Oleh Harmoko DALAM nilai transaksi jual beli barang dikenal istilah harga pokok, harga dasar, harga nominal, harga banderol dan harga pasar. Untuk kepentingam meningkatkan penjualan dikenal harga diskon, harga promo (umpan), harga obral, harga karet, harga borongan dan harga miring. Tetapi ada juga harga pas atau harga mati atau harga yang tidak bisa ditawar lagi. Harga pas atau harga mati itu dijumpai dalam bisnis retail era modern, tampak di toko - toko swalayan, super market, dan kini sudah menjamur di mini market dengan menempatkan label harga pada produk yang dijual. Calon pembeli tinggal mencari barang yang dibutuhkan, cek harga dan langsung membayar di kasir. Tak perlu bertanya lagi berapa harganya, apalagi menawar. Peluang tawar menawar dalam transaksi masih terjadi di pasar tradisional mulai dari sayuran, buah - buahan hingga perabotan rumah tangga. Mulai dari kebutuhan dapur hingga baju- perlengkapan tidur. Meski pedagang sudah menempelkan label harga pada baju yang dijual, tetap saja terbuka peluang untuk saling tawar menawar. Penjual dan calon pembeli masih bisa bernegosiasi, berinteraksi, sehingga penentuan harga benar-benar pas sesuai kesepakatan. Belakangan kita sering mendengar kata - kata "harga mati" , tetapi konteksnya bukan dalam transaksi jual beli. Istilah "harga mati" yang satu ini kembali populer, setidaknya, dalam dua tahun belakangan ini. Pejabat, aparat, pengamat, panutan rakyat, bahkan rakyat pun mulai akrab dengan istilah “harga mati” ini. Konteksnya terkait dengan komitmen kebangsaan, persatuan dan kesatuan, yakni " NKRI harga mati". Slogan ini sudah sering kita dengar, sudah membumi hingga anak- anak pun sudah akrab dengan slogan tersebut. Sehingga jika seorang guru TK atau SD misalnya, atau orangtua berkata “NKRI,” tidak jarang jawab si anak " harga mati". Mamang belum semuanya demikian, tetapi maknanya bahwa " NKRI" dan "harga mati" dua kalimat yang sudah menyatu, tidak terpisahkan dalam upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Setelah slogan sudah tersosialisasi dan membumi, yang perlu dilakukan kemudian adalah bagaimana mengisi perilaku "NKRI harga mati" dalam kehidupan sehari - hari, mulai dari perkataan, olah pikir hingga sikap perbuatan. Jangan sampai sering berteriak "NKRI harga mati", tetapi perilakunya kurang mencerminkan nilai- nilai yang terkandung dalam NKRI. Menyimpang dari hasrat dan amanat NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Sikap dan berperilaku " NKRI" hendaknya yang diutamakan, disosialisasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan sehari - hari. Dengan begitu sikap perbuatan yang berdasarkan "NKRI" pada saatnya, dengan sendirinya menyatu dalam pikiran, jiwa dan raga, akan menjadi " harga mati" bagi seluruh rakyat. Di sinilah perlunya keteladanan dari para pejabat, aparat, tokoh masyarakat bagaimana mencerminkan perilaku sesuai dengan nilai - nilai seperti diamamatkan Pancasila dan UUD 1945. Bukan malah “ngalor-ngidul” seperti orang “nyasar” atau sesat di jalan. Dengan begitu bicara NKRI bukan hanya terfokus kepada upaya memelihara dan memantapkan persatuan dan kesatuan. Tetapi lebih mendasar lagi adalah sama - sama mewujudkan sikap dan perilaku yang kian memantapkan NKRI. Kesatuan akan goyah, jika masing -masing individu cenderung bersikap primordial dan eksklusivisme. Makin jauh dari sikap kekeluargaan dan kegotong royongan. Tanpa mengenal tetangga dan lingkungan di mana berada. Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana mungkin pondasi persatuan makin kuat dan kokoh, jika tanpa adanya ikatan sosial dan kekerabatan serta kekeluargaan. Sementara ikatan kekeluargaan akan sulit teraplikasi, tanpa adanya harmonisasi komunikasi - silaturahmi. Sikap - sikap kekeluargaan dan kegotong royongan sebagai perekat persatuan inilah yang perlu ditanamkan secara terus menerus, konsisten dan berkesinambungan kepada generasi muda, generasi milenial dan digital sejak usia dini. Bukan sebatas teori, tetapi melalui keteladanan mutlak.(*)
Harga Mati
Rabu 26 Jun 2019, 22:14 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Sosok Pria Berinisial ANH Siapa? Identitasnya Ramai Dicari usai Terseret Kasus Dugaan Bom Molotov di DPR
Sabtu 13 Jun 2026, 18:13 WIB
JAKARTA RAYA
Sosok Pria di Pinggir Rooftop Gedung saat Aksi Mahasiswa UI Siapa? Video Viral Ini Jadi Sorotan
13 Jun 2026, 16:57 WIB
EKONOMI
BNI Raih 7 Penghargaan Internasional, Perkuat Layanan Transaction Banking
13 Jun 2026, 14:40 WIB
Nasional
Wajib Tahu! Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan
13 Jun 2026, 12:56 WIB
OTOMOTIF
Yamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Edition di Jakarta Fair 2026, Harga Tembus Rp29,9 Juta
13 Jun 2026, 12:00 WIB
OTOMOTIF
BYD M6 DM Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Harga Lengkap dan Keunggulannya
13 Jun 2026, 11:15 WIB
OTOMOTIF
IPONE Ramaikan BBQ Ride 2026 Bandung, Siapkan Merchandise Eksklusif untuk Pengunjung
13 Jun 2026, 10:30 WIB
OTOMOTIF
BBQ Ride 2026 Jadi Ajang Motul Dekat dengan Komunitas Custom Culture, Ada Promo Menarik
13 Jun 2026, 09:59 WIB
EKONOMI
Harga Emas Perhiasan 24K Kembali Menguat Hari Ini 13 Juni 2026, Dijual Mulai Rp2,2 Jutaan
13 Jun 2026, 06:41 WIB
JAKARTA RAYA
Ganjil Genap Puncak Bogor Hari Ini 13 Juni 2026 Ada Atau Tidak? Cek Jadwal One Way
13 Jun 2026, 06:36 WIB
OLAHRAGA
Talenta Muda Indonesia Tembus Semifinal Australian Open 2026, Bukti Pembinaan dan Mental Juara Kian Matang
12 Jun 2026, 23:23 WIB
Nasional
Apa Itu Co-Tutor Digital? Inovasi Pembelajaran ASN yang Membantu Belajar Lebih Efektif
12 Jun 2026, 23:04 WIB
TEKNO
Tecno Pova 8 5G Resmi Meluncur, Usung Baterai 8.000mAh dan Layar 144Hz untuk Pengalaman Gaming Maksimal
12 Jun 2026, 22:48 WIB
JAKARTA RAYA
Mahasiswa Turun ke Jalan, Pengamat Sebut Gerakan Masih jadi Kekuatan yang Diperhitungkan Pemerintah
12 Jun 2026, 22:30 WIB
TEKNO
Update Harga Infinix Juni 2026: GT, Hot, Smart, dan Note Series Lengkap
12 Jun 2026, 20:29 WIB
NEWS
Demo di Bundaran HI, Dishub DKI Alihkan Arus Lalu Lintas Sudirman-Semanggi
12 Jun 2026, 18:40 WIB