BAGI Uchok Sky Khadafi menjadi aktivis sudah pilihan hidup. Itulah sebabnya, Uchok tak segan-segan mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai menyimpang. “Saya tidak bisa berdiam diri, jika ada yang menyimpang,” kata pria yang akrab dipanggil Uchok tersebut. Uchok memang dikenal sebagai sosok yang konsisten. Kritik pedasnya menjadi momok bagi para pengguna anggaran dan lainnya. Kritiknya membuat telinga mereka panas. Termasuk aparat pemerintah dan juga legislatif yang kena ‘semprot’ jika melanggar aturan penggunaan anggaran, baik Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Kritikannya juga bukan asal bunyi. Sebagai Direktur Eksekutif Center for Badget Analysis (CBA), dia selalu mengantongi data. Karenanya, Uchok berani mengorek-ngorek pengguna anggaran yang dinilainya tidak wajar dan berpotensi merugikan negara. Tidak saja lewat media, dalam berbagai diskusi pun Uchok tidak pernah absen mengkritiksi penyimpangan penggunaan anggaran. Seperti aktifis lainnya, Uchok kerapkali mendapat bully. Baginya, bully sudah menjadi sarapan sehari-hari.Banyak aparat yang kepanasan jika Uchok sudah mengeluarkan data-data temuannya. Takutkah Uchok bila ada pihak yang ingin membungkam dirinya agar tidak mengungkapkan kebenaran, termasuk diracun? Ia mengaku memiliki resep sendiri. "Untuk menghindarinya, saya jarang minum atau ngopi sendiri di tempat yang tidak dikenal. Untuk minum, saya membawa air mineral sendiri," paparnya. BACA BUKU Uchok memulai dunia pendidikan S1 di Universitas Jakarta, jurusan Ilmu politik. Kemudian mengambil S2 jurusan manajenen Lingkungan Universitas Negeri Jakarta. Bakatnya sebagai aktivis dimulai saat duduk di bangku kuliah. Waktu kuliah, aktif di berbagai forum diskusi mahasiswa. Selain itu membantu advokasi terhadap masyarakat yang tertindas. Karena itu, ia selalu rajin membaca buku. Seminggu harus dua buku selesai dibaca. “Biar ada bahan diskusi dengan teman teman aktivis lainnya,” ucapnya. Sebab dengan banyak membaca buku, Uchok mengaku bukan hanya melahirkan sikap kritis. Tapi juga mendorong tindakan yang ingin terus menerus membela rakyat. "Puncaknya ikut aktif melengserkan rezim Soeharto melalui gerakan-gerakan mahasiswa, dan menduduki Gedung DPR/MPR,” kenangnya. JADI BANCAKAN Setelah ikut melengserkan Presiden Soeharto, ia bekerja di LSM FITRA yang fokus dalam pemantauan anggaran negara. Saat itu, ia bersama dengan aktivis lainnya mendirikan LSM CBA (Center For Budget Analysis) yang khusus memantau anggaran negara dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "CBA didirikan karena pengelolaan anggaran oleh pejabat negara, baik di pusat atau daerah tidak pernah pro rakyat. “Alokasi anggaran masih untuk kepentingan legislatif dan eksekutif. Selain itu, anggaran negara juga masih jadi bancakan atau korupsi para pejabat negara," ujarnya. (rizal/bi)
Nasional
Uchok Sky Khadafi, Bikin Kuping Pejabat Panas
Sabtu 05 Mei 2018, 00:15 WIB