SUDAH punya istri, kok berani-beraninya Subron, 41, mengaku duda pada gadis kenalan baru, Suyatmi, 21. Itu kan sama saja bermain api. Padahal setelah pacaran “mendalem”, eh tak mau tanggungjawab. Suyatmi yang menuntut dinikahi, malah dicekik hingga tewas di tengah sawah. Kini Subron jadi urusan polisi. Orangtua suka menasihati anak-anaknya, “Jangan bermain api ya, nanti hangus!” Dalam kehidupan nyata, banyak orang yang suka “bermain api” itu. Misalnya saja, di rumah sudah punya anak bini, ketika ketemu gadis cantik bisa-bisanya mengaku bujangan. Soalnya dia punya pamrih pada gadis itu, siapa tahu dari sekedar pergaulan biasa, lama-lama bisa…..digauli! Kelakuan Subron yang berasal dari Plantungan Kabupaten Kendal (Jateng) juga seperti itu. Bekerja di Jakarta tanpa membawa anak istrinya, menjadikan dia sering kesepian. Maklumlah, ibarat minuman, seorang istri itu tak ubahnya termos. Ketika suami “haus” tinggal buka tutupnya dan diminum gleg, gleg, gleg…….segarrr! Hilang dahaga, kembali perkasa. Sebulan sekali Subron baru bisa pulang ke Plantungan, untuk menemui “termos”-nya yang tak ditutup gabus itu. Itu jika keuangan memungkinkan. Jika sedang banyak keperluan, Subron hanya 3 bulan sekali pulang kampung. Paling celaka adalah, giliraan pas mengujungi istri, eh di rumah sedang kena “lampu merah”. Terpaksa Subron manyun tak berkesudahan. Di Ibukota Subron sering juga manyun, gara-gara jauh bini. Tiba-tiba dia kenal gadis pekerja tetangga kantornya. Penampilannya cukup menjanjikan. Tanpa pikir panjang saat kenalan dia mengaku saja sebagai duda. Dan kiat itu ternyata sangat berhasil. Sebab Suyatmi tak ada jarak berkenalan dengannya. Singkat cerita keduanya pun pacaran, bahkan sangat mendalem. Bukan juga istrinya, Suyatmi sudah dapat DP nol persen di sebuah hotel. Itu dilakukan hanya sekali, tapi berkali-kali, sehingga pada akhirnya Suyatmi pun menuntut untuk dinikahi. “Sebagai calon istrimu, aku dikenalkan dulu dong sama keluargamu di Kendal,” desak Suyatmi. Tapi Subron menunda-nunda terus, dengan alasan perlu persiapan dan harus dibentuk tim dulu. Kok kayak gubernur DKI saja! Suyatmi tak mau terima alasan tersebut, sehingga seminggu yang lalu Subron didesak untuk segera mengajaknya pulang ke Kendak, untuk diperkenalkan pada keluarga berikut jajarannya. Berat sekali Subron harus memenuhi permintaan kekasihnya itu. Tapi jalan juga keduanya, sehingga menjelang masuk kota Kendal, Subron pun mengatur siasat. Suyatmi diajak menginap dulu di hotel di Sukorejo. Esuk paginya keduanya jalan-jalan di persawahan, melihat indahnya pedesaan. Di tempat sepi keduanya ribut, sebab Suyatmi mendesak terus untuk segera ketemu keluarganya calon suami. Di sinilah Subron berterus terang, tak berani pulang bawa Suyatmi, karena di rumah sebetulnya ada anak istri. Suyatmi pun marah, sehingga dia memukul dan mencakar Subron. “Belum jadi politisi, kamu sudah suka bohong. Payah,” omel Suyatmi. Subron membela diri, menghentikan cakaran itu dengan mencekiknya. Eh, cara mencekiknya terlalu keras dan lama. Tentu saja Suyatmi tewas dan jadi urusan polisi. Saat diperiksa polisi Polres Kendal Subron mengaku bingung, bagaimana harus memperkenalkan Suyatmi kepada istrinya di rumah. Ya paling tidak, palang pintu mendarat ke kepala. (KR/Gunarso TS)
Nah Ini Dia
Sudah Berani Bermain Api Tapi Tidak Mau Terbakar
Jumat 29 Des 2017, 07:08 WIB