MEGAPOLITAN

Geliat Jembatan Genit, Sensasi Surga Dunia Lewat Senter

Minggu 01 Apr 2018, 20:35 WIB

JAKARTA –Saat menyusuri sepanjang jalan Pesing menuju Angke, Jakarta Barat, sebuah realitas menarik mudah ditemukan di kawasan ini, terutama bagi kaum lelaki. Karena di tempat inilah ada lokalisasi yang dikenal dengan sebutan "Jembatan Genit." Lokalisasi pinggir jalan ini memang sudah tak asing lagi bagi laki-laki hidung belang kelas bawah. Tarifnya terjangkau sesui kemampuan para lelaki yang tak tahan ketemu pasangannya dan hanya memiliki uang cekak namun tetap dapat sensasi surga dunia. Tarifnya di bawah Rp100 ribu bisa langsung memilih teman yang ingin dikencaninya. Bahkan kalau lagi beruntung, dapat harga discount atau banting harga. Ibaratnya toko, ada waktu-waktu tertentu digelar midnight sale, sehingga harga benar-benar dibanting. Biasanya, kalau sudah lewat pukul 24.00 pasaran mulai goyah, tarnsaksi bergerak cepat sehingga harga pun dipangkas habis. Bahkan kalau sudah lewat pukul 03.00, yang penting ada transaski, jangan kaget kalau Rp15 ribu pun ditarik. "Yang penting jadi duit mas," seloroh satu wanita. Meski kelas pinggir jalan, tapi stoknya variatif. Terutama dari soal usia, ada yang tua atau remaja, tapi jangan terlalu memilih casing. Tua atau pun muda mereka unjuk kebolehan merayu tamu yang datang, "Hayy sayang, ayo masuk sini, dijamin syahdu," rayu salah satu wanita yang meskipun remang-remang tetap terlihat menor. Tak ada kamar mewah dan kasur empuk. Yang ada bilik terpal disulap menjadi tempat peraduannnya. Tak ayal transaksi pun di depan umun dan semua tahu sama tahu soal kebutuhannya tempat ini. Meski hanya bertutup terpal, pun harus antre. Agar pesanan sesuai pilihan, saat hendak masuk bilik disiapkan senter bagi lelakinya untuk melihat wajah pesanan. Suasanan yang remang-remang, membuat sarana ini jadi pilihan terbaik. Seorang pekerja, sebut saja Lilis (24), wanita asal Bandung Jawa Barat, mengaku telah 5 tahun di tempat ini. Saat ditemui, awalnya enggan membagi kisahnya kepada Poskotanews.com. Tapi akhirnya ya bersedia membagi kisahnya. Ia mengaku rata-rata sehari dapat Rp300 ribu. Meski lumayan, sebenarnya ia tak ingin bekerja seperti di sini. Raut mukanya berubah saat ditanyakan anak-anaknya. Tiba-tiba ia diam bahkan tampak seperti menangis. "Saya jadi kangen mereka mas,"ungkapnya. Ia mengaku punya dua anak yang masih kecil-kecil. Suaminya pergi meninggalkan dia dan anaknya tanpa alasan jelas. "Mereka masih kecil tapi saya gak bisa ngurusin sendiri, sekarang mereka sama neneknya," ucapnya. Mereka tidak tahu pekerjaan ibunya di Jakarta sampai saat ini. Begitupun nenek dari anak-aanaknya tak pernah tahu apa yang dilakukannya di Jakarta. "Kalau mereka tahu, pasti malu mas dan saya juga merahasiakan," kata Lilis. Tidak hanya itu, dia takut anak-anaknya menjadi bahan olok-olokan temannya, begitupun orangtuanya bisa jadi cemoohan tetangga. Walaupun berkerja sebagai Wanita Tuna Susila, Lilis tak henti-hentinya memanjatkan doa kepada yang kuasa, agar anak-anaknya diberkahi. "Kalau denger Adzan Subuh, saya suka inget mereka, mudah-mudahan tuhan ngejaga mereka. Tapi apa Tuhan mau dengar doa orang seperti saya ya mas? " tanyanya..(cw4/us)

Tags:

admin@default.app

Reporter

admin@default.app

Editor