BOLEH jadi pengusaha gula, tapi jangan kena penyakit gula. Nah, saking perkasanya berkat terbebas dari diabetes mellitus, meski sudah punya dua istri juragan gula Kartawi, 47, masih punya WIL juga. Para istri pun habis kesabarannya, sehingga pas kencan dengan Ida, 35, Kartawi digerebek ramai-ramai di rumah sendiri. Penyakit gula atau diabetes mellitus adalah penyakit yang belum ada obatnya secara cespleng. Kaum lelaki yang terkena penyakit ini, bisa menderita dua kali. Sengsara gara-gara penyakit tersebut, juga menderita karena dampak penyakit itu menjadikan lelaki tak lagi menjadi pria sejati meski sudah ngerokok Gudang Garam. Maklum, diabetes mellitus menjadikan lelaki tak bisa coitus (hubungan intim) gara-gara terkena impotensi. Kartawi dari Perumahan Setia Budi Indah (Tasbi) I Jl. Setia Budi, Medan Sunggal (Sumut), meski pekerjaannya menjadi pengusaha gula, alhamdulillah tak terkena penyakit gula. Agaknya dia punya prinsip: onta itu meski seumur-umur di Mekah tapi tak pernah menjadi haji. Makanya, meski selalu dekat dengan gula yang manis, dia tak sampai menderita penyakit gula. Indikasinya, dia masih bisa melayani dua istrinya secara sempurna. Boleh dikata, Kartawi ini masih rosa-rosa macam Mbah Marijan dari Merapi. Soal keuangan, jelas dia sangat berkecukupan. Tapi itulah laki-laki, di manapun sama saja: asal mampu ngliwet kenthel sithik (rejeki berlebih), mulai deh investasi dalam bidang keperempuanan. Istri pertama masih cakep dan joss, nambah lagi satu istri lagi. Untung saja Ditjen Pajak belum memberlakukan pajak progresif pada peserta poligami. Andaikan mereka terkena juga, apa kata dunia? Karena usahanya semakin maju, Ny. Berta, 39, sebagai istri kedua sering mengawasi usahanya di Serdang Bedagai dan tinggal di rumah Kebun Sayur, Kec. Sei Bamban. Dia kembali ke pangkalan di Medan Sunggal paling-paling tiga hari sekali. Sebagai istri yang dimadu, Berta memang sudah biasa jarang ketemu suaminya. Maklum, Kartawi kan harus menggilir juga istri pertamanya. Ternyata Kartawi ini memang lelaki tak ada puasnya dalam urusan wedokan. Sudah ada dua istri, kini punya lagi perempuan baru yang statusnya belum disamakan, alias belum dinikah resmi. Paling konyol, meski status baru terdaftar, Ida sering pula dibawa pulang ke rumah Perum Tasbi. Di tempat ini pula tanpa risih dan jengah, Ida diperlakukan seperti istri-istrinya yang sah. Kartawi memang pintar bergaul dan menggauli. Kelakuan Kartawi yang super konyol, dia taki malu-malu saat membawa WIL-nya ke rumah diketahui pula oleh anak-anaknya. Ketika dia sedang “perlu” anak-anak cukup disuruh beli kerupuk ke tempat jauh, kalau perlu ke Parapat. Tapi namanya anak, meski bakal mengadu pada ibunya. “Mah, papa tadi bawa tante-tante ke rumah,” lapor salah satu anaknya lewat HP kepada ibunya di Serdang Bedagai. Mendengar laporan tersebut, tentu saja Berta mengkap-mengkap dadanya. Beberapa hari lalu Berta nekad pulang tengah malam. Kata informasi yang masuk, ”burung merpati” sejoli itu sudah masuk ke dalam sangkar dan mbekur-mbekur semangat sekali. Benar juga, saat penggerebegan itu dilakukan bersama warga, Kartawi – Ida memang tengah berhubungan intim bagaikan suami istri. Ibarat main bola, terpaksa pertandingan dihentikan meski belum ada peluit panjang. Kasus ini kini ditangani Polresta Medan. Berta sebagai istri kedua mengakui, akhir-akhir ini dia memang kurang mesra hubungannya dengan suami. Masalahnya ya itu tadi, suaminya belakangan suka bermain api. Maka seringnya tinggal di Serdang Bedagai juga sekaligus untuk menghindari konflik. Eh nggak tahunya malam dijadikan kesempatan. ”Sudah mulai tua, tapi nggak nyadar juga.” keluh Berta. Pengusaha gula, makin tua yang jadi......glali. (JPNN/Gunarso TS)
Nah Ini Dia
Pengusaha Gula Tak Sama Dengan Penyakit Gula
Senin 03 Feb 2014, 12:14 WIB