Perputaran Uang di Kaki-5

Jual Beli Lapak & Uang Jago Capai Puluhan Juta Rupiah

Sabtu, 13 Maret 2010 - 17:48 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota) – Menjelang penilaian akhir Adipura Bangunpraja, sejumlah kawasan di Jakbar kini justru makin marak dengan keberadaan pedagang kaki-5. Contohnya pedagang di sepanjang jalur protocol Jl S.Parman hingga depan kampus Universitas Tarumanegara yang menyebabkan kawasan sekitar bertambah macet, kotor dan amburadul.

Sayangnya, penertiban pedagang kaki-5 yang rutin dilakukan Pemkot Jakbar acap kali terhadang campur tangan dari kalangan preman, ormas dan oknum aparat dengan menjadikan pedagang sebagai sapi perahan.

Tengok saja keberadaan pedagang kaki-5 mulai dari lampu merah Grogol hingga ke arah depan kampus Untar. Sedikitnya ada 150-an pedagang jalanan yang setiap hari mangkal sehingga membuat kawasan lalu lintas kian macet dan semrawut. Termasuk 50 kios liar di sekitar JB-17 (lokasi penampungan sementara) di sebelah kampus Untar.

“Saya memang salah jualan di badan jalan ini. Tapi mau nyewa kios di pasar atau mal, jelas tidak punya modal. Jadi sanggupnya dagang kelas jalanan saja,” keluh Kasim, pedagang di depan kampus Untar, Sabtu (13/3).

Agar bisa leluasa berjualan, ia mengaku wajib menyetor uang jago ke preman dan oknum setempat baik untuk mingguan juga bulanan. “Jumlahnya lumayan besar untuk pedagang sekelas saya, tapi mau bagaimana lagi. Daripada dagangan saya nanti diobrak-abrik dan diusir dari kawasan ini,” timpalnya prihatin.

Itupun sebelumnya Kasim maupun pedagang kaki-5 lainnya wajib membayar uang lapak yang dijual jutaan rupiah oleh komplotan preman CS termasuk ormas dan oknum aparat terkait.

Tak heran, perputaran uang dari jual beli lapak ditambah uang jago dari pedagang kaki-5 di kawasan Jl S . Parman ini setiap bulannya mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Kembali menjamurnya pedagang kaki-5 di Jl S.Parman termasuk di JPO Citraland ini membuat Camat Grogol Petamburan Tadjudin Widodo prihatin. Meski selama ini pihaknya sudah sering menertibkan pedagang tersebut. Tapi hanya tertib sesaat dan selanjutnya kembali berjualan seperti biasa. Kondisi serupa juga terjadi di JPO Citraland yang termasuk diburu pedagang kaki-5. Ia menuding kuat kondisi ini terjadi akibat campur tangan preman, ormas dan oknum aparat yang menjadi beking dari pedagang setempat.

“Akibatnya kami jadi dilematis tapi masalah ini sudah saya sampaikan ke Walikota Jakbar,” ucap Camat Grogol Petamburan.

Ia menambahkan, dalam satu penertiban pedagang kaki-5 di kawasan ini pernah diminta langsung oleh seorang perwira TNI agar sejumlah pedagang binaannya jangan disentuh. “Tentu saja permintaan tersebut saya tolak dan langsung saya laporkan ke Danramil sebagai atasan langsung perwira tersebut,” cetus Tadjudin Widodo.

(rachmi/sir)

Bookmark and Share
Komentar Terkini (Belum ada Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id