Oleh Harmoko KITA wajib berbangga. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki beragam budaya. Negeri kita sangat kaya warisan budaya, adat, tradisi, kesenian dan kearifan lokal. Hingga tahun 2017, setidaknya 7.241 karya budaya sudah tercatat dan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage) Indonesia. Karya budaya ini beragam bentuknya mulai dari seni pertunjukan, kerajinan tradisional, tradisi dan ekspresi lisan, adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan serta kebiasaan perilaku mengenai alam semesta. Sebut saja di bidang pertunjukan mulai dari Ondel – ondel, Jaipong, ronggeng, Debus Banten, Reog Ponorogo, ludruk, sintren, tari gambyong hingga Tor – Tor. Di bidang kerajinan tradisional mulai dari bentuk senjata badik, keris, rencong hingga kain songket. Kategori makanan seperti kerak telor, nasi uduk, lumpia Semarang dan rendang. Ada juga rumah gadang, koteka dan sekaten. Begitu beragam warisan budaya yang kita miliki menjadi potensi mengembangkan wisata dunia. Sayangnya dari ribuan warisan budaya (cultural heritage) yang kita miliki, baru 16 yang diakui secara resmi sebagai warisan dunia (world heritage) oleh Organisasi Budaya, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Ke- 16 warisan budaya Indonesia yang sudah mendapat sertifikasi sebagai warisan dunia, yaitu: 1. Tas tradisional Papua yang disebut Noken, 2. Taman Nasional Komodo, 3.Tari Saman, 4.Taman Nasional Ujung Kulon, 5. Seni angklung,6.Candi Borobudur di Magelang. 7.Pertunjukan wayang kulit, 8. Candi Prambanan, 9.Kain batik, 10.Situs manusia purba Sangiran, 11. Tari Bali, 12.Taman Nasional Lorentz, 13. Keris, 14.Hujan hutan tropis Sumatera , 15. Kebudayaan Bali dan 16.Seni pembuatan perahu Pinisi. Untuk yang nomor terakhir baru ditetapkan sebagai warisan dunia pada 7 Desember 2017. Kapal Pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar pendukung (tiga di ujung depan, dua di bagian depan, dan dua di bagian belakang). Dua layar utama dalam kapal Pinisi memiliki makna mendalam, yaitu didasarkan pada dua kalimat Syahadat. Sedangkan tujuh layar lainnya menggambarkan jumlah ayat dalam surat Al-fatihah, yang merupakan pembuka kitab suci Alquran. Kapal Pinisi diketahui telah ada sejak sebelum 1.500 Masehi. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke-14 Masehi, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, putera mahkota Kerajaan Luwu. Perlu disepakati bahwa penetapan warisan budaya kita sebagai “warisan dunia” oleh UNESCO bukanlah tujuan akhir. Melainkan hanya sarana mendukung pelestarian budaya nasional agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Tanpa adanya aksi nyata menjaga warisan dunia, sanksi bisa menimpa kita. Jangan sampai sertifikat dicabut kembali seperti pernah dilakukan UNESCO terhadap dua bekas situs, Lembah Dresden Elbe di Jerman dan Cagar Alam Oryx Arabia. Pencabutan akan berdampak buruk bagi negara yang bersangkutan. Tidak saja mendapat predikat sebagai negara yang tidak peduli terhadap kelestarian budaya bangsa, juga menurunnya tingkat kepercayaan dunia yang berakibat merosotnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Perlu lebih disadari bahwa negeri kita yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke adalah surga bagi pecinta dan pemerhati kebudayaan. Setiap tahun jutaan wisman berlibur menikmati keindahan alam dan pesona budaya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejak Januari - Juni tahun ini jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 7,53 juta atau naik 13,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang berjumlah 6,66 juta kunjungan. Terbuka peluang bagi Indonesia mendongkrak kunjungan wisman dengan menambah daftar warisan dunia. Sebut saja seni bela diri "pencak silat" sudah membuat takjub dunia. Lebih- lebih keberhasilan atlet kita dalam ajang Asian Games di Jakarta Agustus lalu, dapat menambah kekuatan memperkaya warisan dunia. Begitu juga "tempe" sebagai warisan budaya nasional yang sudah go internasional perlu diupayakan segera masuk daftar situs warisan dunia. Tidak perlu menunggu hingga tahun 2021 seperti ditargetkan. Hanya saja menambah daftar warisan dunia belumlah cukup, tanpa dibarengi langkah konkret menjaganya dari kepunahan. Di sisi lain, perubahan alam seperti gempa bumi, gunung meletus, cuaca ekstrem, dan faktor alam lainnya yang tidak bisa diprediksi, menjadi tantangan tersendiri merawat warisan budaya benda (Tangible Cultural Heritage) seperti candi,Taman Komodo dan Taman Nasional Lorentz Papua. Belum lagi perbuatan manusia yang dapat merusak lingkungan alam seperti illegal loging dan pengerukan liar sumber daya alam. Itulah sebabnya melestarikan warisan budaya perlu melibatkan semua elemen masyarakat. Selain negara wajib memfasilitasi agar eksistensi budaya bangsa kian mempesona dan mendunia sebagaimana amanat pasal 32 (1) UUD 1945. Masyarakat juga perlu proaktif. Jangan biarkan warisan budaya merana, bahkan sirna termakan usia. Siapa lagi, kalau bukan kita semua yang melanggengkan warisan leluhur. Di mana pun kita betada, di era generasi kapan pun, sebagai pewaris memiliki kewajiban merawatnya. Tentu kita tidak berkehendak warisan leluhur suatu saat hancur dan terkubur, akibat para pewaris lalai memaknai kewajibannya. ( *)
WARISAN BUDAYA
Kamis 15 Nov 2018, 07:13 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
Berita Terkait
NEWS
Tempe Akan Didaftarkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, Sandiaga Uno: Ingat Tempe, Ingat Indonesia!
Jumat 28 Mei 2021, 15:19 WIB
News Update
Sosok Pria Berinisial ANH Siapa? Identitasnya Ramai Dicari usai Terseret Kasus Dugaan Bom Molotov di DPR
Sabtu 13 Jun 2026, 18:13 WIB
JAKARTA RAYA
Sosok Pria di Pinggir Rooftop Gedung saat Aksi Mahasiswa UI Siapa? Video Viral Ini Jadi Sorotan
13 Jun 2026, 16:57 WIB
EKONOMI
BNI Raih 7 Penghargaan Internasional, Perkuat Layanan Transaction Banking
13 Jun 2026, 14:40 WIB
Nasional
Wajib Tahu! Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan
13 Jun 2026, 12:56 WIB
OTOMOTIF
Yamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Edition di Jakarta Fair 2026, Harga Tembus Rp29,9 Juta
13 Jun 2026, 12:00 WIB
OTOMOTIF
BYD M6 DM Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Harga Lengkap dan Keunggulannya
13 Jun 2026, 11:15 WIB
OTOMOTIF
IPONE Ramaikan BBQ Ride 2026 Bandung, Siapkan Merchandise Eksklusif untuk Pengunjung
13 Jun 2026, 10:30 WIB
OTOMOTIF
BBQ Ride 2026 Jadi Ajang Motul Dekat dengan Komunitas Custom Culture, Ada Promo Menarik
13 Jun 2026, 09:59 WIB
EKONOMI
Harga Emas Perhiasan 24K Kembali Menguat Hari Ini 13 Juni 2026, Dijual Mulai Rp2,2 Jutaan
13 Jun 2026, 06:41 WIB
JAKARTA RAYA
Ganjil Genap Puncak Bogor Hari Ini 13 Juni 2026 Ada Atau Tidak? Cek Jadwal One Way
13 Jun 2026, 06:36 WIB
OLAHRAGA
Talenta Muda Indonesia Tembus Semifinal Australian Open 2026, Bukti Pembinaan dan Mental Juara Kian Matang
12 Jun 2026, 23:23 WIB
Nasional
Apa Itu Co-Tutor Digital? Inovasi Pembelajaran ASN yang Membantu Belajar Lebih Efektif
12 Jun 2026, 23:04 WIB
TEKNO
Tecno Pova 8 5G Resmi Meluncur, Usung Baterai 8.000mAh dan Layar 144Hz untuk Pengalaman Gaming Maksimal
12 Jun 2026, 22:48 WIB
JAKARTA RAYA
Mahasiswa Turun ke Jalan, Pengamat Sebut Gerakan Masih jadi Kekuatan yang Diperhitungkan Pemerintah
12 Jun 2026, 22:30 WIB
TEKNO
Update Harga Infinix Juni 2026: GT, Hot, Smart, dan Note Series Lengkap
12 Jun 2026, 20:29 WIB
NEWS
Demo di Bundaran HI, Dishub DKI Alihkan Arus Lalu Lintas Sudirman-Semanggi
12 Jun 2026, 18:40 WIB