Ojo Dumeh

Kamis 18 Jul 2019, 06:49 WIB

Oleh Harmoko   BANYAK ceritera rakyat yang menggambarkan bahwa kesombongan pada akhirnya akan mendatangkan bencana dan petaka bagi dirinya. Begitu juga banyak dongeng untuk anak - anak yang menceritakan bahwa keburukan hendaknya ditinggalkan karena akan mendatangkan kesengsaraan. Sementara kebaikan akan membawanya kepada kebahagiaan. Sebut saja ceritera "Bawang merah bawang putih", "Cinderela" dan masih banyak lagi. Boleh jadi itu hanyalah ceritera rakyat atau dongeng, tetapi sarat makna karena tujuannya adalah mengedukasi anak sejak dini agar senantiasa berperilaku baik terhadap sesama, bukan mengedepankan keburukan. Tak ada agama yang mengajarkan keburukan. Semuanya mengajak kita berlomba berbuat kebaikan, di antaranya menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak dan takabur. Kisah Raja Fir'aun menggambarkan kesombongan membawa kebinasaan. Orang yang takabur akan hancur dan terkubur. Dikisahkan di dalam Al-Quran, bagaimana Allah SWT menghukum Fir'aun bersama bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka di Laut Merah. Ketika itu Nabi Musa AS pergi meninggalkan kota Memphis menuju ke Laut Merah. Fir'aun dan bala tentaranya menyusul dari belakang. Setibanya di tepi Laut Merah, Allah perintahkan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, secepat kilat laut pun terbelah, bukan surut. Nabi Musa dan pengikutnya menyeberang lautan yang terus terbelah sampai mereka semua selamat tiba di seberang. Setelah itu laut menutup menenggelamkan Fir'aun beserta pengikutnya. Secara etimologi sombong berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memadankan dengan congkak, pongah. Kesombongan adalah keangkuhan, kecongkakan, takabur. Dalam filosofi Jawa juga diajarkan  agar kita tidak pongah dikenal dengan istilah "*ojo dumeh*". Ojo = jangan. Dumeh= mentang -mentang. Ajakan untuk selalu introspeksi diri ketika seseorang sudah dihinggapi sifat "dumeh" karena telah menyandang sejumlah predikat baik harta benda, pangkat, jabatan dan kedudukan. Yang ingin ditanamkan adalah nilai kepedulian diri terhadap sesama manusia, lingkungan sekitar dan tanggung jawabnya kepada Sang Pencipta yang telah memberikan beragam predikat tadi. *Ojo dumeh* adalah filter agar tidak berperilaku berlebihan. Agar bisa mengesampingkan semua keinginan pribadi dengan mempedulikan orang lain, meski mampu secara materi, pangkat, jabatan dan kedudukan. Kita boleh saja menjadi apa yang diinginkan dan dikehendaki karena segala fasilitas dimiliki. Tetapi bukan lantas tidak menghargai dan menghormati keberadaan orang lain. Istilahnya "*ngono yo ngono, ning ojo ngono*" - begitu ya begitu, tapi jangan sampai begitu karena di sekitar masih ada orang lain yang bisa saja merasa tersakiti. Menerapkan filosofi *ojo dumeh* berarti kita senantiasa menempatkan orang lain untuk dihargai dan dihormati apa pun status sosial ekonominya. Menganggap orang lain pada posisi yang sangat manusiawi. Bukan sebaliknya mengorbankan orang lain karena posisinya. Melengkapi filter diri, ada pepatah yang menyebutkan " *ojo dumeh mundak keweleh*" - jangan sombong, jangan merendahkan orang lain,  nanti bisa membuat malu diri sendiri. Ini ajakan kepada kita semua agar selalu introspeksi diri mengingat tak ada yang langgeng di dunia ini. Kehidupan itu ibarat roda berputar, ada kalanya di atas penuh dengan segala fasilitas, kalanya di pinggir karena kedudukan mulai tersingkir, suatu saat bisa di bawah, lebih rendah dari orang yang dulu berada di bawahnya. Nilai - nilai falsafah sederhana ini sejatinya sudah lama menjadi pitutur luhur bagi bangsa Indonesia. Jika diterapkan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, akan menjadi kekuatan besar dalam menyejahterahkan dan membahagiakan bangsa. Ini harus dimulai dari diri kita sendiri, lebih - lebih bagi para pejabat negeri pada semua lini. (*)


News Update