MEGAPOLITAN

Demi Meraih Juara, Ekor Murai Batu Harganya Jutaan Rupiah Harus Dipotong

Rabu 28 Mar 2018, 07:20 WIB

JAKARTA- Penampilan murai batu ekor panjang, memang tampak mewah sehingga banyak diminati kicau mania kalangan menengah ke atas. Namun di blantika kontes burung kicau, murai yang panjang ekornya di atas 25 cm hampir tidak ada yang mampu meraih podium tertinggi alias juara pertama. Peraih juara tiga besar biasanya didomimasi oleh ekor tanggung. Ada beberapa faktor yang membuat penampilan ekor panjang sering kalah oleh ekor tanggung saat diadu di lapang ruang terbuka. Pasalnya, saat berlomba di gantangan, burung yang bernama latin Copsychus malabaricus, ini sifatnya agak berbeda dibanding jenis burung lainnya. Murai batu merupakan burung bernaluri teritorial yang bersifat fighter saat melihat sesama jenisnya. Penampilan murai, baik dari segi suara maupun gerakan fisik dan ekor tampak sangat ngotot sehingga sangat menguras stamina. Agus Pramono pengurus Pecinta Murai Batu Jakarta (PMBJ) mengatakan burung yang tengah berlomba sangat menguras tenaga. "Selain mengeluarkan kicauan yang sangat keras juga memainkan ekor ke atas dan ke bawah dalam gerakan sangat cepat. Adapun arena lomba biasanya berada di ruang terbuka yang banyak angin sehingga membuat burung ekor panjang lebih cepat capeknya," ujar Agus di Kemayoran, Jakpus, Selasa (27/3/2018). Kalau burung sudah kecapekan, maka volume suara pun mengendur sehingga kurang mendapat perhatian dari juri. Sebaliknya, murai ekor tanggung yang panjangnya antara 17 dan 20 cm, biasanya staminanya lebih kuat. "Karena saat memainkan ekor tidak butuh banyak tenaga, sehingga dia mampu berkicau lantang dari awal sampai akhir lomba," kata Agus yang tercatat sebagai juri utama pada organisasi pecinta burung terbesar di negerin ini. "Apalagi, burung andalan sering diturunkan pemiliknya untuk mengikuti lomba sedikitnya tiga kelas dalam satu even, maka sangat dibutuhkan stamina prima," jelasnya. Biasanya saat berlomba di kelas pertama dan kedua, burung masih mampu tampil maksimal. Tapi memasuki kelas ketiga dan seterusnya, penampilannya mulai loyo, walaupun ada beberara burung berhasil meraih hattrick atau tiga kejuaraan pada satu even. Murai sejak dulu sampai kini masih menjadi rajanya lomba burung berkicau. Dalam even lomba tingkat regional maupun nasional jumlah pesertanya paling banyak dan saling berebut posisi dengan peserta love bird. Saking banyaknya peminat, untuk lomba jenis murai batu biasanya digelar sebanyak tiga kelas dengan jumlah peserta maksimal 70 gantangan tiap kelas. DIPOTONG Chandra Subrata, salah satu penggemar murai ekor panjang membenarkan bahwa ekor yang terlalu panjang sering jadi kendala dalam lomba. "Padahal, saya dari dulu senang murai yang ekornya di atas 25 cm karena penampilannya sangat anggun dan mewah. Tapi di saat berlomba jadi kendala, makanya saya dengan berat hati sering memotong ujung ekor menjadi sekitar 20 cm agar bisa tampil maksimal," ujar Chandra yang mengoleksi murai ekor panjang trah Medan, Bohorok, maupun Aceh. Kalau ekornya pendek di bawah 17 cm juga sulit meraih juara, karena secara fisik kurang menarik. Sebenarnya dia menyayangkan harus memotong ekor murai kesayangannya beberapa sentimeter. "Kalau kita berbicara murai yang panjang ekornya di atas 20 cm, maka perbedaan panjang tiap cm-nya bernilai jutaan rupiah. Makin panjang ekornya, makin mahal pula harganya. Tapi demi meraih juara, maka ekor terpaksa dipotong," ujar pedagang perhiasan logam mulia yang sering mengikuti lomba tingkat nasional di berbagai daerah di Indonesia. Baik Agus maupun Chandra menyatakan ada keyakinan dari para penggemar murai agar gacoannya tidak bertumbuh panjang bulu ekornya bisa dilakukan dengan cara penjemuran. "Burung ekor panjang, kalau habis mabung ekornya cenderung akan kembali panjang seperti sedia kala. Agar ekornya tumbuh tanggung, maka saat mabung di mana semua bulu ekor sudah habis alias bondol, burung sering dijemur dalam waktu relatif lama, maka ekornya nanti tidak akan bertumbuh panjang. Dengan ekor alami tentu lebih bagus daripada ekor dipotong," kata Agus. (joko)

Tags:

admin@default.app

Reporter

admin@default.app

Editor