EKONOMI UMAT

Senin 18 Des 2017, 06:17 WIB

Oleh H. Harmoko INI catatan sejarah tentang bangkitnya kesadaran umat Islam di Indonesia dalam upaya membangun kekuatan ekonomi rakyat. Mengapa sejak zaman kolonial Belanda hingga kini kesadaran macam itu belum membuahkan hasil? Mari kita tengok situasi awal abad ke-20. Para pedagang kain di Pasar Laweyan, Solo, merasa ada persaingan tidak sehat antara pedagang pribumi dan pedagang keturunan Cina. Para pedagang, di bawah koordinasi K.H. Samanhudi, segera memberikan respons atas kebijakan ekonomi pemerintah kolonial yang memberi keistimewaan kepada orang-orang Cina. Didirikanlah Sarikat Dagang Islam, 1905. Tahun 1911, ketika terjadi Revolusi Sun Yat Sen di RRC, ada upaya-upaya strategis untuk menguasai perekonomian dan politik di Asia Pasifik. Tahun 1913 Sun Yat Sen sukses menarik perhatian orang-orang Cina di perantauan, dengan cara memberi banyak kontribusi keuangan, untuk keberhasilan gerakan di dalam negerinya. Di bawah kendali Partai Kuo Min Tang, RRC membuat kebijakan keras, antara lain melakukan teror kepada negara-negara yang didiami oleh Cina perantauan. Kuo Min Tang melakukan gerakan agresif, mendirikan organisasi-organisasi yang tersebar di seluruh Asia Tenggara. Di Batavia, organisasi yang mereka dirikan tahun 1990, Tiong Hoa Hwee Kwan serasa mendapat suntikan semangat. Organisasi ini didirikan agar orang Cina di Indonesia (dulu Hindia Belanda) bisa lebih mengenali identitasnya. Selain bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, mereka diwajibkan memperkuat perdagangan lewat kamar-kamar dagang di berbagai kota besar. Didukung keuangan yang dari tanah leluhur, mereka memonopoli pasar dalam banyak komoditas, termasuk kain batik di Solo. Kemajuan pesat orang-orang Cina dalam hal perdagangan kain dan sikap superioritas mereka terhadap kalangan pribumi ini, juga sikap kolonial Belanda yang banyak berpihak kepada pedagang keturunan Cina, kian menggelorakan semangat perlawanan. Tujuan utamanya adalah membangkitkan ekonomi umat. Tentu, perjuangan itu tidak mulus, dari waktu ke waktu, bahkan hingga kini. Belakangan ada arus ekonomi umat Islam, memang, tetapi bukan arus besar. Hanya arus kecil. Tetap saja umat Islam dijadikan sasaran pasar para kapitalis. Dalam beberapa dekade terakhir ada beberapa fakta menarik, di antaranya semakin meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah muslim di Indonesia. Kelas menengah muslim ini, sebagaimana terungkap pada Kongres Ekonomi Umat MUI bulan April lalu, diduga mencapai 147 juta jiwa. Mereka memiliki daya belanja yang hebat. Selain itu, kita bisa melihat adanya peningkatan rasa kebersamaan umat, terbukti dengan gerakan masif yang dikenal sebagai Aksi 212. Dari sana pula tercetus gagasan pentingnya membangun gerakan ekomoni umat Islam. Meski begitu, beberapa kelemahan masih harus diatasi, misalnya perlunya peningkatan kapasitas dan kualitas SDM, mengatasi mental pemalas, meningkatkan kepedulian, dan sebagainya. Kalau saja hal-hal seperti itu bisa segera diatasi, kita optimistis bahwa tantangan eksternal yang luar biasa dahsyatnya pun bisa teratasi. Dengan demikian, 217 juta umat muslim Indonesia yang selama ini nyaris tak berdaya dan hanya menjadi konsumen, tak saja bisa membangkitkan ekonomi umat, tetapi juga menggairahkan gerak laju perekonomian Indonesia. Insyaallah. ( * )


News Update