Oleh H. Harmoko SEJAK negeri ini berdiri, Indonesia diproklamirkan sebagai negara merdeka berdasarkan demokrasi. Rakyat memiliki kekuasaan penuh dalam menjalankan pemerintahan. Rakyat diberi hak yang sama dan setara dalam pengambilan keputusan. Itu rumusan demokrasi sesungguhnya yang semestinya dijalankan dalam sistem pemerintahan di negara yang menganut demokrasi. Menengok masa lalu, wajah demokrasi di Indonesia sendiri mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangam tingkat ekonomi, politik, ideologi sesaat atau temporer. Pada awal berdirinya Republik ini, demokrasi tidak bisa dijalankan secara baik karena masih dibayang-bayangi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Revolusi fisik masih terjadi hingga tahun 1950. Juga masih dominannya sentralisasi kekuasaan. Para ahli membagi perkembangan demokrasi di Indonesia menjadi 4 tahapan. 1. Demokrasi Parlementer yang dimulai sejak Tahun 1950 hingga1959. Boleh jadi, masa itu merupakan kejayaan demokrasi di Indonesia. Hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik. Kekuasaan parlemen diperlihatkan dengan mosi tidak percaya kepada pemerintah yang menyebabkan kabinet harus meletakkan jabatannya. 2. Demokrasi Terpimpin (1959 -1965). Pada era ini terjadi penggabungam sistem kepartaian dengan terbentuknya DPR GR. Kekuasaan terpusat di tangan presiden akibatnya kontrol legislatif kepada eksekutif menjadi lemah. 3. Demokrasi Pancasila. Banyak ahli menelaah demokrasi model ini yang sesungguhnya cocok diterapkan karena sesuai ideologi Pancasila. 4. Demokrasi era reformasi (1998- sekarang). Banyak yang menganalisis bahwa demokrasi pada era reformasi adalah demokrasi Pancasila yang disempurnakan dan mirip -mirip demokrasi parlementer. Tentu saja beda karakteristik dengan era sebelumnya. Perbedaan terletak pada pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) yang dilaksanakan secara langsung. Rekrutmen politik untuk menduduki jabatan publik lebih terbuka. Publik ikut dilibatkan, setidaknya dapat memberikan masukan dalam penyeleksian pejabat publik. Sebagian besar hak dasar bisa dijamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat. Perkembangan demokrasi sejak era reformasi begitu pesat dan melesat. Malah, sejumlah ahli menelisik demokrasi era ini cenderung kebablasan. Petinggi negeri ini pernah mengeluh demikian. Keluhan petinggi negeri perlu disikapi sebagai tantangan bagi kita semua, terutama bagi mereka yang ikut mengelola negara, terlibat dalam pengambilan keputusan. Tantangan dimaksud memagari perkembangan demokrasi agar tidak keluar dari ruhnya. Tidak melenceng dari pijakan awal berdirinya negeri ini sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, negara yang berkedaulatan dalam bingkai NKRI. Mencegah penyimpangan demokrasi menjadi semakin penting seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Dalam era digital, dengan kian beragamnya media sosial yang tanpa batasan ruang dan waktu, tanpa sekat sosial makin memberi ruang kepada setiap orang mengungkapkan pendapatnya kepada publik. Kondisi ini tentu ikut membentuk praktik demokrasi sehari- hari, termasuk dalam menyikapi kian memanasnya situasi politik jelang Pileg dan Pilpres. Tak dapat dipungkiri, pada era kini peluang menyatakan pendapat lebih terbuka, hak mengoreksi dan mengkritisi tidak dibatasi. Tapi satu hal yang patut disadari, di gerbong mana pun kita turut, di kubu siapa pun ikut, kita tidak boleh "main sikut" karena kita adalah satu saudara, satu bangsa Indonesia. Berarti di dalamnya ada etika, adat sopan santun, budaya dan norma agama. Bebas menyampaikan pendapat bukan tanpa batas. Terbuka peluang mengkritisi, tapi bukan lantas merinci dan mempertontonkan aib pribadi. Itulah rumusan demokrasi yang dikehendaki di era kini. Demokrasi yang tetap bersendikan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana petuah para pendiri negeri ini. (*)
DEMOKRASI DI ERA KINI
Kamis 20 Sep 2018, 05:22 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Sosok Pria Berinisial ANH Siapa? Identitasnya Ramai Dicari usai Terseret Kasus Dugaan Bom Molotov di DPR
Sabtu 13 Jun 2026, 18:13 WIB
JAKARTA RAYA
Sosok Pria di Pinggir Rooftop Gedung saat Aksi Mahasiswa UI Siapa? Video Viral Ini Jadi Sorotan
13 Jun 2026, 16:57 WIB
EKONOMI
BNI Raih 7 Penghargaan Internasional, Perkuat Layanan Transaction Banking
13 Jun 2026, 14:40 WIB
Nasional
Wajib Tahu! Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan
13 Jun 2026, 12:56 WIB
OTOMOTIF
Yamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Edition di Jakarta Fair 2026, Harga Tembus Rp29,9 Juta
13 Jun 2026, 12:00 WIB
OTOMOTIF
BYD M6 DM Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Harga Lengkap dan Keunggulannya
13 Jun 2026, 11:15 WIB
OTOMOTIF
IPONE Ramaikan BBQ Ride 2026 Bandung, Siapkan Merchandise Eksklusif untuk Pengunjung
13 Jun 2026, 10:30 WIB
OTOMOTIF
BBQ Ride 2026 Jadi Ajang Motul Dekat dengan Komunitas Custom Culture, Ada Promo Menarik
13 Jun 2026, 09:59 WIB
EKONOMI
Harga Emas Perhiasan 24K Kembali Menguat Hari Ini 13 Juni 2026, Dijual Mulai Rp2,2 Jutaan
13 Jun 2026, 06:41 WIB
JAKARTA RAYA
Ganjil Genap Puncak Bogor Hari Ini 13 Juni 2026 Ada Atau Tidak? Cek Jadwal One Way
13 Jun 2026, 06:36 WIB
OLAHRAGA
Talenta Muda Indonesia Tembus Semifinal Australian Open 2026, Bukti Pembinaan dan Mental Juara Kian Matang
12 Jun 2026, 23:23 WIB
Nasional
Apa Itu Co-Tutor Digital? Inovasi Pembelajaran ASN yang Membantu Belajar Lebih Efektif
12 Jun 2026, 23:04 WIB
TEKNO
Tecno Pova 8 5G Resmi Meluncur, Usung Baterai 8.000mAh dan Layar 144Hz untuk Pengalaman Gaming Maksimal
12 Jun 2026, 22:48 WIB
JAKARTA RAYA
Mahasiswa Turun ke Jalan, Pengamat Sebut Gerakan Masih jadi Kekuatan yang Diperhitungkan Pemerintah
12 Jun 2026, 22:30 WIB
TEKNO
Update Harga Infinix Juni 2026: GT, Hot, Smart, dan Note Series Lengkap
12 Jun 2026, 20:29 WIB
NEWS
Demo di Bundaran HI, Dishub DKI Alihkan Arus Lalu Lintas Sudirman-Semanggi
12 Jun 2026, 18:40 WIB