelaku kejahatan yang mengganggu apalagi menimbulkan kerugian di masyarakat. Pengungkapan sejumlah motor Ducati hasil kejahatan adalah satu dari sekian karya yang sudah dia kerjakan. Baginya, masyarakat harus mendapat manfaat dari jabatan yang diembannya. Lahir di kota Meulabo, Aceh Utara, 21 Desember 1984, bungsu dari dua bersaudara ini, polisi bukanlah cita-cita awalnya. Akan tetapi takdir menghantarnya menjadi polisi. “Saat di SMA 3 Padang, kepala sekolah menyarankan saya masuk Polwan,” kenanganya. Kala itu, bermula saat taruna dan taruni Akpol sosialisasi di sekolahnya. Silfia muda yang semula bercita-cita menjadi dokter, mulai tertarik. “Kamu cocok jadi Polwan. Masuk Akpol, ya,” kata kepala sekolah kala itu. Lulus SMA pada 2003, Silfia mendaftar Akpol di Polda Sumatera Barat. Tak sia-sia. Dia adalah satu dari dua wanita yang dinyatakan lulus Akpol tahun 2006. Polres Gianyar, Polda Bali, tempat pertama Silfia berdinas. Empat tahun dia mengabdi di pulau dewata dengan posisi Kanit Patroli. Dewi fortuna menghantarnya menuju tanah Pasundan. Tahun 2009, ibu satu anak ini resmi berdinas di Polrestabes Bandung, hingga akhirnya dia harus masuk PTIK tahun 2012. GENERASI KARTINI "Ada enam perempuan yang menjadi perintis Polwan Indonesia. Saya adalah generasi dari enam kartini pemberani ini,"kata Polwan berjilbab ini. Bagi AKP Silfia, Polwan bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita, baik korban maupun pelaku kejahatan. Sisi humanis dan program sosial yang langsung menyentuh masyarakat, menjadi skala prioritas kerja dari mantan Kasat Lantas Polres Cimahi ini. "Saya bangga jadi pelayan masyarakat. Suami, orangtua dan anak terus memberi motivasi. Polwan itu harus humanis sekaligus bisa menjadi negosiator," katanya. Bagi istri dari Tri Suhartanto, yang juga seorang polisi berpangkat Kompol, jika enam gadis remaja berdarah Minangkabau, pencetus Polwan yang pensiun dipangkat Kombes, maka dia bercita-cita, ingin pensiun di pangkat Jenderal. "Idola saya, Jenderal Basaria Panjaitan. Maka saya juga bercita-cita dapat pangkat seperti idola saya," kata mantan Kasat Lantas Polres Bogor ini optimistis. (yopi/iw)
MEGAPOLITAN
AKP Sifia, Kapolsek Babakan yang Ingin Pensiun Berpangkat Jenderal
Kamis 31 Okt 2019, 08:07 WIB