YERUSALEM

Kamis 14 Des 2017, 06:43 WIB

Oleh H. Harmoko KECEROBOHAN yang memalukan. Buku pelajaran kelas 6 SD menyebutkan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel. Sang penerbit telah meminta maaf. Katanya, materi itu didapatkan dari internet. Penjelasan itu justru semakin menunjukkan kecerobohan sang penerbit yang sangat memalukan. Bagaimana mungkin materi buku pelajaran untuk anak sekolah menggunakan referensi dari internet? Banyak orang tahu, materi yang bersumber dari internet sesunguhnya tidak ilmiah, kecuali e-book dan e-jurnal. Celakanya, tim penilai buku dari Puskurbuk (Pusat Kurikulum dan Perbukuan) Kemendikbud pun tidak memeriksanya dengan cermat, sehingga buku itu lolos ke peredaran. "Kami tidak mengetahui kalau data tersebut ternyata belum diakui secara sah oleh lembaga international. Untuk itu kami mohon maaf apabila sumber yang kami ambil dianggap keliru. Kami akan melakukan perbaikan atau revisi pada cetakan berikutnya. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya," kata manajemen Yudhistira melalui surat terbukanya kepada para kepala sekolah dan guru, yang ditandatangani oleh Kepala Penerbitannya, Dedi Hidayat, 12 Desember 2017. Meski sudah ada permintaan maaf seperti itu, dan Mendikbud Muhadjir Effendy telah pula minta agar buku itu segera direvisi, publik tetap curiga jangan-jangan ada faktor lain sehingga buku itu lolos ke sekolah-sekolah. Faktor lain seperti apa, misalnya? Kita tahu, masalah Yerusalem adalah masalah sensitif yang diperebutkan oleh Israel dan Palestina. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa Yerusalem sebagai ibu kota Israel menyulut aksi demonstrasi di berbagai negara. Pernyataan Trump tentu sebagai pernyataan sepihak, mengabaikan perjuangan rakyat Palestina selama ini. Tidak salah, ketika kemudian ada yang menyebutkan bahwa AS telah melegalkan penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Sikap AS ini juga berbenturan dengan konsensus internasional mengenai kota suci itu. Dalam konteks itulah, sungguh tidak masuk akal ketika pelajar di Indonesia dicekoki informasi sesat seolah Indonesia menyetujui adanya penjajahan oleh Israel atas tanah Palestina. Bukankah pada pembukaan UUD 1945 jelas-jelas dinyatakan bahwa kemerdekaan itu hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan? Penggalangan opini global terus dilakukan oleh egen-agen Israel untuk menyetujui bahwa Yerusalem merupakan ibu kota negaranya. Dalam konteks ini, tidak salah kalau ada yang curiga jangan-jangan agen Israel telah menyusup ke Kemendikbud. Kalau ini yang terjadi, tentu penulisan buku yang menyebutkan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel bukan lagi sebagai kecerobohan, melainkan ada yang sengaja memasukkannya. Oleh karena itu, merevisi buku saja tidaklah cukup. Harus ada pemeriksaan secara intensif siapa-siapa saja yang terlibat dalam penerbitan buku itu. Kalau ada indikasi masuknya intelijen asing, harus ada tindakan tegas dari pemerintah. Jangan sampai kasus seperti ini terulang. Mari tingkatkan kewaspadaan nasional demi Indonesia yang damai dan demi perdamaian dunia. ( * )


News Update