Oleh Harmoko SETIAP kali ada serangan terorisme, aksi-aksi intoleran di berbagai lokasi, kepala kita tertunduk. Kembali jatuh korban warga yang tak berdosa, bahkan dalam kasus bom di Surabaya, ada korban anak - anak baik di antara korban maupun pelaku. Bagaimana bisa di hari ini mereka tak bisa menjaga diri dari pengaruh radikalisme? Kita selalu bertanya seberapa kuat komitmen kebangsaan kita. Mengapa begitu rapuh. Mengapa ada kebencian terhadap warga yang berbeda iman, berbeda agama, sebegitu rupa. Bukankah dalam Islam yang dianut mayoritas mengenal semboyan yang jelas, “bagiku agamaku, bagimu agamamu”. Sekali lagi, kita sebagai warga negara Indonesia diuji atas komitmen kebhinekaan kita. Jelas sekali para pelaku tidak mewakili aspirasi elemen masyarakat beradab mana pun, karena hidup bersama dalam banyak suku, agama, ras, dan golongan adalah berkah Indonesia. Kita harus merawat komitmen kebhinekaan itu. Tanpa ada komitmen itu, sebagai bangsa, Indonesia akan terus berada dalam situasi kacau balau serta karut marut. Sejak mula negeri ini dibangun dengan perbedaan. Tokoh-tokoh pendiri bangsa tersebar dari Aceh hingga Papua. Dan, kita berkomitmen untuk menjaga kebersamaan, dengan panji Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai penaungnya. Pancasila bukan hanya falsafah hidup bangsa Indonesia yang disepakati, melainkan juga perekat persaudaraan kita. Bangsa ini juga tidak boleh membiarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tumbuh subur. Kita telah dikagumi dunia karena persatuan ini. Benua Eropa terpecah dalam berbagai negara. Demikian pula jazirah Timur Tengah terpecah dalam 18 negara. Namun, Nusantara kita, sungguh amat luas dan panjangnya. Semua bersatu dalam perbedaan. Dalam kebhinekaan. Sebagai berkah dari Ilahi. Mari kita terus merawat kebhinekaan dan perbedaan. Kita tidak harus menjadi musuh karena berbeda. Anda tak bisa meminta lahir sebagai Tionghoa, Jawa, Batak, Bali, atau Toraja. Itu adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa, kita hanya mensyukuri dan merawat dan memaksimalkan potensinya. SEJAK reformasi bergulir, tahun 1998, era pembatasan dan kungkungan pada masa Orde Baru berubah menjadi kebebasan – nyaris tiada batas. Nyaris semua ideologi dileluasakan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan ideologi yang terang terangan ingin mengganti ideologi Pancasila. Ancaman nyata kepada Indonesia kini bukan hanya dari luar, yang melancarkan peran proxy, melainkan dari dalam sendiri, ketika elemen- elemen bangsa menonjolkan egonya untuk berkuasa, dan menonjolkan golongannya, mengabaikan kebhinekaan yang sudah berpuluh tahun terjaga. Paham kebersamaan dan kebhinekaan dicoba disisihkan dengan ideologi yang menguasai dan menundukkan. Ketika dunia lewat teknologi informasi semakin banyak mengumpulkan informasi mendapat kebebasan mengolah, justru tumbuh ideologi kebalikannya, konservatifisme, puritanisme. Ini yang harus dipahami. Kita menolak penjajahan imperialisme baru dari Amerika dan Eropa, juga penjajahan budaya dari Timur Tengah, India dan China. Kita menerima kehadiran mereka untuk diolah dan dibentuk sebagai budaya sendiri. Sebagai Indonesia baru. Kita memiliki kebaya yang berbeda dengan baju kurung Malaysia, None Jakarta jelas sangat terpengaruh oleh budaya China, tapi bukan China. Baju Koko demikian pula, yang kini dikenakan sebagai identitas muslim, yang meneruskan Teluk Belanga di Tanah Melayu. Indonesia baru dalam bentukan berbagai suku, agama, ras, dan golongannya memiliki hak yang sama untuk hidup di Indonesia. Tidak ada kelompok mayoritas yang merasa lebih memiliki hak atau minoritas yang merasa diabaikan dalam lindungan asas Pancasila. Nilai kebangsaan Indonesia terletak pada Bhinneka Tunggal Ika dan bukan asas yang lain. ***
KOMITMEN KEBANGSAAN
Kamis 17 Mei 2018, 05:55 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Sosok Pria Berinisial ANH Siapa? Identitasnya Ramai Dicari usai Terseret Kasus Dugaan Bom Molotov di DPR
Sabtu 13 Jun 2026, 18:13 WIB
JAKARTA RAYA
Sosok Pria di Pinggir Rooftop Gedung saat Aksi Mahasiswa UI Siapa? Video Viral Ini Jadi Sorotan
13 Jun 2026, 16:57 WIB
EKONOMI
BNI Raih 7 Penghargaan Internasional, Perkuat Layanan Transaction Banking
13 Jun 2026, 14:40 WIB
Nasional
Wajib Tahu! Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan
13 Jun 2026, 12:56 WIB
OTOMOTIF
Yamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Edition di Jakarta Fair 2026, Harga Tembus Rp29,9 Juta
13 Jun 2026, 12:00 WIB
OTOMOTIF
BYD M6 DM Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Harga Lengkap dan Keunggulannya
13 Jun 2026, 11:15 WIB
OTOMOTIF
IPONE Ramaikan BBQ Ride 2026 Bandung, Siapkan Merchandise Eksklusif untuk Pengunjung
13 Jun 2026, 10:30 WIB
OTOMOTIF
BBQ Ride 2026 Jadi Ajang Motul Dekat dengan Komunitas Custom Culture, Ada Promo Menarik
13 Jun 2026, 09:59 WIB
EKONOMI
Harga Emas Perhiasan 24K Kembali Menguat Hari Ini 13 Juni 2026, Dijual Mulai Rp2,2 Jutaan
13 Jun 2026, 06:41 WIB
JAKARTA RAYA
Ganjil Genap Puncak Bogor Hari Ini 13 Juni 2026 Ada Atau Tidak? Cek Jadwal One Way
13 Jun 2026, 06:36 WIB
OLAHRAGA
Talenta Muda Indonesia Tembus Semifinal Australian Open 2026, Bukti Pembinaan dan Mental Juara Kian Matang
12 Jun 2026, 23:23 WIB
Nasional
Apa Itu Co-Tutor Digital? Inovasi Pembelajaran ASN yang Membantu Belajar Lebih Efektif
12 Jun 2026, 23:04 WIB
TEKNO
Tecno Pova 8 5G Resmi Meluncur, Usung Baterai 8.000mAh dan Layar 144Hz untuk Pengalaman Gaming Maksimal
12 Jun 2026, 22:48 WIB
JAKARTA RAYA
Mahasiswa Turun ke Jalan, Pengamat Sebut Gerakan Masih jadi Kekuatan yang Diperhitungkan Pemerintah
12 Jun 2026, 22:30 WIB
TEKNO
Update Harga Infinix Juni 2026: GT, Hot, Smart, dan Note Series Lengkap
12 Jun 2026, 20:29 WIB
NEWS
Demo di Bundaran HI, Dishub DKI Alihkan Arus Lalu Lintas Sudirman-Semanggi
12 Jun 2026, 18:40 WIB