TAK ADA Koes Plus tanpa Murry. Penabuh drum yang mewarnai Koes Plus itu adalah “Plus” bagi Koes Bersaudara, band bentukan almarhum Tony Koeswoyo, bersama Yon dan Yok Koeswoyo - pelopor band bersaudara di Indonesia. Koes Plus adalah Koes Bersaudara Plus Murry.
Penabuh drum terbaik pada zamannya itu telah tiada. Dia meninggal pada usia 67 tahun, Sabtu Subuh (1/2) di rumahnya di Kompleks Kranggan Permai, Bekasi. Hingga saat ini, jenazah masih disemayamkan di rumah duka dan rencananya akan dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, selepas Dzuhur.
Kasmuri adalah nama aslinya. Publik penggemar musik pop antara 1970-1990-an mengenalnya sebagai atau Murry. Dia lahir di Jember, Jawa Timur, 19 Juni 1949. Murry menjadi pengganti Nomo Koeswoyo pada posisi penabuh drum, setelah Nomo menikah dan memutuskan untuk terjun ke bisnis.
Penampilan Murry terakhir di akhir Agustus 2013 lalu menjelang Konser Reuni Koes Plus (Koes Plus Live in Concert) bersama Yon dan Yok Koeswoyo di Solo dan Jakarta.
Tony Koeswoyo yang ingin full prfesional sebagai musisi tak menolelir Nomo yang kerap mangkir latihan karena sibuk usaha di luar. Belakangan Nomo kembali ke musik dan mendirikan No Koes alias Nomo Koeswoyo.
Pada tahun 1978, Nomow rujuk dengan saudaranya dan reuni Koes Bersaudara dengan lagu Kembali. Namun Koes Bersaudara versi reuni itu tak mampu menandingi Koes Plus.
Tak hanya menabuh drum - yang kemudian menjadi ciri Koes Plus - Murry mencipta beberapa lagu dan menyanyi. Yang cukup populer adalah Pelangi, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Hidup Tanpa Cinta, Semanis Rayuanmu, Kau Bina Hidup Baru, Ayah dan Ibu, Bujangan, Pak Tani, Mobil Tua, Cobaan Hidup, dan Cubit-cubitan (pop Melayu yang dipopulerkan juga oleh Elvy Sukaesih).
Bersama Koes Plus, Murry mencetak prestasi musik yang luar biasa. Antara Tahun 1970-1976 musik pop Indonesia dikuasai Koes Plus. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album "the best" termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman "master" yang kemudian diisi oleh Ernie Johan, saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy's. Pada masa jayanya, Koes Plus mengeluarkan 2 album dalam satu bulan.
Para pengamat dan penggemarnya mencatat, tahun 1975 mencetak 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi sebagian besarnya melegenda, dan enak didengar, hingga kini .
Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”. Koes Plus pun memperoleh tanda penghargaan melalui Legend Basf Award, tahun 1992.
Bersama Murry, kelompok Koes Plus merekam sebanyak 750 lagu dalam 72 album.
Puluhan album yang disukai penggemarnya, menjadi grup legendaris, dengan sekurang kurangnya 14 volume pop Indonesia, , 4 Pop Jawa, Pop Batak, 3 Pop Melayu, 2 Pop Kroncong, Natal, Qasidah, Album Anak-anak, akustik, Hard Beat, Pop Barat, dll.
Bens Leo, pengamat musik, yang mengikuti karier Murry sejak tahun 70an, mengakui bahwa Murry adalah sosok pemberi warna dalam band legendaris tersebut.
"Memberi warna Koes bersaudara ke Koes Plus itu Murry. Ada unsur rocknya drumnya. Dia juga orangnya nggak suka becanda, cuma menimpali," kata Bens saat dihubungi via telepon, Sabtu (1/2).
Di antara personil yang Kristiani, Murry tetap rajin menjalankan ibadah sebagai muslim yang taat. Murry meninggal saat isterinya, Yanyi Nurhayati, hendak berangkat Umroh . Selamat jalan Mas Murry, lagu-lagu dan karya musikmu tetap kudengar dan kunyanyikan. - dimas/d
Uncategorized
Tak Ada Koes Plus Tanpa Murry
Sabtu 01 Feb 2014, 13:17 WIB