"Apa yang Kau Berikan"

Kamis 05 Sep 2019, 06:06 WIB

Oleh Harmoko "Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu" Ungkapan ini sangat populer. Bahkan sering diungkap pejabat untuk memberi motivasi kepada warganya, utamanya generasi mudanya. Melihat historinya, ungkapan ini disampaikan oleh John F.Kennedy ketika diambil sumpahnya menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 1961. Pada pidato pelantikannya, Presiden AS ke-35 ini berseru:  “*Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country !”.* Meski ungkapan itu disampaikan 58 tahun lalu, tetapi masih tetap aktual. Saat itu, Kennedy memotivasi seluruh rakyatnya untuk memberikan   sesuatu kepada bangsanya. Sesuatu yang dimaksud, tentu bukan harta benda, tetapi kemampuan ilmu dan pengetahuan, keterampilan,  keunggulannya, kreativitasnya, inovasinya, hasil karyanya untuk kemajuan negaranya. Kita sepakat memberikan sesuatu kepada negara sejatinya bukanlah permintaan, tetapi kewajiban rakyat untuk negaranya. Karena di dalam haknya sebagai warga negara, terdapat pula kewajiban. Perlu ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika dicermati, satu hal yang hendak dicapai adalah mengubah pola pikir dari meminta menjadi memberi. Jika sikap semacam ini dilakukan bersama - sama oleh seluruh rakyat akan menjadi kekuatan besar membangun bangsa. Ini sekaligus untuk memunculkan kesadaran bahwa memulai dengan "memberi" jauh akan lebih baik hasilnya ketimbang memulainya dengan berharap jatah atas haknya dari negara. Untuk era kekinian sikap hidup yang demikian berperan sebagai pembangkit semangat generasi muda agar terus berkarya, setidaknya bagi dirinya dan komunitasnya. Di zaman serba digital, pemuda harapan bangsa harus penuh dengan karya nyata. Pemuda zaman "now" harus mampu merespons perkembangan, termasuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka yang tak memiliki keunggulan, akan tergeser dan akhirnya tersingkir karena tak mampu bersaing dengan pemuda lain di zamannya, era generasi milenial seperti sekarang ini. Dengan kemahiran menguasai teknologi dan beragam sarana yang mudah tersedia, generasi milenial lebih banyak peluang menciptakan keunggulan, ketimbang generasi sebelumnya. Hendaknya terjadi loncatan prestasi jauh ke depan mewujudkan impian sebagaimana karakter generasi yang   menyukai hal - hal yang bersifat instan. Prestasi tak harus berupa sebuah produk barang - bersifat kebendaan. Membuat sistem, merangkai tatatan dalam satu lingkungan menjadi lebih baik, lebih dinamis dan maju, itu sebuah prestasi. Beragam prestasi dapat diciptakan untuk kemajuan lingkungan. Ini yang perlu diedukasi bagaimana generasi era kini yang kurang peduli kepada lingkungan diubah menjadi sangat peduli. Generasi milenial yang cenderung idealis, kritis dan analitis hendaknya tetap realistis, melihat kondisi sekitarnya. Kita memang harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, tetapi harus cermat pula melihat alat yang dijadikan dasar pijakan. Itulah yang disebut jati diri. Kita memang harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan, mengikuiti situasi era kini yang segala sesuatunya bergerak cepat, dunia menjadi tanpa batas, informasi dapat diperoleh kapan saja, di mana saja dan dari mana saja. Meski begitu, landasan berpacu harus kuat agar tidak goyah oleh hentakan. Kekuatan terletak kepada sikap bijak kita memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Sebut saja media sosial. Di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, memperkaya diri  dan memajukan lingkungan. Sebaliknya dapat digunakan untuk menyebar ketidakbaikan, kebohongan. Diri kita yang dapat menyikapi apakah akan menjadikannya untuk memajukan negeri  atau ikut larut memproduksi dan menyebar ketidakbaikan, kebohongan - hoax. Kontrol diri sejatinya ada pada diri masing- masing pribadi. Itulah sebabnya menjadi kurang tepat sekiranya negara terlalu ketat membatasi warganya dalam mengakses kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Beri keleluasaan sebagai upaya memotivasi generasi era kini mengukir prestasi melalui kreasi dan inovasi yang dimiliki. Beri kesempatan kepada kaum milenial memperoleh manfaat sebesar- besarnya sepanjang mampu melaksanakannya. Membuka peluang seluas mungkin untuk mendapatkan "semua yang Anda bisa". Yang perlu diedukasi kemudian adalah kontrol diri cara mendapatkannya. Dan, tak kalah pentingnya mengubah mindset dari "mendapatkan semua yang Anda bisa"  menjadi " berikan yang kamu bisa" kepada lingkungan sekitarnya. Lebih luas lagi kepada bangsa dan negara. Itulah bentuk kontribusi yang secara terus menerus perlu diedukasi. (*).


News Update