SANITASI

Senin 11 Des 2017, 05:45 WIB

Oleh H Harmoko INDONESIA menghadapi masalah besar dalam hal hal sanitasi. Sesuai dengan data Bank Dunia, negara kita berada pada urutan kedua setelah India dalam masalah ini. Buruknya masalah sanitasi ini ditandai dengan masih adanya 63 juta orang Indonesia membuang air besar sembarangan, 40 juta di antaranya tinggal di pedesaan. Kalau di dunia berada pada peringkat kedua, di ASEAN kita berada di peringkat pertama terburuk dalam masalah ini. Padahal, bukankah kita berkelimpahan pasokan air bersih? Mengapa hal itu bisa terjadi? Realitas seperti itu berbanding lurus dengan tingkat kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti pada data di Kementerian Kesehatan bahwa penyakit diare merupakan penyebab 31 persen kematian anak usia sebulan hingga anak usia setahun dan 25 persen anak usia satu sampai empat tahun setiap tahun. Tidak adakah usaha bangsa ini untuk mengatasi hal itu? Bukankah masyarakat kita memiliki konsep gotong royong dalam hal mengatasi masalah? Rasanya sulit bagi kita untuk menerima realitas buruk itu, mengingat negara kita berkelimpahan air bersih. Sangat mungkin, fakta seperti itu terjadi karena setidaknya ada tiga hal yang wajib kita perhatikan. Pertama, buruknya kesadaran masyarakat dalam kebersihan lingkungan. Kedua, masyarakat kita cenderung memilih lebih senang mengobati darupada mencegah penyakit. Ketiga, mahalnya biaya dalam membuat saluran sanitasi yang baik. Apa pun penyebabnya, kita harus secara serius menangani masalah ini. Itulah sebabnya, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, pemerintah diamanati untuk memenuhi target tercapainya 100% akses aman air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi layak yang kemudian menjadi Gerakan 100-0-100. Apa itu Gerakan 100-0-100? Program itu adalah mengupayakan agar akses air minum terpenuhi untuk masyarakat tercapai 100 persen, mengupayakan agar kawasan kumuh hilang hingga 0 persen, dan 100 persen sanitasi lingkungan terpenuhi dengan baik pada tahun 2019. Dengan target semacam itu, kita ingin mewujudkan lingkungan permukiman yang baik yang sehingga berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat. Hal ini, tentu, tak semata-mata masalah pembangunan infrastruktur, tetapi juga terkait dengan perilaku hidup sehat. Pemerintah membangun infrastruktur, masyarakat secara bersama-sama menumbuhkan kesadaran pentingnya berperilaku hidup sehat. Dengan demikian kita bisa terbebas dari predikat sebagai negara terbutuk dalam hal penanganan satinati. Insyaallah. ( * )


News Update